SEMARANG (Jatengdaily.com) – Walikota Semarang Hendrar Prihadi mengatakan, kenaikan APBD Kota Semarang signifikan setiap tahunnya, tapi tetap belum sebanyak kota – kota besar lainnya.
“Di sisi lain juga dengan tanggung jawab yang semakin besar, jumlah PNS dalam berberapa tahun terakhir terus berkurang. Maka ini dua tantangan besar pengembangan Kota Semarang dulu,” papar Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi.
Dikatakannya, untuk itu mulai tahun 2013 kita mulai membangun Semarang Smart City, supaya PNS kerjanya dapat lebih efektif dan efisien, serta masyarakat bisa ikut terlibat.
Hal tersebut disampaikan Hendi, sapaan akrab walikota saat menjadi pembicara dalam kegiatan The 2nd International Conference on Smart City Innovation (ICSCI) 2019 yang diselenggarakan di gedung ITC Universitas Diponegoro, kemarin.
Dalam paparannya, Hendi secara mendalam mengemukakan bahwa, Semarang Smart City menjadi jawaban atas dua tantangan besar pengembangan Kota Semarang dulu.
Menurutnya, melalui konsep Smart City, seluruh pekerjaan di Pemerintah Kota Semarang terhubung dalam sebuah sistem, sehingga rantai birokrasi yang lama bisa dipercepat, bahkan dipangkas.
“Tak hanya itu, kami juga tak lagi membangun berdasarkan asumsi, tetapi dengan data untuk tepat sasaran. Sehingga masalah yang ada dapat langsung ditangani, tidak berulang pekerjaannya,” jelas Hendi.
Hendi menggambarkan di tahun 2011 hampir separuh wilayah Kota Semarang jalannya rusak dan rawan banjir. Hal itu mengakibatkan investasi yang masuk ke Kota Semarang kurang dari Rp 1 triliun. Kondisi buruk itulah yang kemudian membuat tren laju pertumbuhan ekonomi Kota Semarang cenderung rendah.
“Alhamdulilah saat ini dengan pola kerja yang lebih baik, pertumbuhan ekonomi meningkat 6,52 persen, pertumbuhan investasi meningkat menjadi Rp 27,5 Triliun, penurunan angka kemiskinan yang dibarengi dengan penurunan luas wilayah kumuh, penurunan wilayah rawan banjir juga sejalan dengan peningkatan kondisi jalan baik,” kata Hendi dengan mengucap kata syukur, Alhamdulillah.
Dikatakannya, kesejahtetaan masyarakat juga meningkat jika menilik Index Pembangunan Manusia di kota Semarang yang semula 77,52 meningkat menjadi 82,72.
Hendi pun menekan jika hal tersebut menjadi bukti nyata implementasi smart city berupa sistem perencanaan, sistem pembangunan, sistem pelayanan, dan sistem pelaporan, membuahkan hasil yang baik bagi pembangunan di Kota Semarang.
Contohnya dengan pemanfaatan call center dan sistem Lapor Hendi yang mempermudah pelaporan kondisi di lapangan agar segera ditindaklanjuti, pemanfaatan situation room sebagai ruang monitor dan kontrol terpadu, pemanfaatan big data guna pendataan masyarakat miskin agar dapat ditangani secara tepat sasaran.Ugl–st
0



