By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Takmir Masjid Baiturrahman Raih Doktor di UNY
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Takmir Masjid Baiturrahman Raih Doktor di UNY

Last updated: 22 Oktober 2019 22:08 22:08
Jatengdaily.com
Published: 22 Oktober 2019 22:08
Share
KH Multazam Ahmad
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ketua Takmir Masjid Raya Baiturrahman Jawa Tengah, KH Multazam Ahmad, Rabu (23/10) siang ini akan mengikuti ujian terbuka Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dia akan mengajukan desertasi berjudul ‘’Budaya Religi Islam pada Satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas di Semarang’’ dengan promotor Prof Zamroni PhD dan Ko-Promotor Suwarno PhD.

Upacara ujian terbuka akan digelar di aula gedung Moh Amin Program Pascasarjana UNY Jalan Colombo no.1 Karangmalang, Yogyakarta. Multazamakan menghadapi lima penguji yaitu Profn Dr Margana M.Hum MA, Dr Edi Istiyono MSi, Prof Zamroni PhD, Suwarno PhD, Prof Dr Ajat Sudrajat MAg dan Prof Dr Sutrisna MAg. ‘’Mohon doa restu muga-muga semuanya lancar,’’ katanya, kemarin.

Untuk mencapai gelar doktor dalam Program Studi Penelitian dan Evaluasi Pendidikan (PEP), bagi Multazam merupakan anugerah luar biasa dan ditempuh dengan perjuangan yang sangat berat.

Alumni Ponpes Arwaniyah Kudus (1986) itu harus menjadi loper Koran untuk menyambung hidupnya. Dia bekerja menjadi loper sebuah koran nasional di Jl Dr Sutomo Semarang. ‘’’Sambil terus mengembangkan hobi membaca semangat belajar saya terus diasah,’’ katanya.

Pada 1991 dia meraih gelar S1 dari Fakultas Tarbiyah IAIN Semarang. Di kampus itu pula bapak dari empat anak itu meraih gelar S2. Multazam juga pernah menjadi Guru Ngaji TPQ Bintang Kecil Semarang, guru SMPN 25 Semarang dan guru SMAN 14 Semarang.

Meneliti Pendidikan
Butuh waktu delapan tahun untuk Multazam mendapatkan gelar doktor tersebut. Karya desertasinya merupakan hasil penelitian di beberapa SMA di Kota Semarang.

‘’Sisi afektif masa remaja peserta didik teramat lemah bahkan cenderung mengkhawatirkan pihak keluarga, sekolah, dan masyarakat. Padahal tujuan utama orang tua menyekolahkan anak adalah agar ia kelak menjadi pribadi yang berakhlak, di samping berilmu dan terampil. Untuk penyimpangan akhlaq tersebut, dilakukan melalui jalur pendidikan, terutama materi pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI),’’ katanya.

Mengutip pendapat Ungusari (2015), Multazam mengatakan, problem lain dialami dunia pendidikan khususnya pada level sekolah menengah, masih didapati sekitar 58,9% siswa subjek penelitiaan dalam kondisi sulit mengerjakan ujian masih melakukan ketidakjujuran.
Budaya religius Islam bertujuan untuk membentuk insan kamil (kesempurnaan insani) yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah dan kebahagiaan dunia dan akhirat.

‘’Budaya religius Islam juga diharapkan mampu membentuk kesadaran diri peserta didik sebagai hamba Allah sekaligus fungsinya sebagai khalifah di bumi,’’ katanya. Budaya religius Islam diyakini dapat dijadikan sebagai benteng kepribadian dan pembekalan hidup untuk andil dalam persaingan di kancah dunia. Kegagalan pendidikan budaya religius Islam di negara ini ditengarai dari minimnya jumlah jam pelajaran PAI, khususnya di SMA. st

You Might Also Like

Enam Kota Venue Piala Dunia U-20 Diminta Siapkan Sektor Wisata
Jelang Pergantian Tahun, Ditpolairud Polda Jateng Amankan Pelabuhan Tanjung Emas
Lulusan FH Unissula Dilepas, Dekan Sebut Alumni Cepat Terserap Kerja
Joko Mulyono Ungkapkan Kontrol Pengawasan Dana Desa Sangat Kuat
Santri Wajib Pahami Ilmu Agama, Tapi Tak Harus Jadi Kiai atau Da’i
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?