Foto: wing

TEGAL (Jatengdaily.com)- Abrasi kian menggerus wilayah pesisir Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah tepatnya di Pantai Muarareja, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal. Sebanyak 400 kepala keluarga (KK) terdampak dan tujuh diantaranya nyaris kehilangan tempat tinggal.

Abrasi terjadi sejak 2005 hingga 2019. Berdasarkan data yang dihimpun, abrasi terjadi pada tiga Rukun Tangga (RT) yakni RT 2, 3 dan 4 di RW 03, Kelurahan Muarareja. Air laut kian mengikis bibir pantai sejak 2005 silam hingga 2019.

Menurut Ketua RW 03, Nurochim (55), abrasi biasanya terjadi pada bulan lima hingga tujuh, tepatnya pada saat memasuki musim angin timur. Air laut dengan cepat merayap ke pemukiman warga pada pagi hari hingga siang.

“Ketinggiannya bervariasi, mulai dari 30 sentimeter hingga satu meter. Jika dihitung, kami memperkirakan surut dalam waktu 5-6 jam,” kata Nurochim, Jumat (6/3) siang.

Ditambahkan dia, kondisi yang semakin memprihatinkan tersebut sudah dilaporkan ke sejumlah pihak. Mulai dari tingkat kelurahan, musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) tingkat kecamatan hingga kota. Termasuk pula pada saat masa reses DPRD setempat. Namun belum ada tindakan nyata.

Namun, para warga menyayangkan, belum ada tindakan nyata dan kepastian untuk mengatasi maupun mengantisipasi dari pemerintah.

“Sejak dulu hanya ditinjau saja, tetapi tidak ada tindakan. Bahkan, dua hari lalu juga ada yang ke sini. Entah dari instansi atau kementerian mana,” keluhnya.

Sedikitnya 3,20 hektare tambak ikan hilang. Ditambahkan dia, jauh sebelumnya, 20 hektare tambak ikan hilang diterjang abrasi. Tambak warga dengan cepat berubah menjadi lautan.

Kini, sambung Nurochim, ada sekitar tujuh rumah warga dan 10 tambak udang vaname yang terancam hilang. Untuk mengantisipasi, secara swadaya warga membuat tanggul menggunakan ban bekas di bibir pantai.

Warga meminta dibuatkan sabuk pantai. Sementara, warga RT 02/ RW 03, Sairah (56) mengatakan, keluarganya terpaksa meninggalkan rumah yang telah hancur diterjang rob dan pindah ke lokasi yang jauh lebih aman.

Menurutnya, kondisi yang memprihatinkan saat ini akan sedikit berkurang jika pemerintah bisa membuatkan sabuk pantai di sepanjang bibir pantai Muarareja yang membentang sekitar tiga kilometer.

Senada disampaikan warga lainnya, Darpinah (60) yang menginginkan adanya perbaikan pemecah gelombang yang saat ini hanya tersisa separuh.

“Dulu ada sekitar 25 pemecah ggelomban yang memanjang ke laut. Tetapi sekarang sudah habis tinggal setengah saja,” pungkasnya. Wing-she