Loading ...

Apa Kabar Neraca Perdagangan Jawa Tengah?

0
Hayu Wuranti

Oleh : Hayu Wuranti
Statistisi Ahli Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah

VIRUS Corona (COVID-19) tiga bulan terakhir ini menjadi topik permasalahan di dunia internasional, sehingga sangat berpengaruh terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia, baik dari sisi perdagangan, investasi dan pariwisata.

Adanya virus Corona yang terjadi di China menyebabkan perdagangan China memburuk. Hal tersebut berpengaruh pada perdagangan dunia termasuk di Indonesia. Penurunan permintaan bahan mentah dari China seperti batu bara dan kelapa sawit akan mengganggu sektor ekspor di Indonesia yang dapat menyebabkan penurunan harga komoditas dan barang tambang.

China merupakan negara eksportir terbesar dunia. Indonesia sering melakukan kegiatan impor dari China dan China merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Dalam kondisi seperti saat ini, secara otomatis, Negeri Tirai Bambu tersebut akan mengurangi jumlah permintaannya, sehingga beberapa produk ekspor Indonesia ke China juga berpotensi melemah.

Terlebih lagi secara global banyak pabrik di China yang mengurangi produksi karena penduduk tidak bisa bekerja akibat Virus COVID-19 ini. Selain itu, penyebaran virus Corona juga mengakibatkan penurunan produksi di China, padahal China menjadi pusat produksi barang dunia.

Apabila China mengalami penurunan produksi maka global supply chain akan terganggu dan dapat mengganggu proses produksi yang membutuhkan bahan baku dari China. Indonesia juga sangat bergantung dengan bahan baku dari China terutama bahan baku plastik, bahan baku tekstil, part elektronik, komputer dan furnitur.

Neraca Perdagangan Jawa Tengah

Bagi perekonomian regional Jawa Tengah, China memiliki peran yang besar dalam perdagangan internasional Jawa Tengah. China merupakan salah satu negara utama tujuan ekspor Jawa Tengah dan merupakan pangsa ekspor terbesar ketiga setelah Amerika Serikat dan Jepang.

Dalam data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah, nilai ekspor Jawa Tengah ke China selama tahun 2019 adalah sekitar US$ 724 juta atau sekitar 8,35 persen dari total nilai ekspor Jawa Tengah dan meningkat 7,89 persen dibanding tahun sebelumnya.

Sedangkan dari sisi impor, Jawa Tengah mengimpor barang-barang paling banyak dari China, dengan nilai impor selama tahun 2019 sebanyak US$ 4.108 juta atau sekitar 32,69 persen dari total nilai impor Jawa Tengah dan merupakan pemasok barang impor terbesar.

Meluasnya wabah covid-19 berpengaruh pula terhadap neraca perdagangan Jawa Tengah. Nilai neraca perdagangan Jawa Tengah Februari 2020 mengalami defisit sebesar US$ 223,13 juta yang dipicu oleh defisit sektor migas sebesar US$ 332,78 juta, namun sebaliknya neraca nonmigas justru mengalami surplus sebesar US$ 109,65 juta.

Dari sisi ekspor, ekspor Jawa Tengah pada Februari 2020 turun 4,80 persen dibanding Januari 2020, yaitu dari US$ 759,59 juta menjadi US$ 723,15 juta. Penurunan ekspor Februari 2020 dibanding Januari 2020 disebabkan oleh turunnya ekspor migas sebesar 40,45 persen yaitu dari US$ 41,15 juta menjadi US$ 24,50 juta begitu pula ekspor nonmigas juga mengalami penurunan, yaitu sebesar 2,75 persen dari US$ 718,44 juta pada bulan Januari 2020 menjadi US$ 698,65 juta pada bulan Februari 2020.

Ekspor nonmigas meskipun meningkat, namun ternyata mengalami penurunan ke beberapa negara tujuan utama, dan yang terbesar adalah China yang menurun US$ 20,08 juta atau turun sekitar 29,53 persen.

Dari sisi impor, nilai impor Jawa Tengah Februari 2020 mencapai US$ 946,29 juta atau turun US$ 127,87 juta (11,90 persen) dibanding Januari 2020. Hal tersebut disebabkan oleh turunnya nilai impor nonmigas sebesar US$ 149,82 juta (20,28 persen). Namun impor migas justru mengalami peningkatan sebesar US$ 21,95 juta (6,55 persen). Peningkatan impor migas dipicu oleh naiknya nilai impor minyak mentah sebesar US$ 37,59 juta atau 12,81 persen.

Sebaliknya untuk impor hasil minyak mengalami penurunan sebesar US$ 15,64 juta (37,26 persen). Menurunnya total impor nonmigas Jawa Tengah, dipengaruhi oleh turunnya nilai impor beberapa negara utama dan yang terbesar adalah China yang menurun hingga 70,07 persen atau sekitar US$ 274,19 juta.

Di lain sisi, virus Corona tidak hanya berdampak negatif, namun juga dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian Jawa Tengah. Salah satunya adalah terbukanya peluang pasar ekspor dan impor baru selain China,misalnya ke negara-negara ASEAN dan Uni Eropa. Pada Februari 2020, nilai ekspor Jawa Tengah ke China mengalami penurunan, namun ternyata nilai ekspor ke Tahiland dan negara Uni Eropa menunjukkan peningkatan.

Sedangkan dari sisi impor, nilai impor mengalami kenaikan pasokan impor terjadi dari negara Jepang , Thailand, Italia, Jerman dan Malaysia. Selain itu, peluang memperkuat ekonomi dalam negeri juga dapat terlaksana karena pemerintah akan lebih memprioritaskan dan memperkuat daya beli dalam negeri daripada menarik keuntungan dari luar negeri. Kondisi ini juga dapat dimanfaatkan sebagai koreksi agar perekonomian regional bisa stabil meskipun perekonomian global sedang terguncang. Jatengdaily.com/yds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *