By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Atasi Penurunan Tanah, Pemkot Giatkan Penanaman Mangrove
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Atasi Penurunan Tanah, Pemkot Giatkan Penanaman Mangrove

Last updated: 5 Februari 2020 13:06 13:06
Jatengdaily.com
Published: 5 Februari 2020 13:06
Share
Hendrar Prihadi. Foto: jdc
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)-  Walikota Semarang Hendrar Prihadi memberikan respon hasil penelitian yang dilakukan beberapa lembaga praktisi terkait Kawasan Kota Semarang yang terjadi penurunan tanah sebesar  10 cm sampai 15 cm pertahun.

“Salah satunya, kami sudah mencabut aturan yang tertuang dalam Perda Nomor 2 Tahun 2013 tentang pengelolaan air tanah,” kata Hendi saat dikonfirmasi kepada wartawan, Selasa, (4/2/2020).

Ia mengatakan pencabutan Perda tersebut sudah diakukan sejak dua tahun terakhir.

“Untuk Perda tentang pengelolaan air tanah sudah dicabut tahun 2018 dikarenakan kota sudah tidak berwenang. Saat ini kewenangan ada di pemerintah provinsi,” jelasnya.

Namun, hal kasus ini pemerintah kota sudah melakukan penanaman mangrove. Lokasi yang saat ini sedang difokuskan di kawasan pesisir untuk mengatasi dampak abrasi pantai.

“Kita melanjutkan penanaman mangrove di pesisir seperti di daerah Tapak Kecamatan Tugu, Mangunharjo, Mangkang,” katanya.

Menurut Hendi, hal ini dilakukan agar menekankan terjadi penurunan air tanah agar tidak berdampak kerugian yang besar bagi masyarakat Semarang. Khususnya di daerah rawan seperti Semarang bagian utara dan timur.

Sementara itu, Amrta Institute Nila Ardhianie, mengapreasiasi langkah yang sudah dilakukan Pemkot Semarang dan Pemprov Jawa Tengah yang sudah berupaya mengurangi ekstraksi air tanah berlebihan.

“Namun, kami berharap langkah ini sebaiknya ditunjang dengan melakukan percepatan program pengalihan air tanah ke air permukaan. PDAM harus dibantu agar dapat lebih optimal memanfaatkan air permukaan,” kata Nila, Rabu, (5/2/2020).

Sebelumnya, hasil penelitian yang dilakukan oleh beberapa lembaga praktisi diantaranya Konsorsium GroundUp Universitas Gadjah Mada, UNESCO IHE Delft, University of Amsterdam, Amrta Institute dan Kruha menunjukkan, terdapat beberapa faktor penurunan tanah di Kota Semarang.

Diantaranya, terjadi ekstraksi air tanah yang berlebihan di Kota Semarang. Dimana dalam pengambilan volume air cukup banyak sehingga hal ini dapat menyebabkan berkurangnya volume air pada tanah pada suatu lapisan tanah. Selain itu, terdapat bangunan-bangunan yang besar di Kawasan Pesisir Utara Kota Semarang. Ody-she

You Might Also Like

Pabrik Jagung di Jateng Didorong Tingkatkan Produksi dan Penuhi Kebutuhan Nasional
Pemain PSIS Diharapkan Siap Ikuti Kompetisi dalam Keterbatasan
Jelang Nataru, Warga Diminta Perketat Prokes
Penyebab Tujuh Orang Meninggal Kecelakaan Bus Rosalia Indah, Diduga Sopir Bus Mengantuk
Antisipasi Banjir, Mbak Ita Bersama Warga Bersih-bersih Banjir Kanal Barat
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?