Bentengi Corona, Shalat Jumat Diganti Shalat Zuhur

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, Wagub Taj Yasin Maimoen dan Ketua Umum MUI KH Ahmad Darodji memimpin Rakor Pencegahan dan Antisipasi Penyebaran Virus Korona di ruang rapat gubernur Jalan Pahlawan Semarang, Selasa (17/3). Foto:ist

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi mengatakan, di daerah yang potensi penularan virus Corona (Covid-19) tinggi dan tidak terkendali, umat Islam bisa meninggalkan shalat Jumat dan mengganti shalat zuhur di rumah masing-masing.

‘’Untuk di Jawa Tengah, kondisinya masih terkendali dan shalat Jumat masih bisa dilaksanakan dengan berbagai catatan dan protokol khusus secara ketat agar terhindar dari musibah Corona yang lebih luas,’’ katanya kemarin.

Dia mengatakan hal itu usai Rapat Koordinasi Pencegahan dan Antisipasi Penyebaran Virus corona yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, di ruang rapat gubernur.

Para pimpinan Ormas Islam dan Pondok Pesantren masing-masing menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi dalam menyikapi wabah virus Korona. Tiga pengurus masjid yaitu Sekretaris MAJT KH Muhyidin, Ketua Yayasan Masjid Agung Semarang (MAS) Kauman KH Khammad Maksum dan Dr Multazam Ahmad dari Masjid Raya Baiturrahman melaporkan sudah melaksanakan antisipasi sesuai protokol yang disampaikan pemerintah.

Misalnya menyemprot masjid dengan disinfektan, menggulung karpet, menyiapkan hand sanitaizer , membaca doa-doa tibbil qulub, daf’ul bala’, istighotsah, mujahadah, qunut nazilah dan lain-lain.

Wagub Jateng Taj Yasin Maimoen memperkuat apa yang disampaikan Kiai Darodji tentang rukhsah atau keringanan meninggalkan shalat Jumat dalam keadaan dlorurat atau darurat. ‘’Jangankan karena wabah virus yang sudah menyebar kemana-mana dan tidak terlihat oleh kacamata biasa, hujan yang berkepanjangan dan dingin yang menusuk tulang saja bisa membuat orang boleh menggantinya dengan shalat zuhur,’’ kata Gus Yasin.

 Shalat Jumat

Secara khusus MUI Jateng menerbitkan surat pedoman pelaksanaan shalat Jumat dalam situasi darurat wabah Korona. Surat yang ditandatangani Ketua Umum KH Ahmad Darodji dan Sekretaris Umum KH Muhyiddin

Dalam surat tersebut diimbau masjid tidak memasang  karpet. Seluruh karpet yang ada digulung dan lantai dibersihkan, menyediakan sabun untuk mencuci tangan di tempat wudlu, dan menyediakan pembersih tangan handsanitizer.

‘’Untuk menjaga dan menghindari kemungkinan penularan dan penyebaran covid-19, maka masjid dalam melaksanakan shalat Jumat mengatur untuk keperluan wudlu, setiap jamaah mencuci tangan dengan sabun. Sebelum memasuki ruang masjid untuk shalat Jumat, setiap jamaah membersihkan tangan dengan handsanitizer yang disediakan pihak masjid,’’ kata Kiai Darodji.

Diusahakan agar sebelum memasuki ruang masjid, setiap jamaah dilakukan pemeriksaan thermogun (alat pengukur suhu panas tubuh) oleh petugas yang ditunjuk. Jamaah yang merasa dalam kondisi sakit atau kurang sehat hendaknya tidak menunaikan shalat Jumat di masjid, tetapi shalat zuhur biasa di rumah.

‘’Setiap jamaah shalat Jumat sebaiknya tidak bersalaman (mushofahah) seperti biasanya, dan menyusun barisan shofnya secara renggang, tidak rapat. Setiap jamaah sebaiknya membawa sajadah/ alas shalat yang bersih dari rumah masing-masing,’’ katanya.

Sebelum shalat Jumat dilaksanakan  agar istighotsah singkat membaca doa-doa tolak bala sambil menunggu masuk waktu khotbah. Setelah shalat Jumat, seluruh jamaah langsung meninggalkan masjid, menghindari kerumunan orang banyak.

Kepada pengurus takmir masjid selama dua minggu ini diimbau menyampaikan khotbah Jumat dengan tema tentang Virus Korona. Imam membaca qunut zazilah pada rakaat akhir shalat Jumat dan doa sesudah shalat Jumat disisipi doa daf’ul bala atau tolak bala.

Ketua PW Muhammadiyah Jateng Dr Tafsir mengatakan, pihaknya menyiapkan tujuh rumah sakit yang siap menjadi rujukan atau isolasi penderita Korona. ‘’Di Jateng ada 40 RS tetapi yang khusus disiapkan untuk penanganan Korona ada tujuh lengkap dengan dokter perawat dan obat-obatanya. Se-Indonesia ada 20 Rumah sakit yang siap menampung pasien. Pengobatan gratis karena sudah dicover oleh Lazizmu yang ada di rumah sakit setempat,’’ katanya.

Sedang untuk kalangan pondok pesantren, Ir KH Khammad Maksum dari PP Raudlatul Quran Kauman Semarang mengatakan sudah mengikuti protokol pemerintah dengan melakukan isolasi santri. Selama dua minggu atau 14 hari, santri diminta tidak meninggalkan pondok pesantren. Sementara itu, keluarga dan wali santri diminta tidak menjenguk atau menyambangi santri selama dua minggu itu. Santri yang sudah telanjur pulang ke kampung halaman diminta tetap berada di rumah sampai karantina selesai. Orang tua yang telanjur mengunjungi pondok harus dipastikan dalam keadaan sehat, menggunakan masker dan menggunakan handsanitizer. Gubernur Ganjar Pranowo menyampaikan terima kasih partisipasi masyarakat dalam menghadapi wabah Korona. Dia merasa yakin kalau semua warga saling gotongroyong membantu, wabah tersebut segera hilang. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here