Da’i /Muballigh: Sertifikasi Vs Standardisasi?


Oleh Ahmad Rofiq

KETIKA pejabat yang diberi otoritas mengurusi urusan agama di negeri ini, melontarkan statemen bahwa da’i/muballigh harus disertifikasi oleh “kementerian”-nya, masyarakat merespon dengan berbagai tanggapan. Ada yang mendukung, ada yang menolak, dan ada yang tidak menolak dan tidak pula menerima, alias abstain.

Kalau “alasan” atau “pasal” diperlukannya sertifikasi itu soal kompetensi keilmuan agama, baik Al-Qur’an, yang meliputi ilmu tajwid (membaguskan bacaan/tilawah), Bahasa Arab, ilmu tafsir, balaghah, badi’, bayan, dan ilmu hadits/Al-Sunnah, yang meliputi ilmu dirayah dan riwayah, dan ilmu alat yang lainnya, seharusnya atau idealnya perlu ada standardisasi. Akan tetapi, jika alasan dari urgensi sertifikasi atau standardisasi da’i/muballigh itu, karena alasan “radikalisme” apalagi disebutkan dari contoh anak-anak muda yang hafal Al-Qur’an, dan penampilannya menarik (good looking), apalagi jika cenderung menjadi kesimpulan, tentu ini sangat memprihatinkan.

Karena beberapa tahun terakhir ini, sebagian besar masyarakat juga dilanda “keresahan” dan “kegelisahan” atas munculnya fenomena maraknya “da’i/muballigh” yang dengan kasat mata – mohon maaf tanpa bermaksud meremehkan apalagi merendahkan mereka yang sangat bersemangat mengaji dan mengajari orang lain mengaji — membaca Al-Qur’an saja, kurang atau bahkan tidak fasih, bacaan panjang pendeknya, makhraj, dan tajwidnya, seperti tidak jelasnya membedakan bacaan idhhar – halqy atau syafawi – idgham – bi ghunnah atau bila ghunnah –, ikhfa’ haqiqy atau syafawy, bacaan Panjang atau mad – thabi’i, wajib muttashil atau jaiz munfasil, dan lain sebaginya, akan tetapi dengan begitu “pede”-nya mengajarkan, melafadhkan, untuk ditirukan, seolah bacaannya sudah benar. Celakanya, para “murid” atau “follower”-nya, mengikutinya. Bahkan ada pengikutnya, yang terdengar bacaannya benar, katimbang yang mengajarkannya.

DI sisi lain, ada muballigh/da’i, yang dalam hampir setiap dakwah/tablighnya, isinya menghujat orang lain, mencaci maki, dan menjelek-jelekkan orang atau bahkan ormas Islam lainnya. Bagi orang yang boleh jadi “kapasitas keilmuannya” memang sudah “alim, bahkan ‘allamah” dan dikenal sebagai pengamal, penghamba, dan ‘arif biLlah (mengenal sangat baik pada Allah), tetapi tidak segan-segal “mengumbar” pernyataan untuk menghujat dan menghantam orang atau golongan lain, tentu ini sangat disayangkan.

Karena idealnya, semua orang yang menyampaikan ajaran Islam, sebagai ajaran yang rahmatn lil ‘alamin, yang ingin mengajak ke dalam kebaikan, kedamaian, keselamatan, kebahagiaan, dan ketenangan (thuma’ninah) dunia dan akhirat, maka tentu cara-cara menghina, menghasut, menjelekkan kepada orang lain, tentu tidak sejalan dengan contoh dan teladan yang ditunjukkan oleh Rasulullah saw.

Beliau memberikan rambu sebagaimana dijelaskan QS. An-Nahl (16): 125 “Setulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajarna yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Idealnya, seorang da’i/muballigh adalah mereka yang memiliki kompetensi keilmuan, akhlaq al-karimah, telah menjalankan (‘amil dan ‘abid) ilmu yang diajarkan/didakwahkan, bahkan hingga tingkatan ulama yang mereka itulah hanya takut kepada Allah. QS. Fathir (35): 28 menjelaskan: “Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang tekaut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun”.

Ironisnya, ada muballigh “terkenal” dengan begitu “entengnya” menjelaskan, bahwa ulama itu juga bisa berasal dari hewan. Tidak harus dari manusia. Tampaknya ia lupa akan arti dan makna kata “ulama” yang merupakan bentuk jamak dari kata “alim”. Mengerikan memang. Belum lagi ditambah lagi dengan statemen yang sangat provokatif, dengan menyerang banyak orang yang dipandang sejalan dengan pemikirannya. Lucunya lagi, pengikutnya yang saya tidak tahu, mereka ini seperti apa, kok dengan mudah dan enaknya mendukung dan mengikuti ajaran mereka.

Di sisi lain, Rasulullah saw juga menyampaikan “ballighu ‘anni wa lau ayat” artinya “sampaikanlah (tabligh-kanlah) apa yang kalian dapat dari aku, meskipun hanya satu ayat”. Sementara banyak yang sebenarnya masih “mumayyiz” dalam ilmu agama, tetapi karena follower-nya mengikutinya, plus didukung media televisi sudah “mengnotrak” mereka, “Telah bercerita kepada kami Abu ‘Ashim adl-Dlahhak bin Makhlad telah mengabarkan kepada kami Al Awza’iy telah bercerita kepada kami Hassan bin ‘Athiyyah dari Abi Kabsyah dari ‘Abdullah bin ‘Amru bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sampaikan dariku sekalipun satu ayat dan ceritakanlah (apa yang kalian dengar) dari Bani Isra’il dan itu tidak apa (dosa). Dan siapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka bersiap-siaplah menempati tempat duduknya di neraka” (Hadits Riwayat Al-Bukhari, No. 3202).

Pertanyaannya adalah, apakah sertifikasi itu sama dengan standrdisasi. Majelis Ulama Indonesia yang sudah mengeluarkan pernyataan sikapnya menolak dengan keras terhadap gagasan sertifikasi muballigh oleh Kementerian Agama, sebenarnya melakukan standardisasi, bukan sertifikasi. Namun demikian, MUI memahami pentingnya program peningkatan kompetensi Da’i/Muballigh, tetapi ini yang ketiga, menghimbau kepada semua pihak agar tidak mudah mengaitkan masalah radikalisme dengan ulama, da’i/muballigh dan hafidh serta tampilan fisik.
Sebenarnya, MUI sudah menjalankan program standardisasi da’i/muballigh, namun ini tidak wajib alias voluntair.

Kiranya para pembaca sudah sangat cerdas, bahwa standardisasi da’i/muballigh oleh masing-masing ormas keagamaan Islam, tidak ada persoalan. Karena memang dalam kenyataannya, meskipun dakwah atau tabligh itu kewajiban setiap orang, tetapi perlu ada standardisasi, agar jangan sampai ada da’i/muballigh yang tidak jelas bacaan Al-Qur’annya, karena akan berpotensi menjadi da’i/muballigh yang dhallu wa adhallu (sesat dan menyesatkan). Allah a’lam bi sh-shawab.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA. adalah Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua DPS Bank Jateng Syariah, Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, Ketua DPS RSI- Sultan Agung Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com–st