By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Darurat Ketahanan Keluarga di Jawa Tengah
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
GagasanSorot

Darurat Ketahanan Keluarga di Jawa Tengah

Last updated: 23 September 2020 19:07 19:07
Jatengdaily.com
Published: 23 September 2020 19:07
Share
SHARE

Oleh: Eko Suharto
ASN/Fungsional Statistisi Madya
BPS Provinsi Jawa Tengah

JUMLAH perceraian di Jawa Tengah meningkat drastis saat pandemi COVID-19. Selain menyerang kondisi kesehatan dan ekonomi masyarakat, ketahanan keluarga juga terancam. Pembatasan sosial ternyata mempertinggi ketegangan dalam rumah tangga. Ditengarai terjadi penambahan kasus kekerasan dalam rumah tangga selama pandemi.

Dampak tak terduga COVID-19 muncul tatkala tersedia waktu bersama keluarga. Ketika harus tinggal lebih lama di rumah, timbul kerenggangan biduk rumah tangga. Interaksi tidak seperti biadanya menimbulkan riak-riak yang akhirnya menimbulkan pertengkaran.

Beberapa daerah melaporkan terjadinya kenaikan jumlah perceraian selama pandemi berlangsung. Pengadilan Agama Kota Semarang mencatat kenaikan kasus perceraian tiga kali lipat. Tercatat lebih dari 1.500 kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama di Kota Semarang pada semester I Tahun 2020. Kejadian yang sama terjadi di Kudus 579 kasus, Tegal 1.408 kasus, Sragen 934 kasus dan Pekalongan 956 kasus. Sementara di Brebes akan ada 2623 janda baru pada periode yang sama.

Efek Kejut
Pakar family reselience, Frankenberger menyatakan ketahanan keluarga merupakan kondisi kecukupan dan kesinambungan akses terhadap pendapatan dan sumber daya untuk memenuhi berbagai kebutuhan dasar. Termasuk kemampuan keluarga untuk menangkal atau melindungi diri dari permasalahan atau ancaman kehidupan.

Kebijakan Pemerintah terkait pembatasan sosial memberi efek kejut perekonomian. Sebagian perusahaan merumahkan sementara buruh dan pegawainya. Tidak sedikit yang langsung melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Pekerja informal juga mengalami hal serupa. Pendapatan usaha turun drastis. Situasi ini menimbulkan tekanan pada kehidupan berkeluarga.

Kehidupan nyaman keluarga membutuhkan biaya. Itu dipenuhi dengan penghasilan anggota keluarga. Kesejahteraan ekonomi keluarga dapat diukur dari besaran pendapatan yang diperoleh. Secara objektif, keluarga dengan pendapatan perkapita yang lebih tinggi memiliki ketahanan ekonomi yang lebih baik.

Pada kondisi normal, perekonomian Jawa Tengah tumbuh di atas 5 persen. Kinerja perekonomian riil selalu di atas angka nasional. Pertumbuhan ekonomi tinggi meningkatkan pendapatan per kapita penduduk. Pada 2019 pendapatan per kapita Jawa Tengah atas dasar harga konstan mencapai 28,58 juta rupiah per tahun. Angka ini tumbuh 4,74 persen dibanding 2018 yang mencapai 27,29 juta rupiah.

Kondisi berbeda terjadi saat pandemi COVID-19 mendera. Kinerja ekonomi Jawa Tengah melambat. Pertumbuhan ekonomi semester pertama 2020 mengalami kontraksi 1,73 persen. Komponen konsumsi rumah tangga pun mengalami kontraksi lebih dari 4 persen. Secara kasat mata nampak ketika pusat-pusat perbelanjaan semakin sepi pengunjung. Tidak hanya pasar modern bahkan pasar tradisional turut terkena imbas.

Pertumbuhan konsumsi rendah menandakan turunnya kesejahteraan keluarga. Tingkat kesejahteraan ekonomi keluarga digambarkan sebagai kemampuan dalam memenuhi berbagai kebutuhan. Kesejahteran keluarga menjamin kelangsungan kehidupan secara nyaman dan berkesinambungan. Sementara itu, kesinambungan berkeluarga akan terjamin ketika keluarga memiliki cukup pendapatan. Ketika pendapatan berkurang, maka keberlangsungan keluarga terancam.

Memburuknya perekonomian menimbulkan tekanan bagi penanggung jawab keluarga. Emosi memuncak berakibat kekerasan dalam rumah tangga. Komite Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat kekerasan dalam rumah tangga meningkat selama pandemi berlangsung. Sebanyak 80% responden perempuan mencatat kekerasan yang dialami meningkat. Bentuk kekerasan tidak hanya fisik namun kekerasan psikologi dan ekonomi.

Intensitas pertemuan dalam keluarga memang bertambah. Namun tekanan tekanan mental akibat wabah dan ancaman kehilangan pekerjaan memicu KDRT. Dampaknya akan berpengaruh kepada anak-anak.

Kekerasan terhadap anak-anak menimbulkan trauma. Menjadi saksi tindak kekerasan dalam rumah tangga berdampak buruk. Pertumbuhan mental dan emosional anak menjadi rusak. Tahapan perkembangan anak berpotensi terganggu. Efek buruk timbul seperti depresi, kesulitan bergaul, melakukan kriminalitas bahkan menggunakan narkoba.

Upaya Menanggulangi
Tidak semua keluarga mampu mengatasi permasalahan rumah tangganya. Banyak orang atau keluarga membutuhkan orang lain dalam menjaga ketahanan keluarga Terdapat empat dimensi utama dalam mewujudkan ketahanan keluarga yaitu fisik, ekonomi, sosial dan psikologi.

Dimensi fisik diwujudkan dalam pemenuhan kebutuhan pangan, sandang dan papan. Upaya pemerintah menjaga dimensi fisik dengan memberikan jaring pengaman sosial. Bantuan dalam bentuk cash money diharapkan membantu menjaga kecukupan pangan keluarga. Kekurangan asupan pangan memunculkan gangguan kesehatan dan penyakit. Jika dibiarkan akan memunculkan biaya kesehatan tinggi dan berdampak pada rendahnya ketahanan keluarga.

Dimensi ekonomi diukur dengan kecukupan penghasilan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemerintah memberikan paket stimulus pada UMKM untuk dapat bertahan di masa pandemi. Selain itu ada upaya mendorong permintaan produk sehingga usaha terus berjalan. Turunnya nilai impor turut membantu, sehingga penggunaan produk dalam negeri meningkat.

Kondisi tekanan ekonomi mendorong keluarga mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang ada. Pengaturan keuangan dilakukan dengan prioritas kebutuhan pokok terlebih dahulu. Ide kreatif menciptakan sumber penghasilan baru harus dilakukan. Pembuatan masker, hand sanitizer, face shield dan APD menjadi sumber penghasilan keluarga. Ketahanan ekonomi keluarga terselamatkan dengan tambahan penghasilan di masa pandemi.

Keluarga harus memiliki interaksi sosial dengan lingkungan. Jawa Tengah memiliki program “Jogo Tonggo” yang digagas Gubernur Ganjar Pranowo. “Jogo Tonggo” berhasil menguatkan solidaritas untuk menjaga dan memperhatikan kondisi keluarga lainnya. Membangun kepedulian dan berempati pada orang lain membentuk ketahanan keluarga semakin kokoh.

Dimensi psikologi diwujudkan dalam bentuk keharmonisan keluarga. Konflik rumah tangga diselesaikan dengan saling memahami dan menerima. Komunikasi dan interaksi hangat antar anggota menciptakan suasana nyaman . Sikap anti kekerasan ditonjolkan untuk menyelesaikan masalah.

Pola pengasuhan dalam keluarga akan membentuk pribadi anak. Orang tua berperan sebagai role model anak-anaknya. Penerapan hukuman fisik dan psikis seharusnya dihindari. Hukuman fisik seperti mencubit, menjewer, memukul dan menampar memunculkan generasi arogan dan temperamental. Sementara hukuman psikis seperti menyebut pemalas, bodoh, dan tidak berguna membuat anak minder dan menutup diri.

Ketahanan keluarga sangat penting dalam menghadapi krisis saat ini. Permasalahan keluarga yang tidak tertangani berdampak pada lingkungan sekitar. Keluarga sebagai unit terkecil harus tetap kuat menghadapi goncangan. Tidak perlu segera memutuskan berpisah. Kerjasama mepertahankan keutuhan keluarga diperlukan dalam menghadapi krisis lain yang sewaktu-waktu bisa melanda. Jatengdaily.com-yds

You Might Also Like

Amal Kebaikan di Bulan Safar
4 Daerah di Jateng Jalankan Program Padat Karya ABSAH
Menyongsong HUT Kemerdekaan RI : Mencontoh Nasionalisme Nabi SAW
KUHP Baru: Bullying Dan Disiarkan Ke Media Televisi Bisa Berujung Pidana
Korupsi dan Kepentingan Publik
TAGGED:bps jatengCOVID-19jawa tengahketahanan keluargaopini
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?