Diserang Virus Kuning, Hasil Panen Cabai Merosot Tajam

Tanaman cabai di Tmanggung diserang virus kuning mengakibatkan hasil panen merosot tajam. Foto: adri

TEMANGGUNG (Jatengdaily.com) – Sejumlah petani cabai di Kecamatan Kaloran, Temanggung mengaku hasil panenannya menurun, karena tanaman layu akibat terserang virus kuning. Virus tersebut merusak hampir sekitar 90 persen cabai di wilayah ini dan berdampak buah kerdil.

Seorang petani cabai, Supratman mengaku tanaman cabai yang terserang virus kuning ini membuat produksi merosot tajam. Padahal komoditas cabai menjadi unggulan di desanya.

“Biasanya kita tanam dua ribu tanaman bisa panen petik 1 ton karena kena virus kuning hanya dapat hanya bisa 500 gram. Harga jualnya standar Rp 27 ribu per kilogram, tapi hasil buah tidak maksimal. Itu karena buah cabainya kerdil,” kata Supratman, Kamis (19/11/2020).

Penyerangan virus kuning pada tanaman cabai ini sudah terjadi sejak musim peralihan. Namun, sampai saat ini bulan November 2020 masih marak menyerang. Gejalanya mengalami perubahan warna daun.

“Daun mulai warna pucat, menguning. Jika terserang pada usia muda biasanya tanaman menjadi kerdil dan tidak berbuah,” ungkapnya.

Sedangkan obat untuk virus selama ini belum ada, membuat ia bersama petani mengendalikan faktor pembawa virus kuning dengan penyemprotan dengan luasan 2.500 hektar.

“Kami lakukan perawatan dengan penyemprotan akarsida. Meski kena kuning, masih bisa laku tapi produksinya berkurang 30 persen,” jelasnya.

Kutu Kebul
Koordinator Pejabat Fungsional Karantina Tumbuhan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Semarang, Herry Widarta mengatakan banyak petani desa Kalimanggis, Kaloran Temanggung yang mengeluhkan adanya serangan hama virus kuning bernama latin bemisia tabaci tersebut.

“Saat kita cek ke Kalimanggis, ada keluhan dari petani cabai karena ladang tanamannya diserang virus kuning yang disebabkan munculnya vektor serangga kutu kebul atau kutu putih. Bahkan, serangan hamanya sudah mencapai 90 persen,” kata Herry Widarta.

Virus kuning yang menyerang tanaman cabai dibawa oleh kutu kebul, yang membuat tanaman menjadi kerdil. Foto: adri

Virus kuning yang menyerang tanaman cabai disebabkan oleh virus gemini. Secara teknis, virus ini dibawa oleh kutu kebul.

“Jadi ketika serangan kutu kebul tinggi, intensitas virus kuning pun tinggi. Perkembangannya dipengaruhi oleh musim dan iklim, banyak berkembang pada musim penghujan,” kata dia.

Adapun virus kuning yang dimaksud berwujud sekumpulan kutu kebul alias kutu putih. Dari kutu kebul dewasa mempunyai ukuran tubuh antara 1-1,5 mm, berwarna putih, dan mempunyai sayap yang ditutupi lapisan lilin bertepung putih.

Keberadaan kutu kebul atau virus kuning ini, kata Herry bisa membuat tingkat produksi cabai merosot. Sebab, kutu kebul yang menggerogoti daun hingga cabai menyebabkan tanaman itu menjadi gagal tumbuh atau kerdil.

“Untuk produksinya jadi berkurang karena hampir semuanya terkena virus kuning. Cabai yang ada kutu kebulnya, warnanya menguning, bijinya berubah menghitam dan kondisinya mengalami penyusutan,” ujarnya.

Pihaknya menyarankan kepada para petani cabai untuk segera membasmi virus tersebut dengan tiga cara yakni harus menyemprotkan fogging. Bisa juga dengan menyemprotkan pestisida pada area tanaman yang diserang virus kuning. Cara kedua bisa mengganti bibit cabai dengan produk tahan hama. Kemudian cara ketiga bisa mencabut seluruh akar tanaman cabai untuk mengantisipasi penyebaran virus kuning.

“Kita akan melakukan pendampingan kepada para petani cabai agar dapat menanam dengan hasil yang maksimal. Agar saat panen dapat hasil yang bagus,” kata Herry Widarta. adri-yds