DPRD Jateng Minta Pemprov Bantu Pipanisasi Sumber Air di Wonogiri

0
95
Hadi Santoso saat meninjau sumber air bersih Seropan Gunung Kidul. Foto: ist

WONOGIRI (Jatengdaily.com) – DPRD Provinsi Jateng mendesak agar Pemerintah Provinsi mengucurkan dana untuk menyelesaikan masalah kekeringan di Wonogiri.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi D DPRD Jateng Hadi Santoso usai meninjau sumber air bersih Seropan Gunung Kidul yang menjadi salah satu sumber air bersih untuk kabupaten Wonogiri.

“Kalau dahulu masalah air bersih di Wonogiri karena ketidakadaan sumber mata air, sekarang dengan adanya Sumber Seropan, Sumber Waru dan Banyutowo tinggal dana dan teknologi, pemprov harus andil,” ungkapnya.

Menurut data yang dimiliki oleh Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak potensi sumber air Seropan sebanyak 750 liter per detik saat baru dimanfaatkan sebanyak 260 liter per detik, untuk kabupaten Wonogiri baru sebesar 50 liter perdetik.

“Padahal perkiraan dinas PU Kabupaten Wonogiri kekurangan kebutuhan air bersih mencapai 680 kubik perhari, masih sangat terjangkau karena potensinya bisa mencapai 1.267 kubik perhari,” ungkapnya

Menurut pria kelahiran Giriwoyo Wonogiri ini, meskipun berada di Gunungkidul, sumber Seropan ini sudah dapat dimanfaatkan karena sudah ada pernjanjian kerja sama antarpemanfaatan air bersih.

“BBWS sudah mengizinkan bahkan saat ini sudah dimanfaatkan oleh masyarakat Pracimantoro, masih ada permasalahan yang perlu intervensi Pemprov maupun pemkab Wonogiri,” lanjutnya.

Anggota Fraksi PKS ini menambahkan saat ini sumber Seropan dimanfaatkan oleh 16.656 jiwa yang tersebar di desa Glinggang, Gedong, Gebangharjo, Watangrejo, Joho, Petir, dan Gambirmanis, masih ada 9.713 jiwa yang belum teraliri air bersih.

“Masalah yang muncul masih tingginya kehilangan air sampai 20% yang disebabkan optimasi pompa dan perpipaannya, serta SR yang masih belum merata, ini memerlukan dana yang cukup besar,” lanjutnya.

Menurut Hadi, pemerintah provinsi bisa membantu masalah ini melalui beberapa alternatif yakni pengadaan pipa saluran atau pipanisasi melalui bantuan keuangan kepada pemerintah kabupaten, atau bantuan keuangan kepada pemerintan desa. Sedangkan untuk pompanisasi bisa melalui hibah kepada pemerintah daerah lain dalam hal ini pemerintah daerah Gunung Kidul.

“Melihat skala prioritas optimasi sumber Seropan ini menjadi prioritas pertama, selanjutnya eksplorasi air tanah Banyutowo menjadi agenda selanjutnya,” lanjutnya.

Hadi menambahkan sebenarnya Pemprov Jawa Tengah sudah memulai memberikan perhatian kepada kekeringan di kabupaten Wonogiri, dengan mengalokasikan 42 titik sumur dalam sejak 2014, pengadaan pipa sambungan dengan Bantuan Keuangan kabupaten sebesar 7 M tahun 2017, membangun 16 embung di daerah Pracimantoro, Paranggupito dan Giritontro, serta membangun infrastruktur pengambilan air di Banyutowo.

“Tahun ini masih ada 2 embung yang kita bangun, di Gendayaan Paranggupito 1 dan Giritontro 1, SPAM Regional Wososukas, dan Waduk Pidekso semoga bisa mempercepat penyelesaian kekeringan secara permanen,” pungkasnya.

Menurut data BPBD tahun 2019, di Kabupaten Wonogiri terdapat 8 kecamatan yang mengalami kekeringan yang tersebar di 30 desa, dengan 8.214 kepala keluarga terdapampak atau sebanyak 27.253 jiwa. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here