Dugder Diganti Halaqah Tandai Awal Ramadan

Wali kota Semarang Hendrar Prihadi membacakan Halaqoh sebagai pertanda dimulainya awal bulan suci Ramadan 1441 H. Foto:Ugl

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Tradisi karnaval sehari menjelang Ramadan tahun 2020 di Kota Semarang berbeda dengan tahun – tahun sebelumnya. Bahkan, keramaian Dugderan, ditiadakan berkaitan dengan wabah virus Corona yang dinyatakan pandemi.

Karnaval sebagai puncak tradisi Dugderan sehari sebelum bulan suci Ramadan 1441 H, juga tidak melibat massa seperti tahun-tahun lalu, antara lain seperti melibatkan pelajar dari anak-anak TK, SD, SMP, MTs, SMA, SMK, MA serta perwakilan dari masing-masing kecamatan dan para pegawai.

Pemerintah Kota Semarang menggelar puncak tradisi Dugderan untuk menyambut datangnya bulan suci Ramadan dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Semarang atau yang dikenal dengan masjid Kauman tahun 1441 H, diganti dengan haaqoh sangat sederhana.

Pada puncak tradisi Dugderan kali ini, Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, dan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu berkunjung ke Masjid Agung Semarang dengan membawa hantaran berupa kue replika masjid dan berbagai makanan khas Kota Semarang.

Prosesi puncak Dugderan menyambut datangnya bulan suci dilaksanakan dengan pembacaan halaqoh oleh Wali Kota Semarang kemudian dilanjutkan dengan menabuh bedug sebagai tanda akan dimulainya Ramadan.

“Dugderan tiap tahun adalah sebuah tradisi budaya untuk kita menyampaikan kepada seluruh warga Semarang bahwa tidak lama lagi umat Islam di bulan suci Ramadan menjalankan ibadah puasa,” kata Wali Kota.

“Tetapi, karena ada wabah covid 19 dan wabah virus Corona masih berlangsung, kami melakukan tradisi ini secara sederhana. Hanya saya, bu wakil, dan pak sekda, serta kyai Hanif selaku Takmir dan beberapa kyai, saja,” papar Hendi.

Meski digelar sederhada, kata Hendi, prosesi puncak tradisi Dugderan dilaksanakan sesuai dengan budaya yang pernah dilakukan dari tahun ke tahun dengan membaca halaqoh dan menabuh bedug pertanda umat Islam sudah mulai menjalankan ibadah puasa.

Dia berharap, momentum ini membuat warga Kota Semarang bisa menjalaknan ibadah puasa dengan lebih kusyuk. Dia juga berpesan agar warga sebaiknya menjalankan ibadah-ibadah keagamaan di rumah saja.
“Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, semoga ibadah kita diterima Allah SWT di bulan suci ini,” ucapnya.

Ketua Takmir Masjid Agung Kota Semarang, KH Hanief Ismail mengatakan, sesuai dengan anjuran pemerintah, pihak masjid tidak menggelar shalat tarawih berjamaah di Masjid Agung Semarang.

“Dalam rangka menghindari merebaknya covid 19, Masjid Agung Semarang sudah sejak 27 Maret tidak menyelenggarakan shalat Jumat. Jumatan berjamaah saja tidak, apalagi tarawih,” kata KH Hanief.

Dia mempersilakan masyarakat beribada di rumah atau di musala setiap kampung. Jika menyelenggarakan salat tarawih di musala, dia mengimbau tetap menjaga protokol kesehatan.

“Kalau kapasitas musala terbatas dengan warga setempat yang mungkin sudah tahu. Kami mengimbau andai menyelenggarakan shalat tarawih dengan tetap menjaga protokol kesehatan,” katanya. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here