Ketua GSAC Semarang Tri Subekso berdiskusi dalam acara Dolan Musuem di Musuem Ranggawarsita Jawa Tengah, Jumat, (13/3/2020) malam. Foto : Ody-she

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Melalui Komunitas Gambang Semarang Art Company (GCAC) Gambang Semarang atau biasa dikenal Tari Semarangan dikenalkan kepada masyarakat khususnya para milenial (anak-anak muda).

Hal itu terlihat dalam acara diskusi Dolan Museum bertema “Akulturasi Budaya dalam Tarian Gambang Semarang” bertempat di Musuem Ranggawarsita Provinsi Jawa Tengah, Jumat, (13/3/2020) malam.

Ketua GSAC Kota Semarang Tri Subekso mengatakan, ketika berbicara Gambang Semarang anak-anak muda harus tau bahwa Gambang Semarang tidak hanya sebagai seni pertunjukkan saja. Tetapi memiliki sarat makna atau pesan khusus, seperti akulturasi antara dua budaya yakni Tionghoa dan Jawa.

“Hal itu bisa dilihat dari alat musiknya termasuk unsur-unsur dalam tarian, tata busana hingga para pemainnya,” ujar Tri.

Tri menjelaskan, bahwa keberadaan Gambang Semarang yang dipopulerkan sekitar tahun 1940-an di Kota Semarang tidak lepas bahwa Kota Semarang sebagai sebuah kota yang sangat terbuka sejak dulu.

“Sehingga, tarian ini sampai sekarang terus eksis dan bisa diterima oleh siapapun termasuk masyarakat luas. Sebab, perpaduan kesenian ini melambangkan sebuah kerukunan. Mulai gerak tari, bentuk pakaian yang dipakai hingga para pemainnya,” jelasnya Tri.

Menurutnya kegiatan ini sangat penting guna mengajak anak-anak muda sadar pentingnya menjaga warisan budaya. Karena, pada zaman sekarang ini banyak anak muda yang belum menyukai sesuatu yang berbentuk tradisi dan sebagainya.

“Oleh karena itu melalui komunitas ini, kami akan mencoba mengemas Gambang Semarang dengan konsep yang milenial seperti menghadirkan banyak guyonan dan menghadirkan anak-anak muda,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Musuem Ranggawarsita Jateng Asih Widhiastuti menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk menarik para generasi muda supaya mengetahui bahwa Kota Semarang memiliki tarian yang menarik dan khas yang mungkin belum banyak yang mengenal.

“Tentu harapan kami, peserta yang hadir bisa menularkan dan bisa untuk belajar” ujarnya.

Dari sisi sekarang, Asih menjelaskan bahwa Gambang Semarang ini ada sejak kedatangan Cheng Ho di Semarang yang dapat memberikan warna tersendiri di Semarang.

Ia menjelaskan, bahwa museum itu merupakan rumah budaya. Jadi yang namanya rumah budaya tidak hanya terkait koleksi atau benda-benda kuno tetapi seni yang juga merupakan warisan budaya.

“Ini juga sebagai tugas kami untuk melestarikan kebudayan karena museum ini empat belajar tidak hanya menyimpan koleksi sejarah tetapi juga memberikan edukasi khusnya untuk masyarakat seluruhnya, tidak mengenal anak-anak, muda bahkan orang tua tatpi masyarakat umum,” harapnya.

Ia mengaku prihatin keberadaan musuem dibandingkan dengan negara lain. Disana museum benar-benar dijadikan sebagai rumah budaya untuk belajar.

“Tentu hal ini yang mendorong kami untuk terus mengupayakan anak-anak muda mencintai warisan budaya dengan berbagai budaya. Diantara dolan musuem, goes to school, pameran tematik dan lainnya,” harapnya. Ody-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here