By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: Gambang Semarang Dikenalkan Anak-anak Muda Melalui Dolan Museum
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
NewsSeni Budaya

Gambang Semarang Dikenalkan Anak-anak Muda Melalui Dolan Museum

Last updated: 15 Maret 2020 17:52 17:52
Jatengdaily.com
Published: 15 Maret 2020 17:52
Share
Ketua GSAC Semarang Tri Subekso berdiskusi dalam acara Dolan Musuem di Musuem Ranggawarsita Jawa Tengah, Jumat, (13/3/2020) malam. Foto : Ody-she
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Melalui Komunitas Gambang Semarang Art Company (GCAC) Gambang Semarang atau biasa dikenal Tari Semarangan dikenalkan kepada masyarakat khususnya para milenial (anak-anak muda).

Hal itu terlihat dalam acara diskusi Dolan Museum bertema “Akulturasi Budaya dalam Tarian Gambang Semarang” bertempat di Musuem Ranggawarsita Provinsi Jawa Tengah, Jumat, (13/3/2020) malam.

Ketua GSAC Kota Semarang Tri Subekso mengatakan, ketika berbicara Gambang Semarang anak-anak muda harus tau bahwa Gambang Semarang tidak hanya sebagai seni pertunjukkan saja. Tetapi memiliki sarat makna atau pesan khusus, seperti akulturasi antara dua budaya yakni Tionghoa dan Jawa.

“Hal itu bisa dilihat dari alat musiknya termasuk unsur-unsur dalam tarian, tata busana hingga para pemainnya,” ujar Tri.

Tri menjelaskan, bahwa keberadaan Gambang Semarang yang dipopulerkan sekitar tahun 1940-an di Kota Semarang tidak lepas bahwa Kota Semarang sebagai sebuah kota yang sangat terbuka sejak dulu.

“Sehingga, tarian ini sampai sekarang terus eksis dan bisa diterima oleh siapapun termasuk masyarakat luas. Sebab, perpaduan kesenian ini melambangkan sebuah kerukunan. Mulai gerak tari, bentuk pakaian yang dipakai hingga para pemainnya,” jelasnya Tri.

Menurutnya kegiatan ini sangat penting guna mengajak anak-anak muda sadar pentingnya menjaga warisan budaya. Karena, pada zaman sekarang ini banyak anak muda yang belum menyukai sesuatu yang berbentuk tradisi dan sebagainya.

“Oleh karena itu melalui komunitas ini, kami akan mencoba mengemas Gambang Semarang dengan konsep yang milenial seperti menghadirkan banyak guyonan dan menghadirkan anak-anak muda,” tambahnya.

Sementara itu Kepala Musuem Ranggawarsita Jateng Asih Widhiastuti menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk menarik para generasi muda supaya mengetahui bahwa Kota Semarang memiliki tarian yang menarik dan khas yang mungkin belum banyak yang mengenal.

“Tentu harapan kami, peserta yang hadir bisa menularkan dan bisa untuk belajar” ujarnya.

Dari sisi sekarang, Asih menjelaskan bahwa Gambang Semarang ini ada sejak kedatangan Cheng Ho di Semarang yang dapat memberikan warna tersendiri di Semarang.

Ia menjelaskan, bahwa museum itu merupakan rumah budaya. Jadi yang namanya rumah budaya tidak hanya terkait koleksi atau benda-benda kuno tetapi seni yang juga merupakan warisan budaya.

“Ini juga sebagai tugas kami untuk melestarikan kebudayan karena museum ini empat belajar tidak hanya menyimpan koleksi sejarah tetapi juga memberikan edukasi khusnya untuk masyarakat seluruhnya, tidak mengenal anak-anak, muda bahkan orang tua tatpi masyarakat umum,” harapnya.

Ia mengaku prihatin keberadaan musuem dibandingkan dengan negara lain. Disana museum benar-benar dijadikan sebagai rumah budaya untuk belajar.

“Tentu hal ini yang mendorong kami untuk terus mengupayakan anak-anak muda mencintai warisan budaya dengan berbagai budaya. Diantara dolan musuem, goes to school, pameran tematik dan lainnya,” harapnya. Ody-she

You Might Also Like

Sikapi Potensi Beda Awal Ramadan, Gus Men Ajak Jaga Ukhuwah 
Atasi Potensi Konflik Pertanahan, Bangun Sistem Pendataan yang Lebih Baik dan Akurat
MAJT dan Baiturrahman Siang Ini Laksanakan Salat Istisqo
Cakap Berbahasa Inggris, Mahasiswa Komunikasi Unissula Dapat Hadiah Sepeda dari PWNU Jateng
Kemenko PMK Perkirakan Hari Raya Idul Fitri Tak Ada Perbedaan Tanggal
TAGGED:museum
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?