Guguran Lava Merapi Masih Material Lama

Puncak Gunung Merapi dari Selo, Kabupaten Boyolali. Foto: yanuar
SEMARANG (Jatengdaily.com) – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) menyebut, Gunung Merapi mengalami 39 kali gempa guguran selama periode pengamatan pada Sabtu (14/11/2020) mulai pukul 00:00-24:00 WIB.
Hasil pengamatan BPPTKG juga terdengar suara guguran lava sebanyak enam kali dengan suara lemah hingga sedang. Laju rata-rata deformasi EDM Babadan 12 centimeter per hari.
Sedangkan kegempaan, 39 guguran, 3 low frequency, 306 hybrid/fase banyak, 43 gempa vulkanik dangkal, 2 tektonik dan 63 hembusan. Asap putih intensitas tipis hingga tebal dengan ketinggian 50 meter di atas puncak.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menyampaikan bahwa tingginya aktivitas vulkanik Gunung Merapi tidak ada kenaikan yang signifikan. “Kondisinya stabil tetapi tinggi,” ujarnya saat konferensi pers, Jumat (13/11/2020)
Ia menambahkan bahwa guguran lava yang sudah agak jauh. Beberapa kali terjadi guguran di sisi barat dan barat laut. Guguran sempat terpantai dengan jangkauan beragam, 1 km, 2 km dan 3 km.
“Ada desakan magma dari dalam sehingga terjadinya material di puncak tidak stabil. Saat ini lava yang gugur adalah material lama, sisa erupsi yang lama. Lava yang baru belum muncul,” kata Hanik.
Perkembangan data per 14 November 2020, pukul 15.00 WIB, data warga kelompok rentan yang telah dievakuasi berjumlah 1.558 jiwa. Jumlah warga dievakuasi terbesar di Kabupaten Magelang 814 jiwa, Klaten 307, Boyolali 253 dan Sleman 184. Hewan ternak yang telah dievakuasi berjumlah 3.066 jiwa, dengan rincian di Kabupaten Boyolali berjumlah 2.874 ekor, Klaten 113 dan Sleman 79. yds