SEMARANG (Jatengdaily.com)– Harga gas LPG tabung 3 Kg bakal naik menjadi berkisar Rp 35 ribu dari yang semula di pasaran dijual Rp 18 ribu- Rp 20 ribu.
Hal ini menyusul Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral yang berencana mencabut subsidi tabung gas elpiji 3 kg (tabung melon) pada pertengahan tahun ini.
Adapun dicabutnya subsidi tabung gas elpiji 3 kg diperkirakan bisa menghemat 10-15% subsidi negara. Tahun ini sendiri, subsidi tabung gas elpiji 3 kg dialokasikan pemerintah sebesar Rp 50,6 triliun.
Namun, menyikapi kondisi ini, sejumlah ibu rumah tangga dan pedagang kecil dan pedagang kaki lima (PKL) mengeluh dan sedih. Cak No, misalnya, pedagang bakso yang mangkal di Perumahan Tulus Harapan, Kota Semarang mengaku keberatan dan menyayangkan jika kenaikan itu, bakal terealisasi.
Dia mengaku, yang hanya berjualan sebagai pedagang bakso berskala rumahan ini, akan berhitung lebih ketat. Sebab, nantinya akan berdampak juga pada kenaikan harga bakso yang dia jual ke konsumen.
Hal sama dikatakan oleh pedagang cilok, gorengan, dan kue lekker yang mangkal di sekitar SDN Sendangmulyo 01.
Begitu juga keluhan yang sama dikatakan oleh penjual soto ayam Bagong yang biasa mangkal di sebelah SPBU di Jalan Sriwijaya.
Tabung gas elpiji 3 kg pertama kali diluncurkan Pertamina pada 2007. Tujuan peluncuran tersebut untuk menekan penggunaan minyak tanah di masyarakat oleh masyarakat yang kurang mampu.
Harga tabung gas elpiji saat itu telah disubsidi dengan harga jual sekitar Rp 18 ribu per tabung. Masyarakat pun akhirnya banyak yang beralih membeli tabung gas elpiji 3 kg dari yang sebelumnya menggunakan tabung gas elpiji 12 kg yang harganya dianggap lebih mahal.
Ketua Umum Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Ali Machsun meminta agar pemerintah menunda kenaikan harga elpiji kemasan 3 kg pada Juni mendatang. Sebab, kenaikan tersebut akan berdampak pada masyarakat kelas menengah ke bawah dan pedagang atau pelaku usaha seperti pedagang kaki lima (PKL). She


