Alat-alat canggih dalam pemeriksaan darah yang dipamerkan di Kota Semarang dalam kegiatan pertemuan ilmiah tahunan para dokter. Foto: ody

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Indonesia masih tertinggal 40 tahun sampai 50 tahun dari negara lain, khususnya dalam penyediaan darah yang aman dan bermutu bagi pasien.

Hal ini ditegaskan oleh Ketua Perhimpunan Dokter Transfusi Darah Indonesia (PDTDI) Dr dr Ni Ken Ritchie, M Biomed saat hadir dalam Pertemuan Ilmiah di Semarang selama tiga hari, Jumat (30/1/2020) hingga Minggu (1/2/2020).

Ia menjelaskan, ketertinggalan tersebut dapat dilihat dari proses pengambilan hingga distribusi darah untuk pasien. Mungkin di Kota-kota besar pelayanan darah sudah baik dan sudah bersertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat yang Baik).  Kemudian stndarnya sesuai dengan Kemenkes nomor 91 tahun 2015.

“Tetapi kalau kita melihat di kabupaten apalagi daerah terpencil di Indonesia, di sana sangat minimalis dan simpel. Ambil darah dari pendonor hanya diperiksa dengan alat sederhana kemudian diberikan kepada pasien,” tegasnya.

Padahal, untuk memperoleh darah yang aman tidak mudah dan diperlukan banyak proses dari awal scrining dan darah kemudian mulai dari pengolahannya hingga sampai distribusinya harus diatur dan harus ada standar pedomannya yang dikenal dengan CPOB dan lainnya.

“Bahkan di luar negeri dengan hanya  kantong darah merah tersebut dengan alat yang disediakan dapat melihat berbagai bentuk penyakit bahwa sampai dipemeriksaan DNA virus,” jelasnya.

Maka melalui, pertemuan ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan menambah wawasan khususnya para praktisi baik kepada Unit Transfusi Darah (UTD) PMI dan UTD rumah sakit sama-sama belajar menjaga dan mendirikan darah yang aman dan bermutu.

Hal ini juga sekaligus menanggapi isu dalam peraturan Kemenkes, dimana rumah sakit pemerintah daerah diperbolehkan memiliki UTD.

“Namun pada prinsipnya kami dari perhimpunan transfusi darah mengharapkan bahwa apapun bentuk transfusi darah yang penting adalah penyediaan transfusi darah aman dan bermutu. Arti kata kita tetap memprioritaskan aspek kesehatan dan keselamatan pasien” harapnya.

Sementara itu, UTD Kota Semarang dr Anna Kartika, M.Biomed menyambut baik peraturan rumah sakit daerah bisa mendirikan UTD. Ia berharap peraturan baru ini tidak menimbulkan persiangan antara UTD PMI dan rumah sakit.

“Namun yang terpenting adalah bagaimana berkomitmen menjaga kualitas darah yang aman dan bermutu dan bekerjasama menjaga stok darah yang mencukupi. Selain itu juga berkomitmen menjaga SDM dan alat-alat yang juga perlu ditingkatkan,” ujar dr Anna.

Adapun pertemuan tahunan ini diikuti kurang lebih 300 peserta dari seluruh Indonesia. Mulai dari dokter, tenaga medis labolatorium dan transfusi darah dan lainnya. Ody-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here