Tim Pengabdian dan KKN Undip di Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang berfoto bersama warga. Foto: dok

UNGARAN (Jatengdaily.com)- Petani Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang mengeluhkan banyaknya tanaman cabai yang gagal panen akibat virus kuning cabai. Salah satu petani di Desa Sumowono mengungkapkan bahwa wabah virus kuning cabai sudah menjangkit cukup lama. “Sudah 20 tahun belum ada obatnya (virus kuning cabai),” ujar Imah, petani cabai yang mengalami gagal panen tahun ini.

Virus kuning cabai ditularkan oleh serangga vektor jenis kutu putih atau kutu kebul   (Bemisia tabaci). Jika tanaman terserang pada umur muda, biasanya tanaman menjadi kerdil  dan tidak berbuah dan tidak dapat kembali sehat.

Tim Pengabdian Undip yang terdiri dari  Dr Dra Wilis Ari Setyati MSi, Bagas Rahmanda SH MH, Fahmi Arifan ST MEng beserta mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim 1 Undip mengenalkan fungisida eco-friendly yang berbahan baku bawang putih dan jahe untuk mengendalikan virus kuning cabai.

Berlokasi di rumah Sutopo selaku ketua Kelompok Tani Sumowono di Dusun Kenteng, program pembuatan fungisida eco-friendly disambut dengan antusias oleh Kelompok Tani Desa Sumowono pada Kamis (23/1/20).

Sri Risdhiyanti Nuswantari salah satu mahasiswa KKN Tim 1 Undip 2020 pada pemaparan program menuturkan bahwa virus kuning cabai tidak dapat dihilangkan jika sudah menjangkit tanaman yang sehat, tetapi bisa dicegah dan dikendalikan dengan melakukan teknik budidaya cabai yang tepat dan menggantikan penggunaan fungisida kimia menjadi fungisida eco-friendly.

“Para petani di Desa Sumowono masih menggunakan fungisida kimia secara berlebihan dengan tujuan menghentikan penyebaran virus kuning cabai tanpa mengetahui dampaknya untuk tanaman, lingkungan dan kesehatan manusia” tambah Sri Risdhiyanti yang juga melakukan uji coba pembuatan fungisida organik pada kegiatan tersebut.

Jahe dan bawang putih memiliki bahan aktif bersifat antifungi dan antimikroba yang dapat mengendalikan virus kuning cabai. “Memiliki kandungan gingerol, shogaol, isogingerenon, asam kaprilat, gingerenon dan allicin, jahe dan bawang putih dapat digunakan sebagai fungisida eco-friendly untuk mengendalikan virus kuning cabai,” tambah Wilis Ari Setyati selaku ketua program pengabdian.

Di akhir program Wilis mengajak Kelompok Tani Desa Sumowono untuk mengubah mindset bertani untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas dengan menggunakan fungisida eco-friendly yang memiliki kemampuan pembasmi seperti fungisida kimia tetapi minim efek samping diiringi dengan teknik budidaya cabai yang sesuai standar Dinas Pertanian. she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here