‘Ingin Bahagia, Jangan Suka Mengeluh’

Ganjar Pranowo berfoto bersama karyawan Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng usai memberikan pengarahan dan pengajian. Foto:hms

UNGARAN (Jatengdaily.com)  – Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat memberikan pengarahan di depan karyawan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah meminta mereka untuk tidak senang dan sering mengeluhkan aktivitasnya sehari-hari jika ingin bahagia hidupnya.

“Ikhlaslah dalam bekerja. Jika ingin merasakan bahagia, aja seneng sambat (jangan suka mengeluh). Harus berani dan jangan takut. Saya sering mengundang ustad untuk ngandani (menasehati) itu untuk menjaga rasa, karena rasa itu sama. Kalau diingatkan itu kita akan selalu kelingan. Jagalah kekompakan, ikhlas, Lillahi Ta’ala,” tuturnya dalam Pengajian dan Pengarahan Gubernur Jateng di Komplek Perkantoran Tarubudaya Jl Gatot Subroto Ungaran, Senin (17/2/2020).

Sementara itu, dalam tausiahnya, dosen UIN Walisongo Fahrurrozi menyebutkan, jika jabatan yang Allah Swt berikan kepada para karyawan Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah harus menjadi pengabdian. Sedangkan kantor, harus menjadi hamparan sajadah, sehingga dapat merasakan pekerjaan itu sebagai ibadah.

“Ibadah itu bisa di tempat bekerja. Kerja jangan diniati nyari duit. Tidak usah diniati saja pasti digaji. Sehingga, duitnya didapat, berkahnya juga. Untuk itu, janganlah mengeluh setiap apapun. Dengan melihat orang lain, dan membandingkannya, ia tidak akan pernah bahagia, mau di dinas atau bagian apapun,” tutur Fahrurrozi.

Jika orang itu bahagia, kata dia, akan selalu bersyukur, bekerja pun akan maksimal dan terasa nikmat. Misalnya ketika sedang berkendara menunggu lampu hijau menyala. Hitungan 100 detik, jika tidak mengeluh dan memanfaatkannya dengan mendengarkan musik, baca shalawat atau dihadapi dengan bahagia, akan terasa cepat.

Berbeda dengan menunggu lampu hijau 100 detik sambil menggerutu, mengeluh atau bahkan dengan mengumpat, menyalahkan sana sini, Waktu 100 detik akan dirasa sangat lama. Meski sama-sama menghadapi satu masalah, akan terasa berbeda karena cara menyikapinya berbeda.

“Faman ya’mal misqala zarratin khayran yarahu, wa man ya’mal misqala zarratin syarran yarahu, siapapun yang melakukan perbuatan baik sekecil apapun pasti akan menikmati balasannya, demikian juga siapapun yang melakukan kejahatan, pasti akan mendapatkan sanksinya”. Inilah puncak keadilan. Kita bisa maknai, sapa nandur bakal ngunduh. Kesepian tanpa kekasih, cukup sekian terimakasih,” ujarnya mengakhiri tausiah. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here