Keberagaman Ditunjukkan di Pasar Imlek Semawis

Wali kota Semarang Hendrar Prihadi pada acara Pasar Imlek Semawis di Pecinan Semarang Tengah. Foto: Hms Pemkot

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Even tahunan jelang Tahun Baru Imlek di Kota Semarang, Pasar Imlek Semawis resmi ditutup, Minggu malam (19/1) lalu.

Wali kota Semarang, Hendrar Prihadi bersama jajaran Forkopimda dan pengurus Kopi Semawis (Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata) mengapresiasi secara tersebut.

Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi menegaskan, jika di Kota Semarang tidak ada lagi kaum minoritas dan kaum mayoritas, melainkan, warga kota Semarang yang ingin membuat kotanya semakin maju dan semakin hebat.

“Sebelum saya mendapat amanah sebagai Wali Kota Semarang, saya mencoba mendekati semua tokoh di Semarang dan menyampaikan bahwa, yang bisa memperbaiki Kota Semarang dan membawa Semarang lebih hebat adalah orang Semarang sendiri. Bukan orang Inggris atau orang Amerika,” tuturnya.

Untuk itulah, Hendi meminta masyarakat untuk guyub karena kerukunan warga dan kemajuan kota yang terjadi di Kota Semarang bukan karena walikotanya, melainkan lantaran meningkatnya kesadaran masyarakat untuk membuat kotanya semakin nyaman untuk ditinggali.

“PR nya tinggal mempertahankan yang sudah baik, kita yakin masih banyak titik lain yang perlu kita sempurnakan. Maka di tahun baru ini mari kita bergerak bersama. Tidak perlu ‘ewuh pakewuh’,  jika ada yang kurang baik, ceritakan selesaikan secara adat, kalau ada yang baik ceritakan ke sedulur di luar kota Semarang agar berdatangan ke Kota Semarang,” ujarnya.

Sementara itu dilakukan juga penyerahan penghargaan oleh Hendi selaku Wali Kota Semarang kepada dua dalang Wayang Potehi yaitu Thio Tiong Gie dan Tok Hok Lay. Penghargaan tersebut merupakan bentuk apresiasi terhadap pelestari budaya non-ragawi Pecinan sekaligus menjadi puncak acara penyelenggaraan Pasar Imlek Semawis 2020.

Wayang Potehi yang menjadi tema Pasar Imlek Semawis yang diusung di tahun Tikus Logam ini, merupakan  pertunjukan boneka atau wayang semacam wayang golek yang dimainkan di atas panggung kecil. Menampilkan kisah Tiongkok klasik. Potehi berasal dari ”poo”yang berarti kain, ”tay” yang berarti kantung, dan ”hay” yang berarti wayang.

Dalam Pasar Imlek Semawis juga digelar bazar produk unggulan Pecinan mulai dari kuliner khas seperti lunpia, kue moho, kue keranjang, kue mochi, bakcang, aneka manisan, nasi ayam, wedang tahu, siomay, mie titte, tahu pong, nasi campur, dan lainnya.

Pasar Implek Semawis  dengan menampilkan bazar produk unggulan kuliner itu dengan harapan, dapat mengundang masyarakat luar kota untuk datang ke Kota Semarang guna menikmati suasana Pecinan yang merupakan bagian dari Kota lunpia ini. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here