PEKALONGAN (Jatengdaily.com) – Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air, tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Dengan adanya musim pandemik COVID-19 ini, banyak masyarakat mempunyai waktu luang di rumah.
Mahasiswa KKN UIN Walisongo Semarang berinisiatif mengajak warga RT 4 RW 4 Kelurahan Kandang Panjang, Kecamatan Pekalongan Utara untuk menanam sayuran dengan sistem hidroponik agar tetap produktif di rumah (21/10/2020). Bagi warga yang tidak mempunyai perkarangan luas tidak perlu khawatir, karena sistem hidroponik dapat dilakukan di lahan yang sempit.
Penanaman dengan sistem hidroponik memiliki banyak kelebihan daripada penanaman dengan sistem konvensional, antara lain lebih sedikit ruang yang digunakan, sistem hidroponik dapat ditempatkan di mana saja, lebih singkat waktu tumbuh, lebih bersih penerapannya, nutrisi dapat didaur ulang atau disiram ke tanaman biasa, serta tidak adanya pestisida.
Jenis tanaman sayuran yang ditanam adalah benih sawi pakcoy, sawi caisim, selada dan kangkung. Alat dan bahan yang digunakan adalah baskom, keranjang, suntikan (takaran pupuk) tisu, pisau, rocwoll, pupuk ABmix, dan air. Selain penanaman hidroponik, warga diajak bercocok tanam dengan menggunakan system konvensional (tanah). Warga sangat antusias mengikuti bercocok tanam. Kegiatan bercocok tanam ini diikuti oleh anak-anak, remaja, hingga ibu – ibu warga RT 04 RW 04 Kandang Panjang Kota Pekalongan.
Mahasiswi KKN UIN Walisongo, Dian Fadlilati awalnya menjelaskan tentang sistem hidroponik, kelebihan hidroponik, serta perbedaan system hidroponik dengan konvensional lalu dilanjutkan dengan praktek menanam sistem hidroponik dan konvensional.
“Untuk menghilangkan bosan dirumah dan banyak tugas dari sekolah yaitu dengan bercocok tanam. Hidroponik adalah salah satu cara berkebun yang menyenangkan dan mengasyikkan,” ujar Izah, salah satu remaja putri RT 04 RW 04 Kandang Panjang.
Penulis: Dian Fadlilati-yds


