Masyarakat Malas Bederma untuk Kesenian


SEMARANG – (Jatengdaily.com) – Masyarakat Indonesia dikenal sangat dermawan dan murah hati. Mereka sering berdonasi, menolong orang lain, bahkan terhadap orang yang tidak dikenal. Mereka pun juga senang menjadi relawan. Namun, anehnya, mereka ternyata tetap berpikir dua kali kalau diminta menyumbang untuk kegiatan kesenian. Mereka boleh dikatakan malas melakukan derma untuk kegiatan kesenian maupun kebudayaan.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie mengatakan, selama ini kalau ada penggalangan dana sosial untuk bencana alam, wabah, olahraga, dan sebagainya, aktivitas kesenian dan kebudayaan sering dipakai sebagai alat untuk mendatangkan para donatur. Misalnya pementasan musik, penampilan tari, dan sebagainya. Namun, ironisnya, penggalangan dana untuk kegiatan kesenian dan kebudayaan itu sendiri justru sering diabaikan.

“Memang harus diakui, kegiatan filantropi di Indonesia berkembang pesat. Jumlah rata-rata sumbangan masyarakat kepada program-program yang sifatnya umum mengalami kenaikan. Begitu juga kepercayaan masyarakat kepada organisasi-organisasi sosial juga meningkat cukup tajam. Namun, mengapa sumbangan masyarakat untuk program kesenian dan kebudayaan justru sangat minim?” tanyanya.

Menurut Gunoto, apresiasi, penghargaan, dan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesenian dan kebudayaan dalam kehidupan ini belum sepenuhnya memadai. Para pejabat eksekutif maupun legislatif dan tokoh masyarakat terkesan menganaktirikan kesenian dibandingkan dengan olahraga.Padahal kesenian dan kebudayaan itu sangat penting bagi upaya pembentukan karakter bangsa.

“Kehidupan masyarakat tidak hanya memerlukan sandang, pangan, dan papan. Ia juga membutuhkan kesenian dan kebudayaan,” tandasnya.

Dalam kaitan ini, lanjut Gunoto, sangat perlu adanya regulasi yang mewajibkan perusahaan, misalnya, memiliki tanggung jawab sosial memberikan sumbangan kepada kegiatan kesenian. Selama ini peraturan daerah yang ada tentang CSR, baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, tidak menyebutkan secara eksplisit mengenai bantuan untuk kesenian. Akibatnya, sumbangan untuk kesenian dan kebudayaan sering terlewatkan,” tandasnya. st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here