Orang yang Tahu Diri (Biso Rumongso)

Oleh Ahmad Rofiq
Wakil Ketua MUI Jateng
Assalamualaikum wrwb. Manusia sebagai hamba Allah, dikaruniai akal dan hati. Dengan akal manusia dapat menerima dan memahami ilmu yang Allah berikan kepadanya untuk menerangi jalan hidupnya. Kata bijak para Ulama menjelaskan “al-‘ilmu nuurun” artinya “pengetahuan itu cahaya”. Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa menghendaki (kehidupan) dunia (mudah dan baik), maka baginya wajib berilmu, dna barangsiapa menghendaki (kehidupan) akhirat (baik) maka baginya wajib berilmu, dan barangsiapa menghendaki keduanya (kehidupan dunia akhirat) maka wajib baginya berilmu”. (Riwayat ath-Thabrany).
Manusia sebagai hamba yang baik adalah mereka yang memiliki pemahaman, sensitifitas, dan kesadaran intelektual, hati, dan emosi, bahwa mereka sedang dalam proses transformasi memasuki perjalanan hidupnya yang lebih tinggi, yang tentu berbeda dengan sebelumnya, ketika ilmunya bertambah.
Bertambahnya jenjang keilmuan, tentu akan mendatangkan amanat baru, baik keilmuan, tanggungjawab akademik, dan tanggungjawab sosial yang harus diemban dan dipikul serta dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dan tentu kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Pada ghalibnya, seseorang bertambah ilmu ia akan bertambah dekat dengan Allah, bertambah rendah hati (tawadlu’), dan merasa semakin sedikit ilmu yang ia dapatkan dari Allah Tuhan Yang Maha Besar. Apalagi bagi insan yang mendasarkan pada perintah Rasulullah saw: “Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”.
Orang yang alim atau berilmu, idealnya ia adalah orang yang ‘abid (penghamba yang baik, yang jungkung (Jawa) ibadahnya, selalu andap asor, dhepe-dhepe (tadharru’) kepada Allah, dan selalu menghormati dan memanusiakan orang lain. Karena orang lain difahami dan diposisikan sebagai hamba dan ciptaan Allah yang memang harus dimuliakan.
Maka pantang bagi orang yang berilmu secara benar, untuk dihinggapi “penyakit” sombong, tinggi hati, dan angkuh. Ia belajar dengan ilmu padi, yang kian berisi, kian merunduk. Makin bertambah ilmunya makin rendah hati, karena semakin tahu bahwa ilmu yang belum dipelajari semakin luas, laksana samudra.
Orang yang ‘alim, setelah menjadi ‘abid, ia berusaha menjadi orang yang ‘arif. Artinya ia mengenali siapa sesungguhnya dirinya, dari mana asal, untuk apa ia diciptakan dan dihidupkan di dunia ini, dan ke mana tujuan hidupnya akan ditempuh? Dari sinilah, orang-orang yang berilmu — dan sampai pada tingkatan ma’rifat — maka ia menyadari dengan sepenuh hati, perasaan, dan fikiran, bahwa dirinya hanyalah debu atau saripati tanah, hidup dan menempuh perjalanan hidupnya dari tanah, dan pada saatnya akan dikembalikan ke tanah lagi (QS. Thaha: 55).
Al-Khalil bin Ahmad, mengutip dari Abu Hamid al-Ghazali mengatakan: “Orang-orang itu ada empat, seseorang yang mengetahui, dan mengetahui bahwa dirinya mengetahui, maka itulah orang yang berilmu (alim), maka ikutilah; seseorang yang mengetahui, dan tidak mengetahui, bahwa dirnya mengetahui, maka itulah orang yang tidur, maka bangunkanlah; seseorang yang tidak mengetahui, dan mengetahui, bahwa dirinya tidak mengetahui, maka demikianlah orang yang mencari atau memohon petunjuk, maka bimbinglah atau tunjukkanlah; dan seseorang yang tidak mengetahui, dan tidak mengetahui bahwa dirinya tidak mengetahui, maka demikian itulah orang yang bodoh, maka hentikanlah (tolaklah)” (Abu Hamid, Ihya’ Ulumiddin).
Tidak mudah memang untuk mencapai tingkatan seperti yang diklasifikasikan oleh Al-Ghazali di atas. Beliau tampaknya menyimpulkan setelah beliau melakukan telaah empirik pada murid-murid beliau. Kapasitas dan kedalaman ilmu Al-Ghazali dengan pengalaman praktik sufistiknya, menjadikan paradigma, pendekatan, dan taste keilmuannya tampak sekali sangat berbeda antara guru dan murid.
Ketika suatu saat Al-Ghazali bertanya tentang “apa yang paling berat di dunia ini, dan muridnya menjawab baja, ternyata beliau membenarkan dengan memberikan koreksi, bahwa yang paling berat adalah mengerjakan shalat”. Kala Al-Ghazali bertanya tentang “apa yang paling tajam di dunia ini, dan muridnya menjawab pedang, beliau membenarkan dengan koreksi, bahwa yang paling tajam di dunia ini adalah lisan”.
Saat Al-Ghazali bertanya kepada muridnya, “apa yang paling dekat di dunia ini, muridnya menjawab orang tua, guru, kawan, dan sahabat. Beliau membenarkan dengan koreksi, bahwa yang paling dekat di dunia ini adalah kematian”. Ketika Al-Ghazali bertanya kepada muridnya tentang “apa yang paling besar di dunia ini, oleh muridnya dijawab, gajah, maka beliau membenarkan dengan koreksi bahwa yang paling besar di dunia ini adalah nafsu”.
Saudaraku, Allah ‘Azza wa Jalla menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan menuntut ilmu derajat yang tinggi: “Hai orang-orang yang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapangkah dalam majelis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan : “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan menjnggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al-Mujadilah:11).
Kita berharap, diri kita makin cinta ilmu, karena Rasulullah saw memerintahkan menuntut ilmu dari buaian hingga kita di liang lahat. Bahkan sejak kita di dalam kandungan sudah diajari oleh orang-orang tua kita, dengan pendidikan Al-Qur’an dan kasih sayang yang luar biasa.
Semoga Allah memberikan ilmu-Nya pada kita, dan kita semakin berilmu semakin rendah hati, santun, jauh dari kesombongan dan keangkuhan, dan yang terpenting kita mengetahui, dan mengetahui bahwa kita adalah orang yang mengetahui. Atau setidaknya kita adalah orang yang tidak mengetahui, tetapi mengetahui bahwa kita tidak mengetahui. Karena itu kita akan terus belajar.
Semoga Allah memberkahi kita semua, dan menjadi hamba Allah yang berilmu, menjadi ‘abid, dan ‘arif atau setidaknya menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur dan memberikan manfaat bagi orang lain. Allah a’lam bi sh-shawab. Jatengdaily.com–st
Trima kasih pencerahannya Prof Rofiq.
Memberikan motivasi utk selalu belajar agar terhindar kesombongan spt filosofi padi yg klo semakin berisi makin menunduk dan memberikan manfaat dunia akherat. Aamiin