By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Reading: Para Ulama dan Ustad Ikuti TOT ‘Belanja Bijak Menjelang Lebaran’
Share
Font ResizerAa
  • ES Money
  • Read History
  • U.K News
  • The Escapist
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Read History
  • Entertainment
  • Science
  • Technology
  • Insider
Search
  • Home
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
  • My Bookmarks
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

Para Ulama dan Ustad Ikuti TOT ‘Belanja Bijak Menjelang Lebaran’

Last updated: 19 Mei 2020 23:31 23:31
Jatengdaily.com
Published: 19 Mei 2020 23:31
Share
Ketua Umum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi (tengah) saat menyampaikan paparan. Foto:ist
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Berbelanja lebaran dengan berlebihan sangat tidak dibenarkan dalam Islam. Tuntunannya, agar ibadah puasa sempurna kewajiban terkait kebendaan, zakat, infak, sedekah, wakaf, hibah, harus dipenuhi dulu. Setelah itu baru berbelanja lebaran sesuai kebutuhan bukan sesuai keinginan.

Penegasan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum MUI Jawa Tengah Prof Dr KH Ahmad Rofiq MA, pada Trinning of Trainner (TOT) tentang bersosialisasi “Belanja Bijak Menjelang Lebaran 1441 Hijriyah”.

TOT yang dibuka Ketum MUI Jawa Tengah Dr KH Ahmad Darodji MSi, diselenggarakan di Ruang Suwelagiri, Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jateng, Selasa (19/5/2020), dalam upaya menekan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat menjelang lebaran.

Tampil pula sebagai narasumber Ketum MUI Jateng Dr KH Ahmad Darodji MSi dan Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw Bank Indonesia Jawa Tengah, Iss Savitri Hafid. TOT diikuti para ulama dan ustad di Jateng.

TOT ini, kata Iss Savitri Hafid, sebagai edukasi mengendalikan inflasi dan imbauan untuk berkonsumsi secara bijak di saat lebaran. “Kita gunakan pendekatan agama untuk edukasi ini,” tegasnya.

Prof Rofiq menegaskan, agar dapat memenuhi semua kebutuhan penyempurnaan puasa dan lebaran, umat Islam harus pandai mengatur belanja, karena dalam waktu bersamaan, Islam memerintahkan untuk menyiapkan tabungan dunia dan akhirat. Tabungan dunia, karena kita diperintahkan berbuat untuk urusan dunia seakan hidup selamanya dan berbuat urusan akhirat, kita diperintahkan bersungguh-sungguh, seakan-akan akan mati besok pagi.

“Mari kita taati Firman Allah dalam Qur’an Surat Al-Furqon ayat 67, agar kita selamat dan tidak termasuk golongan orang-orang yang memubadzirkan barang, karena pemborosan adalah bagian dari sikap dan bersaudara dengan syaithan,” pintanya.

Sebelumnya, Ketum MUI Jateng Kiai Darodji menengarai, iming-iming diskon dalam situasi lebaran, berpotensi memicu orang untuk memborong barang-barang, meski kadang barang tersebut tidak diperlukan. Masyarakat tergiur hanya karena harga murah. Padahal, diskon seperti itu hanya sebagai pancingan agar barang-barang yang terbeli semakin banyak.

“Pada gilirannya pengusaha tidak pernah rugi dengan penawaran diskon seperti itu, maka masyarakat perlu waspada, karena cara memborong seperti itu akan memicu inflasi sehingga nilai mata uang kita semakin berkurang,” tegasnya.

Di sisi lain, harga-harga kebutuhan lebaran yang naik tajam sebagai penyebab inflasi. Ketika lebaran berakhir, harga barang turunnya tidak bisa normal. Misalnya saat lebaran harga naik Rp 25, maka ketika usai lebaran penurunan tidak sebesar Rp 25, tetapi hanya Rp 20. Hal ini yang memicu inflasi. “Belanjalah kebutuhan lebaran seperlunya tidak perlu berlebihan,” pintanya.

Kepala Perwakilan BI Jateng Suko Wardoyo menegaskan, semakin besar inflasi, maka semakin rugi karena nilai tukar rupiah menyusut. Bila sebelum inflasi gaji cukup untuk kebutuhan hidup, karena inflasi akhirnya menjadi tidak cukup. Maka inflasi harus dikendalikan agar nilai uang tidakn susut dicuri inflasi.

Menurut Sukjo Wardoyo, ada lima penyebab inflasi, antara lain gangguan produksi, kenaikan biaya produksi, distribusi yang tidak lancar, konsumsi masyarakat yang naik serta ekspektasi harga.

Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi KPw BI Jateng, Iss Savitri Hafid menegaskan, inflasi berpotensi memperbanyak angka kemiskinan, akibat nilai rupiah merosot dan tidak dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Kemiskinan akibat inflasi kini dapat melanda masyarakat umum seperti 1998 saat krisis ekonomi. Maka, BI sekuat tenaga menekan laju inflasi antara lain lewat pengetatan suku bunga perbankan.

Misalnya di awal Ramadan ini, katanya, diwarnai krisis pasokan gua pasir sehingga memicu kenaikan inflasi. Salah satu cara mengatasinya dengan dilakukan operasi pasar hingga harga menjadi normal kembali. st

You Might Also Like

Gaji UMK Bisa Punya Rumah Impian Berkat KPR BTN
PLN Unit Pelaksana Transimisi Semarang Pastikan Keandalan Pasokan Listrik SUTT dan SUTET melalui ROW
Ungkap Kasus Pembunuhan, Anggota Polres Tegal Dapat Penghargaan
Kinerja MUI Jawa Tengah Luar Biasa, Layak Dicontoh MUI-MUI di Indonesia
Kuota Rumah Subsidi untuk Pekerja Media Naik Tiga Kali Lipat, Jadi 3.000 Unit
TAGGED:belanja bijak menjelang lebaranbelanja lebaran berlebihan picu inflasipenuhi ZIS dulu baru belanja lebaranUlama dan Ustad ikuti TOT
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© jatengdaily.com. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?