Pemulihan Ekonomi Jateng dalam Normal Baru Covid-19

0
88

Oleh: Ir Laeli Sugiyono MSi
Statistisi Ahli Madya
BPS Prov Jawa Tengah

Kegiatan normal baru di tengah pandemi Covid-19 ibarat mata uang logam, sisi muka ada potensi untuk meningkatkan perekonomian, tapi sisi belakang ada risiko peningkatan kasus positif virus Corona. Perekonomian Jateng pascagelombang pertama pandemi Covid-19 memang telah menekan ekonomi Jawa Tengah, hingga terjadi melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I tahun 2020 tercatat 2,60%, yang lebih lambat dari perekonomian nasional yang tumbuh 2,97%.

Oleh karena itu untuk memulihkan ekonomi Jateng diharapkan dapat dicapai melalui penerapan normal baru Covid-19. Ketika Covid-19 belum singgah ke Jawa Tengah ekonomi wilayah ini digadang gadang bisa tumbuh tembus 7%, karena kondisi ekonomi Jawa Tengah selama lima tahun belakangan sejak 2014 hingga 2019 selalu tumbuh di atas rata-rata nasional pada kisaran di atas 5%.

Jika tidak dikelola dengan baik, pemulihan ekonomi Jateng dalam normal baru bisa jadi menuai ekonomi yang lebih buruk dari sebelumnya. Mengapa demikian? Ini kemungkinan dengan penerapan normal baru melalui pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang dimaksudkan untuk memicu ekonomi Jawa Tengah, bisa saja justeru sebaliknya menuai gelombang kedua Covid-19 yang memperburuk ekonomi Jateng.

Sebagai refleksi dampak pandemi covid-19 di Jawa Tengah mengakibatkan ekonomi wilayah ini tumbuh melambat sebesar 2,60%, yang biasanya tumbuh selalu di atas 5%. Penopang ekonomi Jateng hanya tumbuh 2,45%, telah mengoreksi pertumbuhan sebelumnya triwulan IV 2019 sebesar 5,28%.

Sektor yang terpukul telak adalah sektor perdagangan akibat PSBB, mall dan hipermarket sepi pengunjung telah memporak-porandakan sektor ini yang tumbuh lebih lambat sebesar 1,73%, yang sebelumnya triwulan IV 2019 tumbuh 4,05%.

Akibat pengalihan pengeluaran rumah tangga yang memprioritaskan kebutuhan pokok, sektor real estate tumbuh sangat lembat sebesar 1,31%, yang sebelumnya triwulan IV 2019 tumbuh 5,43%.

Penerapan Disiplin Tinggi
Apa yang harus dilakukan pemerintah dan masyarakat Jawa Tengah menuju normal baru Covid-19. Berdampingan dengan Covid-19, tetapi didasari penerapan disiplin tinggi mencegah penularan Covid-19 dengan mematuhi protokol kesehatan yang disarankan pemerintah menjadi kunci sukses menumbuhkan kembali ekonomi yang terseok akibat Covid-19. Pemelajaran dengan menyontoh negara Jepang yang sangat terkenal personalnya berdisiplin tinggi ternyata mereka masih ragu menghadapi normal baru Covid-19.

Apakah pertaruhan pelonggaran PSBB Jawa Tengah menuju normal baru Covid-19 menggapai sukses pemulihan ekonomi Jawa Tengah yang gemilang. Dari laman Kompas.com menyebutkan bahwa ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, Tri Yunis Miko Wahyono, menilai akan sangat keliru jika panduan Menkes terkait protokol kesehatan dalam normal baru covid-19 diterapkan di wilayah yang masih tinggi angka infeksinya termasuk Jawa Tengah yang masih kategori zona merah karena memiliki pasien covid-19 lebih dari 50 orang.

Covid-19 bak buah simalakama, dimakan ibu mati tidak dimakan bapak mati. Memperketat dan Memperpanjang PSBB, ekonomi Jateng akan semakin terpuruk, sebaliknya melonggarkan PSBB, siap siap menghadapi gelombang kedua pandemi Covid-19. Kita tetap tawakal dan berusaha mengatasi persoalan pandemi Covid-19, pasti ada jalan keluar yang terbaik buat pemerintah dan masyarakat Jawa Tengah.

Semoga. Sikap kehati hatian Gubernur Jateng Ganjar Pranowo dalam menyikapi normal baru covid-19 ternyata sejalan dengan anjuran pakar epidemiologi, seperti diberitakan dalam laman https://semarang.bisnis.com, bahwa Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan penerapan New Normal di Jawa Tengah akan dilakukan jika grafik kasus positif Covid-19 (Virus Corona) mengalami penurunan secara ekstrem. Jatengdaily.com/yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here