BOYOLALI (Jatengdaily.com) – Para pengrajin tembaga dan kuningan di sentra kerajinan Tumang, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, mengaku terdampak pandemi COVID-19. Omzet penjualan dan pesanan turun hingga 75 persen.
“Jadi selama bulan Maret itu sampai bulan September hampir 75 persen tidak ada pesanan. Untuk proyek kita berhenti, jadi tidak ada kelanjutannya,” ujar pemilik Muda Tama Galeri, Agus Susilo seperti dilansir laman boyolali.go.id.
Sebagian besar masyarakat tidak beraktivitas, namun ada beberapa orang yang masih membuat kerajinan untuk pemenuhan stok barang. “Jadi segera pulih, segera hilang dan kita bisa beraktivitas kembali untuk pengrajin di wilayah Cepogo ini,” harapnya.
Baca juga: Kebo Giro, Stadion Megah Boyolali di Lereng Merapi
Akibat pandemi omzet yang sebelumnya sehari hari kisaran Rp 50-100 juta, kini hanya beromzet Rp 5-10 juta. Untuk tetap bertahan di tengan pandemi COVID-19, pihaknya melakukan jemput bola ke pelanggan baik untuk pribadi maupun untuk keperluan tempat ibadah seperti kubah maupun patung.
“Untuk bulan November ini mendekati new normal ini untuk pesanan kita mulai ada. Jadi untuk ekspornya kita mulai masuk. Jadi kita ada pesanan dari Jepang juga mulai masuk. Ke Swedia juga sudah masuk,” terangnya.
Harapannya dengan adanya kebiasaan baru ini 150 pengusaha kerajinan tembaga dan kuningan Tumang bisa tetap beraktivitas, dan perekonomian 400 pengrajin dapat terus berlanjut. yds


