Penyair Harus Tebarkan Cinta

0
158
Bergambar bersama usai mengisi acara Bianglala Sastra dengan topik Puisi-puisi Hari Valentine di Semarang TV. Dari kiri: Ikang Ujang, Nugroho Wahyu Utomo, Driya Widiana MS, dan Gunoto Saparie. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Cinta dan kasih sayang banyak memberikan inspirasi bagi para penyair Indonesia. Hal itu bisa kita lihat dari puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, Rendra, Goenawan Mohamad, Chairil Anwar, atau Emha Ainun Nadjib. Memang para penyair harus menebarkan cinta kepada masyarakat melalui puisi-puisi mereka.

Demikian kesimpulan yang bisa ditarik dari diskusi pada acara Bianglala Sastra Semarang TV dengan topik Puisi-puisi Hari Valentine di Ngesrep, belum lama ini.

Kegiatan yang dipandu oleh Ketua Kumandang Sastra Driya Widiana MS itu menampilkan narasumber Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie dan aktivis sastra Nugroho Wahyu Utomo. Pada kesempatan itu Ujang Kang dengan iringan siter menyanyikan tiga tembang bertema cinta.

Gunoto mengatakan, memang ada polemik atau pro dan kontra tentang perayaan Hari Valentine. Polemik semacam itu sah-sah saja, asal tidak ada pemaksaan pendapat, apalagi sampai melarang orang lain merayakan Hari Valentine. Keragaman pendapat adalah suatu hal yang niscaya. Kita harus saling menghormati pendapat masing-masing.

Menurut dia, banyak penyair Indonesia yang tertarik menulis puisi karena jatuh cinta. Hal tersebut dapat kita baca pada sejumlah pengakuan mereka ketika menceritakan proses kreatifnya.

Karena itu tak mengherankan tema cinta banyak mewarnai puisi Indonesia sejak dulu sampai sekarang.

“Ada penyair yang mulai menulis puisi di majalah dinding waktu duduk di bangku SMP. Ia tak mampu mengungkapkan cinta monyetnya secara langsung. Ia hanya bisa mengungkapkan lewat puisi. Akhirnya ia keterusan menjadi penyair,” tambahnya.

Nugroho mengatakan, sebenarnya ia tidak banyak menulis puisi bertema cinta. Puisi-puisinya bahkan lebih banyak bertema tentang kemarahan. Namun, ia mengakui saat jatuh cinta selalu menulis puisi-puisi lembut yang ditujukan kepada sang perempuan. Nama perempuan itu ia sebut dalam puisinya, namun sering berupa inisial.

“Padahal saya sebenarnya kurang romantis,” ujarnya seraya menambahkan cinta seharusnya tidak hanya ditebarkan saat Hari Valentine. Tiap hari kita harus menebarkan cinta kepada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat pada umumnya. Sebagai selingan Gunoto dan Driya membacakan beberapa puisi Sapardi dan Rendra. Sedangkan Nugroho membacakan sejumlah puisi karyanya sendiri.Ugl—st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here