Dua Penyair Semarang Berderma Lewat Puisi

0
141

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Para penyair membuat program yang unik merespon merebaknya pandemik virus korona atau covid-19. Bukan hanya dari Indonesia saja, namun juga dari negara-negara Asia Tenggara. Dari Semarang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie dan Ketua Dewan Kesenian Semarang Handry TM. Mereka merekam suasana batin pandemik itu, sekaligus berderma melalui karya-karyanya berupa puisi esai mini.

Menurut Gunoto, program penyair berderma melalui puisi digagas oleh pendiri Lembaga Survei Indonesia Denny Januar Ali. Mungkin hanya sekali saja generasi saat ini mengalami pengalaman tragis seperti pandemik virus korona. Hal ini menjadi magnet bagi para penyair untuk mengeksplor dan menggali aneka kisah yang menyentuh. Ini akan menjadi karya abadi yang akan dirujuk generasi mendatang.

Denny menambahkan, puisi esai mini sangat sesuai untuk keperluan tersebut. Puisi esai memfiksikan true story, true event, peristiwa sebenarnya. Berbeda dengan jurnalisme biasa, puisi esai lebih masuk pada dimensi interior, sisi psikologis para pelaku. Namun berbeda pula dengan puisi biasa. Puisi esai berangkat dan memfiksikan kisah sebenarnya. True event itu berikut sumber beritanya tetap disertakan dalam catatan kaki. Ini puisi dengan catatan kaki layaknya paper ilmiah. Kata mini di belakang puisi esai menunjukkan panjang puisi tak melebihi 5000 karakter.

Denny merekam kisah seorang suami yang istrinya meninggal karena covid-19 ini. Betapa terpukul sang suami karena tak boleh memeluk mayat istrinya, memandikannya, mencium keningnya dan membopong jenazahnya masuk ke liang lahat. Sudah disusun protokol pemakaman. Bahkan sang suami diminta tak perlu menghadiri pemakaman istri yang dilaksanakan di subuh hari. Walau sudah menjadi jenazah, tubuh itu masih bisa menularkan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kelompok Studi Proklamasi dan IKATISA31 yang juga menyediakan facebook untuk aneka penyair atau penulis mengirimkan karya. Nama facebook-nya “Berderma melalui Puisi Esai Mini”. Tidak hanya menampung puisi esai, kata Denny, panitia juga memberikan derma. Akan dipilih 50 puisi esai mini dari 50 penyair yang dianggap berhasil merekam batin zamannya. Hadiah uang untuk penyair yang terpilih, akan dibelikan Alat Pelindung Diri (APD) dan segera diserahkan kepada tenaga media. Penyair yang terpilih akan dituliskan sebagai pemberi bantuan tersebut.

Para penyair itu antara lain Denny JA (Jakarta) dengan puisinya berjudul “Ratu Adil Bernama Virus Corona”, Gunoto Saparie (Semarang) dengan puisi “Malam Penghabisan”, Isbedy Stiawan ZS (Lampung) dengan  karya “Bawa Aku dari Penjara Ini: Kisah Pasien Covid-19”, Nia Samsihono (Bekasi) dengan puisi “Mama, Nafasku Sesak Oleh Covid-19”,  Rasiah Abe (Kendari)  dengan puisi “Corona dan Setumpuk Babak”, Dhenok Kristianti (Yogyakarta) dengan puisi “Seusap Sabun Sekucur Air”, Fatin Hamama (Jakarta) dengan puisi “Labbaik”, Anwar Putra Bayu (Palembang) dengan sajak “ Aku Jadi Asing dan Sunyi”, dan Handry TM (Semarang) dengan puisi“Perempuan Pasar Huanan: Wei-Guixian”.

Selain itu, ada juga Muhammad Thobroni (Tarakan),  Hamri Manoppo (Sulut), Purnomo Jusuf (Papua), Sastri Bakry (Padang), Narudin Pituin (Bandung),  Anto Narasoma (Palembang), Monica Anggi JR (Jakarta),  Syaefudin Simon (Jakarta),  Rissa Churria (Bekasi), Viddy Ad Daery (Lamongan), Abrar Effendi (Kalimantan Selatan), Halimah Munawir (Jakarta),  Nazrina Zuryani (Denpasar),  Jonminofri Nazir (Jakarta), Handry TM (Semarang), Bara Pattyradja (NTT), M Jojo Raharjo (Jakarta), . Isti Nugroho (Jakarta), Rita Orbaningrum (Babel), Febry Suprapto (Surabaya), dan lain-lain.Sedangkan penyair dari negara tetangga adalah Jasni Matlani (Malaysia), Abdul Razak Panaemalae (Thailand), Sonsonjan Ayu Khan (Brunei Darussalam), Siti Noraizan (Malaysia), Djusmalinar (Thailand), Norhayati Tasif (Malaysia),  Sitti Rahmah G. Haji Ibrahim (Malaysia), dan Juri Durabi (Malaysia). st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here