By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Notification Show More
Font ResizerAa
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Reading: RMI Minta Pemerintah Jangan Paksakan New Normal
Share
Font ResizerAa
  • Read History
  • Entertainment
  • Entertainment
  • Entertainment
Search
  • Beranda
  • Pendidikan
  • Politik
  • News
  • Olahraga
  • Jeda
    • Kuliner
    • Seni Budaya
    • Wisata
  • Sorot
    • Figur
    • Gagasan
    • Tausiyah
  • Entertainment
  • Foto
Have an existing account? Sign In
Follow US
News

RMI Minta Pemerintah Jangan Paksakan New Normal

Last updated: 29 Mei 2020 17:04 17:04
Jatengdaily.com
Published: 29 Mei 2020 17:04
Share
KH Abdul Ghaffar Rozin
SHARE

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) atau Asosiasi Pesantren Indonesia KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)  meminta pemerintah jangan memaksakan New Normal di pondok pesantren jika belum siap.

Dalam siaran pers yang diterima Jatengdaily.com, pengasuh pondok pesantren Maslakul Huda (PPMH) Kajen, Margoyoso, Pati itu menyebutkan, jumlah dan pertumbuhan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 masih tinggi dan mengkhawatirkan. Persebarannya juga makin meluas. Sementara prasyarat untuk mencegah penularan Covid-19, terutama jaga jarak (social/physical distancing), semakin sulit diwujudkan.

‘’Keadaan demikian seharusnya membuat pemerintah tetap waspada dan memastikan aturan seperti PSBB dapat berjalan secara efektif. Namun, justru yang dirasakan adalah pelonggaran terhadap PSBB dan pemerintah akan segera melaksanakan New Normal (Kelaziman Baru). Hal ini sangat beresiko bagi makin luas dan besarnya persebaran Covid-19 termasuk dalam lembaga pendidikan,’’ katanya.

Gus Rozin menilai, terhadap pesantren, pemerintah belum memiliki perhatian dan kebijakan khusus untuk menangani Covid-19. ‘’Namun, tiba-tiba pemerintah mendorong agak terlaksana New Normal dalam kehidupan pesantren. Hal demikian tentu saja mengkhawatirkan. Alih-alih untuk menyelematkan pesantren dari Covid-19, pesantren yang berbasis komunitas dan cenderung komunal justru dapat menjadi klaster baru pandemi Covid-19. Sesuatu yang sepatutnya dihindari,’’ tuturnya.

Untuk itu RMI PBNU menyatakan bahwa pelaksanaan new normal di pesantren tidak dapat dilakukan jika tidak ada dukungan pemerintah untuk tiga hal berikut, yaitu Kebijakan pemerintah yang kongkrit dan berpihak sebagai wujud keseriusan pemerintah dalam menjaga pesantren dari resiko penyebaran virus covid 19. Kedua, dukungan fasilitas kesehatan untuk pemenuhan pelaksanaan protokol kesehatan, seperti rapid test, hand sanitizer, akses pengobatan dan tenaga ahli kesehatan. Ketiga, dukungan sarana dan fasilitas pendidikan meliputi fasilitas pembelajaran online bagi santri yang belum bisa kembali ke pesantren dan biaya pendidikan ( Syahriyah/SPP dan Kitab ) bagi santri yang terdampak secara ekonomi

Memperpanjang

‘’Apabila tidak ada kebijakan nyata untuk tiga hal tersebut maka RMI PBNU menyarankan pesantren memperpanjang masa belajar di rumah,’’ tegasnya.

RMI juga menghimbau agar setiap keputusan yang diambil terkait dengan nasib pesantren harus melibatkan kalangan pesantren. Sementara itu Ketua Forum Kiai Tahlil Nasional (FKTN) KH Hayatul Makky (Gus Hayat) mengatakan, new normal harus menjamin kesehatan warga pesantren.

”Pemerintah hendaknya memperhatikan kesehatan masyarakat khususnya adalah kesehatan pondok pesantren dan kegiatan keagaamaan, jangan hanya fokus kepada kegiatan ekonomi,’’ katanya.

Menurut pengasuh pesantren Alif Baa Tanbighul Ghofilin Mantianom Banjarnegara itu, pondok pesantren adalah merupakan pendidikan tradisional sudah berdiri ratusan tahun lalu merupakan masyarakat komunal yang selalu bersama-sama kiai, santri dan masyarakat dalam 24 jam.

‘’Kami Forum Kiai Tahlil Indonesia, meminta agar pemerintah membuka kembali pesantren dengan sistem new normal (normal baru), tetapi disesuaikan dengan protokol kesehatan,’’ tegasnya.

Pemerintah diharapkan menyediakan bantuan tim medis dan peralatan ravid test serata peralatan alat pelindung diri (APD) yang memadai . st

You Might Also Like

Kasus COVID-19 Demak Tinggi, Anggota DPRD Usul Tambah Nakes Honorer
Lima Pelaku Sindikat Judol Akurasi4D di Banjarnegara Ditangkap
Presiden Lantik Pimpinan dan Dewas KPK Baru, Berikut Nama-namanya
Usai Jalani Sumpah, 32 Dokter Baru FK Unissula Siap Mengabdi untuk Masyarakat
Awalnya Sempat Diragukan, Selanjutnya Kepemimpinan Mbak Ita Banyak Tuai Pujian
TAGGED:kasus covid masih tingginew normal sangat berisikopemerintah belum perhatikan ponpesRMI minta jangan paksanakan new normal
Share This Article
Facebook Email Print
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

© Jateng Daily. Sejak 2019. All Rights Reserved.
Go to mobile version
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?