DEMAK (Jatengdaily.com) –Guru Besar Fakultas Perikanan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang, Prof Dr Sri Rejeki, mengatakan, model pengelolaan tambak yang terhubung dengan ekosistem tanaman bakau semakin dipopulerkan di kawasan pesisir.
Pasalnya, metode yang seperti ini dianggap bagian dari pendekatan budidaya air payau, yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Sehingga tidak merusak ekosistem yang ada.
“Model ini juga bertujuan menyelamatkan ekosistem mangrove serta meningkatkan perlindungan pantai dari abrasi dan erosi. Hal ini sejalan kebijakan Perpres 51 tahun 2016 tentang Sempadan Pantai,” jelasnya, Rabu (25/11/2020).
Menurutnya, seperti diketahui, mangrove atau tanaman bakau adalah berfunsgi sebagai sabuk hijau – yang ditanam sepanjang pantai dengan menjorok 100 meter – 200 meter ke arah daratan, atau sepanjang tanggul mulut sungai 10 meter – 20 meter kearah daratan.
Dia menyinggung persoalan ini di tengah kunjungan lapangan ke kawasan pesisir Karang Tengah Demak. Dikatakan budidaya tambak terhubung mangrove atau dikenal sebagai associated mangrove aquaculture (AMA), dilaksanakan dengan cara petambak menyerahkan sebagian lahan untuk restorasi tanaman bakau di bantaran muara sungai yang berada pada garis pantai.
Langkah ini akan mengakibatkan sedimentasi. Namun manfaatnya besar melindungi tambak saat berhadapan langsung dengan laut atau berdampingan dengan muara sungai. Selain itu kegunaannya, meningkatkan keanekaragaman hayati dan meningkatkan peluang ekonomi penduduk lokal.
“Mereka akhirnya menyadari mangrove sangat menguntungkan. Tanpa itu mereka akan kehilangan tambak, tanah, mata pencaharian dan bahkan rumah,’’kata dia dalam kegiatan yang juga bagian dari program pengabdian masyarakat kampus ini.
Adapun tim Pengabdian Kepada Masyarakat dari Departemen Akuakultur FPIK terdiri atas Sri Rejeki, Prof Dr Budi Prayitno, Dr Titik Susilowati, Dr Sarjito, Dicky Herwanto PhD, Lestari Lakshmi Widowati, serta Restiana Wisnu Aryati.
Pada akhirnya masyarakat semakin sadar perlunya memulai kegiatan ini yang dapat melindungi kawasan tambak dan meningkatkan hasil tangkapan nelayan tradisional. Cara tersebut juga merupakan budidaya berkelanjutan di zona pesisir mendukung tujuan Pemerintah Indonesia. Peningkatan produksi budidaya secara tidak langsung mulai dirasakan petambak sejak penerapannya 2018 lalu. Pada tahun 2019, produksi posongan atau tangkapan harian udang meningkat, dilaporkan kurang lebih 2-3 kg per hari, sehingga petambak mendapatkan pendapatan kurang lebih Rp 150.000 per hari.
Keanekaragaman biota budidaya juga semakin kaya, seperti contohnya adalah petambak mendapatkan ikan belanak yang dapat dijual di pasar setempat dengan harga Rp. 15.000 per kg.
Metode semacam ini termasuk pendekatan yang disepakati oleh konsorsium Pemerintah Belanda dan Indonesia. Adapun kegiatan dengan pola membangun bersama alam (building with nature/ BwN) di kabupaten Demak sudah dimulai sejak tahun 2016, yang didanai oleh Dutch Waterfund, German IKI dan Ecoshape Foundation. Salah satu kegiatan BwN Belanda dan BwN Indonesia di Demak adalah penerapan budidaya tambak terhubung mangrove sejak dua tahun lalu.
AMA bisa diterapkan di kawasan pesisir lain di seluruh Indonesia. Hal.ini diungkapkan oleh Prof. Sri Rejeki pada saat BwN project closing pada Jumat, 19 November 2020 lalu. Ketua Project BwN, Femke Tonneijk, PhD menyetujui gagasan tersebut dan merasa bangga jika hasil dari BwN Indonesia di Demak dapat digunakan di wilayah lain di Indonesia. she


