Ganjar Pranowo. Foto: Jatengdaily.com/she

SEMARANG (Jatengdaily.com)– Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mendukung rencana pemerintah yang akan membuat mekanisme pendistribusian tabung gas LPG tiga kilogram (Kg) secara tertutup. Menurut Ganjar, program subsidi gas untuk masyarakat miskin selama ini memang banyak tidak tepat sasaran.

Menurut dia, sejak lama Jawa Tengah mengusulkan agar mekanisme penyaluran subsidi gas melon dievaluasi.

“Kami sudah mengusulkan lama, kalau memang subsidi itu ingin tepat sasaran, ya harus diubah mekanismenya. Selama ini tidak tepat sasaran karena saya beberapa kali menemui orang lapor, setelah dicek ternyata dia PNS, dia dosen. Pasti mampu,” kata Ganjar.

Hal ini menyusul rencana pencabutan subsidi bagi gas tabung 3 Kg oleh pemerintah. Sehingga direncanakan  pertengahan tahun ini, gas LPG tabung 3 kg  akan naik yang semula dijual berkisar Rp 18.000 sampai Rp 20.000 akan naik menjadi sekitar Rp 35.000.  

Menurut Ganjar, cara penjualan tabung gas subsidi yang dilakukan secara terbuka, membuat orang tetap memburunya. Meski tertulis hanya untuk kalangan miskin, namun banyak orang tidak peduli. Mayoritas masyarakat ingin membeli barang apapun dengan harga yang paling murah.

“Sebab disparitas harga antara tabung gas subsidi dan nonsubsidi sangat tinggi. Selain itu, dengan cara menjualnya yang  terbuka pasti tidak tepat sasarannya. Maka seandainya ini mau pola distribusinya baik, memang harus dibenahi. Kalau tidak pasti berisiko,” tandas Ganjar.

Jika pemerintah ingin membenahi, sistem distribusinya mesti dievaluasi. Ganjar mencontohkan tentang permasalahan pupuk di Jateng yang sering dikeluhkan petani. Dengan memperbaiki sistem dan mekanisme melalui kartu tani, permasalahan pupuk di Jateng bisa diatasi.

“Sekarang relatif tidak terdengar lagi orang menjual pupuk ke luar karena pembelinya sudah ada, ketahuan. Bahwa kemudian kuotanya kurang ya itu kami selesaikan. Maka, perbaikan sistem itu bisa dilakukan dengan kartu, identitas ataupun ketepatan potensi sasarannya,” tambah Ganjar.

Disinggung tentang wacana penggantian subsidi berupa uang tunai, Ganjar menilai mekanismenya tetap sama. Uang tunai yang mau diberikan, harus tepat sasaran dan tepat guna.

Menurut dia, jika bantuan makanan, kesehatan, pendidikan atau LPG akan diintegrasikan, bisa dilakukan dengan pemberian bantuan berbentuk uang tunai. Dengan uang itu, masyarakat bisa menggunakan sesuai kebutuhannya.

“Nanti kamu bisa belanja, buat yang miskin satu bulan sekian peruntukannya. Untuk ini silakan diatur sendiri kan lebih enak. Tidak spesifik ke komoditasnya,” urai mantan anggota DPR RI ini.

Yang terpenting, lanjut gubernur, sukses tidaknya penyaluran bantuan kepada masyarakat tergantung pada data. Sebenarnya, pemerintah sudah punya data tentang siapa yang berhak menerima bantuan, tinggal sistemnya yang diperbaiki agar bisa dioperasikan.  she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here