Strategi Membangun Korporasi Petani di Jawa Tengah

Oleh: Eko Suharto
Fungsional Statistisi Ahli
BPS Provinsi Jawa Te
ngah

FOKUS pengembangan industri seringkali tidak menyertakan pertanian sebagai daya dukung. Imbasnya, kontribusi pertanian dalam mendukung pertumbuhan ekonomi semakin menurun. Di Jawa Tengah, kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi pada 2019 mencapai 13,52%. Jauh menurun dibandingkan peranannya pada 2010 yang mencapai diatas 20%. Kondisi ini membuktikan terjadi transformasi ekonomi di Jawa Tengah. Sektor Industri dan Jasa semakin tumbuh dan berkontribusi besar berangsur menggantikan sektor pertanian.

Pada sisi lain, produksi padi Jawa Tengah 2019 mencapai 9,66 juta ton gabah kering giling (GKG). Jumlah ini merupakan produksi padi terbesar di Indonesia mengalahkan 34 provinsi yang lain. Namun jika dibandingkan dengan produksi 2018, nilainya mengalami penurunan 0,84 juta ton atau 8,04%. Salah satu penyebabnya yaitu penurunan luas panen padi. Pada 2019, luas panen padi mencapai 1,68 juta hektar atau mengalami penurunan sebanyak 143,5 ribu hektar atau 7,88% dibanding 2018.

Kondisi ini menandakan sektor pertanian memang mengalami tren menurun. Jika ada kisah sukses, itu berlaku untuk segelintir petani. Sebagian besar petani hidup sederhana, jika tidak mau dikatakan dalam kemiskinan. Penghidupan dari sektor pertanian dianggap tidak menjanjikan. Selain tidak dapat langsung menikmati jerih payah, resiko kegagalan membayangi selama proses produksi. Tak jarang bukan keuntungan didapat, melainkan menanggung kerugian yang tidak sedikit. Situasi ini dapat mengancam penyediaan pangan masyarakat Jawa Tengah.

Membangun Korporasi
Berdasarkan pengalaman menghadapi krisis ekonomi, sektor pertanian menjadi tumpuan penopang pertumbuhan ekonomi. Membuka kembali memori krisis ekonomi tahun 1998, sumbangan sektor pertanian Jawa Tengah mencapai 25,59%. Lonjakan ini terjadi di tengah tren menurunnya peranan sektor pertanian tahun 1994-1997 yang berada pada kisaran 21%.

Kondisi yang sama terulang saat pandemi COVID-19. Saat sektor lapangan usaha lain mengalami kontraksi, pertanian mengalami pertumbuhan. Pada triwulan I 2020 sektor pertanian tumbuh 14,16% dibanding triwulan IV 2019. Pertumbuhannya berlanjut di triwulan II 2020 mencapai 10,69%. Momentum ini dapat dimanfaatkan untuk mengampanyekan bahwa sektor pertanian memiliki kekuatan ekonomi tersendiri.

Moncernya sektor pertanian saat pandemi nampak juga pada kinerja ekspor Jawa Tengah. Selama masa pandemi ekspor pertanian Jawa Tengah terus mengalami pertumbuhan. Pada Juni 2020 ekspor pertanian naik 15,16%, bahkan pada Juli 2020 kenaikannya mencapai 27,82%. Sinyalemen ini menunjukan kebutuhan pasar global akan kebutuhan pangan meningkat. Pangan merupakan kebutuhan primer menyangkut perut manusia. Penguatan sektor pertanian sangat krusial dalam menghadapi krisis ekonomi.

Dewasa ini penguatan sektor pertanian memiliki tantangan tersendiri. Upaya menjadikan pertanian prioritas dalam pembangunan nasional tidak mudah. Bonus demografi berupa penduduk usia muda, enggan berkiprah pada sektor pertanian. Kesan kotor, kumuh dan melelahkan, membuat kaum milenial berpaling muka. Meski berasal dari keluarga petani dan kuliah pada jurusan pertanian, bukan menjadi jaminan akan bekerja pada sektor pertanian.

Berdasarkan hasil Survei Usaha Tani Antar Sensus (SUTAS) 2018, jumlah petani usia muda di Jawa Tengah hanya 28% persen. Artinya, petani di Jawa Tengah didominasi oleh orang tua dan sulit menemukan anak muda yang mau bekerja di sektor pertanian Estafet pengelolaan pertanian jelas mengalami kegagalan.

Tantangan berikutnya yaitu penguasaan lahan. Hasil SUTAS 2018 juga menunjukan penguasaan lahan petani di Jawa Tengah terutama tanaman pangan rata-rata kurang dari 0,5 Ha. Keterbatasan lahan, membuat petani kesulitan mengembangkan produksi pertanian. Program mempertahankan lahan seperti program sawah lestari tidak mampu melawan alih fungsi lahan pertanian. Kebutuhan perumahan, kawasan industri dan infrastuktur membuat lahan pertanian makin tergerus.

Selain menganggu ketersediaan pangan, kondisi tersebut membuat kesejahteraan petani semakin menurun. Salah satu upaya yang dikembangkan melalui pembentukan korporasi pertanian. Implementasinya dengan membentuk lembaga ekonomi petani dalam bentuk badan usaha.

Badan usaha ini akan mengelola kegiatan produksi pertanian mulai dari pengolahan sampai dengan pemasaran. Penyediaan benih, pupuk, dan alat produksi pertanian dikelola bersama dalam kelompok besar sehingga diperoleh harga lebih murah. Pengolahan lahan dan proses produksi menggunakan teknologi baru agar penggunaan tenaga kerja lebih efisien.

Melalui korporasi, pola tanam, jenis tanaman dan pengelolaan tanaman lebih mudah diatur. Keuntungan pola tanam serentak antara lain pemeliharaan mudah, memutus siklus hidup hama tanaman, dan hemat pupuk. Usia tanaman yang sama berpengaruh pada kebutuhan air.

Dengan pengelolaan bersama, konflik akibat kebutuhan air dapat dihindari. Pada saat panen, korporasi dapat mengatur strategi penjualan produksi pertanian. Pada saat harga anjlok, penjualan hasil panen ditunda. Sementara saat harga membaik, melakukan transaksi penjualan. Lumbung pangan digunakan untuk menyimpan hasil panen, berperan dalam proses ini.

Pemasaran merupakan kunci utama produk pertanian sampai ke tangan konsumen. Selama ini ditemukan rantai pemasaran yang panjang dan melibatkan banyak pelaku. Proses ini mengakibatkan margin harga produsen dan konsumen berselisih cukup tinggi. Kebutuhan memperoleh keuntungan menyebabkan pelaku pemasaran menekan harga di tingkat petani.

Akibatnya petani mendapat harga jual rendah dan acap kali merugi. Pemanfaatan teknologi informasi dapat mengatasi permasalahan ini. Melalui sistem pemasaran online, korporasi dapat menjual langsung kepada konsumen. Platform digital dan media sosial menjadi solusi utama dalam sistem pemasaran produk pertanian masa depan.

Harapan Besar
Masa Pandemi membuka harapan untuk memperbaiki kinerja sektor pertanian. Pertumbuhan sektor pertanian dan meningkatnya ekspor hasil pertanian memperlihatkan potensi nyata. Pembentukan korporasi dapat melindungi petani sebagai produsen utama bahan pangan dan meningkatkan pendapatan petani.

Meskipun demikian proses pembangunan korporasi tidaklah mudah. Hal terutama yaitu revolusi mental petani. Selama ini petani terbiasa dengan pengelolaan mandiri. Beberapa malah punya perhitungan sendiri terkait waktu tanam dan panen. Jenis dan varietas yang dibudidayakan pun bermacam-macam. Perlu sosialisasi dan pemahaman mendalam agar petani mau beradaptasi dengan pola baru.

Lebih lanjut, penerapan korporasi pada tahapan awal akan mengurangi lapangan kerja. Selama ini sektor pertanian memegang peranan penting dalam menyerap tenaga kerja. Sementara korporasi mengutamakan pengunan alat dan teknologi modern. Untuk itu perlu menyiapkan pekerjaan alternatif untuk mengantisipasi berkurangnya kebutuhan pekerja pertanian. Dengan demikian gejolak sosial ekonomi pada petani khususnya buruh tani dan petani gurem dapat dihindari.

Pembelajaran penggunaan teknologi modern juga harus dilakukan. Tidak cukup dengan transplanter ataupun combine harvest, pola ekonomi digital dan penggunaan robot sudah haris dikenalkan saat ini. Pemupukan menggunakan sistem dan ukuran yang presisi mengunakan robot dapat mengefisienkan penggunaan pupuk. Demikian pula sistem pengairan modern akan dapat mengukur kebutuah air sesuai usia tanaman.

Model pengelolaan korporasi modern akan membuat generasi milenial tertarik dengan sektor pertanian. Beberapa sudah memulainya, namun lebih banyak ke sisi pemasaran. Sementara pada sisi produksi masih terbatas pada produksi pertanian khusus dan belum berkembang secara luas. Dengan ketertarikan anak-anak muda, tentu ada harapan regenerasi petani dapat berjalan. Kekhawatiran kekurangan petani dan pekerja pertanian dapat dihindari.

Menyambut Hari Pangan Sedunia pada 16 Oktober 2020 ini, harapan untuk menjaga ketersediaan pangan masih ada. Tema “Tanam, Pelihara, Lestarikan Bersama” menjadi pemicu bahwa kolaborasi sesama petani mampu membawa sektor pertanian semakin berjaya. Pahlawan pangan akan berperan untuk penyediaan kebutuhan pangan dunia. Setiap petani mengambil peranan dalam mengurangi ancaman kelaparan yang terjadi. Sistem pangan berkelanjutan akan membawa kesejahteraan tidak saja bagi petani namun juga bagi seluruh umat manusia. Jatengdaily.com-yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here