Pelaku UMKM didorong go digital menyiasati masa pandemi Covid-19. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com)- Minimnya pemanfaatan teknologi digital atau internet bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), mendorong Pemerintah Provinsi(Pemprov) Jawa Tengah meningkatkan pertumbuhan ekonomi bagi para pelaku usaha akan pentingnya pemanfaatan teknologi khususnya dalam mempromosikan produknya.

“Memang saat pertumbuhan starup atau UMKM yang memanfaatkan teknologi internet memang masih sedikit. Saat ini baru sekitar 3,5 persen UMKM di Jawa tengah yang memanfaatkan internet dalam pemasaran produknya,” ujar Kepala dinas koperasi dan UKM Jateng, Ema Rachmawati

Ema menjelaskan, bahwa Jawa Tengah kalah dengan Jawa Timur yang sudah 11 persen, Jawa Barat sudah 10 persen pertumbuhan ekonominya.

“Hal itu terungkap saat pak Ganjar kemarin disentil oleh Pak Jokowi, kita baru 3,5 persen,” jelas Ema.

Ema mengakui sejumlah hal yang menjadi hambatan pertumbuhan starup diantaranya karena masih sedikitnya UMKM yang melek secara tekhnologi. Sebagai upaya untuk mendorong UKM agar lebih melek technologi, pemprov Jateng telah membangun heterospace.

ā€œDengan heterospace kami berikan fasilitas untuk pendampingan kepada UKM untuk lebih paham dunia digital. Kita juga siapkan pendamping berupada hetero mobil di 35 kabupaten kota,ā€ ungkapnya

Ema menjelaskan, saat ini perkembangan ekonomi digital di Indonesia sangat impresif. Laporan East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) menyebutkan bahwa nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Laporan EV-DCI menunjukkan bahwa ekonomi digital yang saat ini tumbuh pesat, hanyalah sebagian kecil dari potensi Indonesia. Namun pertumbuhan bakal makin melesat jika Indonesia bisa menanggulangi beberapa kendala yang dihadapi seperti keterbatasan talenta digital, pelaku usaha yang enggan menggunakan produk digital, hingga akses atas layanan finansial yang rendah.

“Dari data yang disajikan oleh EVDCI, para pemangku kepentingan dan sektor publik dan sektor swasta bisa saling membandingkan tingkat pemanfaatan teknologi digital di wilayah masing-masing,” jelasnya.

Misalnya, bagi pemimpin di setiap daerah, dengan memanfaatkan indeks tersebut dapat semakin terpacu untuk berlomba menciptakan ekosistem yang terbaik bagi perkembangan ekonomi digital, baik lewat pembangunan infrastruktur, pengembangan talenta, maupun regulasi yang tepat.

“Bagi para pemain besar di industri teknologi Indonesia, EV-DCI bisa menjadi panduan untuk melangkah lebih jauh dari kota-kota besar ke seluruh pelosok tanah air, untuk membantu lebih banyak bangsa Indonesia menikmati manfaat perekonomian digital. Untuk mereka yang akan atau baru merintis bisnis, EV-DCI adalah sebuah peta peluang,” paparnya.

Sementara itu salah satu pengusaha asal Kota Semarang Jawa Tengah Ninik Purtayanti (45), menyampaikan bahwa selama ini dalam mempromosikan hasil produknya lebih memanfaatkan penitipan di koperasi-koperasi dibandingkan dengan cara online.

“Lewat medsos juga tapi lebih banyak kami titipkan di toko-toko terdekat. Karena kalau melalui online kurang efektif biasanya terkendala dalam pengiriman,” ujar Ninik pengusaha sabun suci.

Ninik berharap pemerintah harus sering mengadakan pelatihan-pelatihan penjualan hasil produk melalui internet. Sebab, selama ini sedikit pelatihan meskipun ada pelatihan peserta terbatas.

“Kami berharap, guna mendukung para UMKM bisa eksis, pemerintah khususnya bisa menggalakkan progam pakai produk lokal UMKM sendiri. Terutama pejabat harus membeli produk UMKM sendiri tidak hanya disaat event atau pameran tertentu,” tegas Ninik. Shodiqin-she

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here