Wabah Corona, Agenda Budaya Tertunda

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Merebaknya wabah virus corona mengakibatkan sejumlah kegiatan kesenian, seperti pertunjukan, festival, konser, dan agenda seni, di berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah, terpaksa tertunda bahkan ada yang batal. Karena itu Pemerintah Provinsi Jateng perlu memberikan perhatian serius dalam hal ini.

Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT) Gunoto Saparie mengatakan, kehidupan kesenian di Jateng perlu mendapatkan dukungan dari pemerintah provinsi, kabupaten, dan kota. Hal ini karena para seniman dan pendukung kesenian akan mengalami masa sulit di tengah wabah corona ini.  Akibatnya, proses kreativitas dan aktivitas para seniman bisa terganggu. 

Padahal, lanjut Gunoto, kesenian berperan besar untuk menumbuhkan dan memelihara daya tahan masyarakat saat menghadapi corona. Kepanikan masyarakat harus dihilangkan, atau minimal dikurangi, dengan hiburan kesenian. Karena itu kesenian harus dapat bertahan dan berkembang selama masa krisis akibat virus corona.

“Kita tahu, selama masa krisis akibat corona ini, salah satu alternatif masyarakat untuk bertahan adalah dengan mendengarkan musik, menonton film atau pertunjukan seni, mendengarkan radio, atau menonton televisi. Ketika masyarakat diimbau agar bekerja dan berada di rumah, para seniman bisa tampil untuk menghibur agar tidak jenuh,” ujarnya.

Gunoto mengaku tidak sepenuhnya mengerti bagaimana regulasinya. Namun selama masa krisis akibat virus corona ini banyak seniman yang merugi karena penundaan pertunjukan dan pameran karya seni. Karena itu kinerja seniman Jateng perlu ditopang selama masa krisis ini.

Menurut Gunoto, pemerintah pusat maupun pemprov memang telah menyiapkan dana untuk perlindungan sosial dan stimulus ekonomi kepada masyarakat terpapar corona. Namun, dalam hal ini agaknya para seniman tidak menjadi penerima manfaat jaring pengaman sosial itu.

“Memang, sebagian seniman dapat bekerja secara daring (online) di rumah. Namun kondisi infrastruktur digital di setiap daerah kabupaten dan kota berbeda, sehingga ada sejumlah seniman yang mengeluhkan soal sinyal internet,” katanya.

Selain itu, tambah penyair ini, pemprov, pemkab, atau pemkot, jangan terlalu membebani para seniman dengan pajak. Ini berarti, pajak hiburan dan pajak pertambahan nilai bagi transaksi karya seni perlu ditangguhkan atau dikurangi. Hal ini sangat berarti, karena bisa menekan kerugian yang harus ditanggung seniman akibat pembatalan dan penundaan kegiatan seni. Ugl–st

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here