SEMARANG (Jatengdaily.com) — Hari Raya Imlek, di kawasan Pecinan Semarang Tengah menjadi pusat keramaian seperti, Pasar Semawis, Tuk Panjang, Opera Jalanan, pagelaran wayang Potehi, dan lainnya digelar untuk memperingati hari besar warga Tionghoa di Kota Semarang ini.
Pusat perdagangan Pecinan yang melekat dengan China Town itu merupakan salah satu kawasan yang dimiliki Kota Semarang selain kawasan Kampung Arab dan Kampung Melayu. Tentunya, setiap kawasan tersebut tentunya, memiliki sejarahnya masing-masing.
Gerbang Kampung Pecinan Semarang bisa dilihat di ujung Jalan KH Wahid Hasyim, Kota Semarang. Bangunan yang serba tembok di sekitarnya memiliki atap bertingkat.
Di bagian tengahnya ada papan nama berwarna biru. Tulisan dengan huruf Han Zi disertai huruf latin berbunyi “Pecinan Semarang” menghiasi papan tersebut.
Di sekitar Pecinan Semarang itu, melekat dengan bangunan kelenteng yang tersebar di sekitar Pecinan tersebut. Ada sembilan Kelenteng dengan bangunan serba warna merah. Sembilan klenteng tersebut antara lain, Kelenteng Siu Hok Bio di Jalan Wotgandul Timur No 38, Kelenteng Tek Hay Bio/Kwee Lak Kwa di Jalan Gang Pinggir No 105-107.
Lalu, Kelenteng Tay Kak Sie di Jalan Gang Lombok No 62, dan Kelenteng Kong Tik Soe di Jalan Gang Lombok Semarang Tengah.
Ada juga Kelenteng Hoo Hok Bio di Jalan Gang Cilik No 7, Kelenteng Tong Pek Bio di Jalan Gang Pinggir No 70, Kelenteng Wie Hwie Kiong di Jalan Sebandaran I No 26, Kelenteng Ling Hok Bio di Jalan Gang Pinggir No 110, dan Kelenteng See Hoo Kiong/Ma Tjouw Kiong Jalan Sebandaran I No 32.
Pemerhati Tionghoa Semarang, Yongkie Tio mengatakan, kawasan Pecinan di Semarang berbeda dengan kawasan pecinan lainnya. Menurutnya, Pecinan Semarang terbentuk bukan karena berkumpulnya suatu etnis dan kemudian berkembang menjadi sebuah perkampungan.
“Karena dulu di masa Belanda, ada pemberontakan yang melibatkan warga Tionghoa. Sehingga muncul aturan agar warga Tionghoa dikumpulkan dalam suatu wilayah agar bisa dipantau pergerakannya. Di Pecinanlah dulu orang-orang Tionghia dikumpulkan,” ujarnya.
Yongkie pun berkenan menceritakan asal muasal terbentuknya kampung Pecinan di Semarang tersebut lebih rinci. Alkisah, pada tahun 1740 orang-orang Tionghoa melakukan pemberontakan di Batavia. Hal tersebut membuat pembantaian etnis Tionghoa oleh Belanda saat itu tak bisa dihindarkan.
Situasi itu pun membuat warga Tionghoa berusaha melarikan diri ke arah timur menyusuri Pantai Utara (Pantura) untuk menghindari pembantaian tersebut. Sesampainya di Semarang, warga Tionghoa diterima dengan senang hati oleh Pakubuwono I dan bupati-bupati sekitar.
Saat itu Pakubuwono 1 melihat betapa besarnya potensi pemberontakan yang dilakukan warga Tionghoa terhadap Belanda dan Pakubuwono 1 pun bermaksud ingin menggalang kekuatan dengan warga Tionghoa untuk kemudian melawan VOC di Jepara. Ugl–st


