Bank Sampah untuk Tingkatkan Perekonomian Warga di Demak

0
07bank sampah demak

Setelah memilah sampah-sampah yang bisa didaur ulang, ibu-ibu desa Bogosari, Bakalrejo, Sarirejo, Tangkis dan Wedung menimbangnya untuk kemudian disetorkan di bank sampah. Foto: rie

DEMAK (Jatengdaily.com) – Sudah menjadi pengetahuan umum, Indonesia termasuk negara penyumbang sampah terbesar di dunia setelah Cina dan India. Maka itu lah berbagai upaya ditempuh untuk mengurangi timbunan sampah, di antaranya melalui gerakan pilah dan daur ulang.

Seperti dilakukan lima desa di dua kecamatan di Kabupaten Demak, yang mendeklarasikan pembentukan bank sampah untuk meningkatkan perekonomian. Lima desa tersebut adalah Bogosari, Tangkis, Bakalrejo, dan Sarirejo, keempatnya dari Kecamatan Guntur. Serta Desa Wedung, Kecamatan Wedung.

Di sela acara bertema “Ayo Pilah dan Tabung Sampah Kita Menjadi Emas Permata di Hatimu”, inisiator sekaligus pendamping Desa Bogosari Agus Romli mengungkapkan, deklarasi yang diikuti 296 anggota itu dimaksudkan menumbuhkan kepedulian masyarakat pada kelestarian lingkungan. Sekaligus meningkatan perekonomian warga di tengah pandemi, lewat pemanfaatan sampah sehingga memiliki nilai jual.

“Tak banyak masyarakat mengetahui adanya ‘emas’ dalam sampah di sekitar mereka. Padahal ketika mereka peduli, dengan menyulap limbah plastik menjadi pot bunga dan bernilai jual, bisa menjadi pemasukan tambahan,” ujarnya, Minggu (7/3/2021).

Bersama dua orang rekan pendamping, Abu Yahya Arozaq dan Aries Suprapti, Agus Romli menambahkan, kegiatan yang dirangkai dengan pelatihan bagi ibu-ibu dan remaja putus sekolah itu telah disetujui kepala desa di masing-masing desa. Para pucuk pimpinan di pemerintahan desa itu menyatakan dukungan, sebab pembentukan bank sampah tak hanya menjadikan lingkungan terjaga kebersihannya, namun pemilahan sampah juga mampu menambah penghasilan warga, utamanya di masa pandemi.

Kades Bogosari Muhammad Makruf menyampaikan, penting bagi masyarakat adanya kepedulian memelihara lingkungan. Jika tidak dipilah dan didaur ulang, sampah semakin hari akan semakin menumpuk hingga mengganggu kesehatan dan menimbulkan pemandangan tak sedap.

“Maka itu kami mendukung kegiatan pengelolaan sampah ini. Termasuk kehadiran para pendamping, yang bisa mengarahkan masyarakat memanfaatkan sampah melalui bank sampah,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah B3 dan Peningkatan Kapasitas Dinas Lingkungan hidup Kabupaten Demak Kusdarmawan menuturkan, program bank sampah adalah upaya edukasi terhadap warga untuk mengelola sampah dan meminimalisir potensi pencemaran lingkungan.

“Ini adalah upaya kita bersama untuk meminimalisir potensi pencemaran lingkungan dan menggerakkan perekonomian dari pengelolaan sampah,” ujarnya.

Lebih lanjut dijelaskan, saat ini di Kabupaten Demak telah terbentuk sekitar 150 bank sampah. Pihaknya juga telah mengusulkan kepada Bupati Demak agar membuat surat edaran kepada seluruh desa supaya membentuk bank sampah.

Kabar baiknya, sebelum deklarasi lima bank sampah yang dipusatkan di Bogosari itu telah terbentuk beberapa kelompok bank sampah di Kecamatan Guntur dan Wedung. Yakni empat desa di Guntur, serta 14 desa lainnya di Wedung. rie-yds

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version