Covid Varian Delta dan Muhasabah

Oleh Ahmad Rofiq

PANDEMI Covid-19 sudah memasuki bulan ke-14, namun tanda-tanda selesainya, masih belum nampak. Angka kematian karena covid-19, per-17/6/2021 seluruh dunia mencapai 3,83 juta. Indonesia 53.280, dan Jawa Tengah mencapai 14.278. Ada tambahan (+109) kematian dalam 24 jam terakhir. Dan perkembangan warga yang terpapar mencapai 15.395 kasus. Ada tambahan +1,884 per-24 jam terakhir.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebutkan, zona merah Jateng saat ini berada di Kabupaten Kudus, Jepara, Pati, Grobogan, Tegal, Brebes, Sragen, dan Demak (detik.com, 16/6/2021). Jika dikutip dari https://corona.jatengprov.go.id yang diperbarui pukul 12.00 WIB, maka jumlah kasus Corona yang dirawat dan isolasi mandiri di zona merah yaitu: Kudus: 2.124 orang;

Sragen : 886 orang; Demak : 800 orang; Jepara : 398 orang; Brebes : 391 orang; Tegal : 607 orang; Grobogan : 337 orang; dan Pati : 238 orang. Kota Semarang sendiri per-17/6/2021 yang terpapar mencapai 1.564 orang, jumlah yang meninggal 3.307 orang.

Dalam penjelasan Gubernur, diyakini Covid-19 varian Delta yang diduga kuat ini berasal dari India, dan tingkat penularannya sangat cepat dan “sangat mematikan”. Oleh karena itu, wacana lock down atau PSBB muncul. Walikota Semarang mengeluarkan Perwal Nomor: 26 Tahun 2021 Tentang Pelaksanaan Pembatasan Kegiatan Masyarakat Dalam Rangka Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Kota Semarang.

Ada pertanyaan yang mengusik nurani kita semua. Mengapa bangsa Indonesia yang secara kuantitas, merupakan negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, namun kenapa ujian covid-19 masih belum juga berakhir? Dan di hari-hari dua minggu terakhir ini, angka mereka yang terpapar cenderung naik? Meminjam Bahasa Ebiet G. Ade, “mungkinkah Tuhan sudah bosan melihat tigkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa”?

Ini ditambah keprihatinan, masih ada Sebagian petinggi negara ini, yang di tengah kesedihan dampak pandemic Covid-19 ini, akan memungut pajak sembako dan layanan pendidikan? Sembako tentu yang menjadi sasaran adalah rakyat kecil? Bukankah Pendidikan seharusnya menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah? Jika masyarakat melalui Pendidikan swasta, dari TK sampai PT, jumlah mereka ini junlahnya lebih besar.

Karena itu, kepada para petinggi negeri ini, bukalah hati dan perasaan empati, untuk meninjau Kembali rencana memajaki sembako dan Lembaga Pendidikan? Mau dikemanakan sebagian besar rakyat negeri ini, jika untuk bertahan hidup saja susah, mau sekolah saja dipajaki? Sudah ada BOS dan BOP saja, banyak mereka yang terpaksa putus sekolah. Laman kompas.com (07/03/2021) merilis sebanyak 1.373.836 Kasus Covid-19 di Indonesia akan mengakibatkan tingginya Jumlah Anak Putus Sekolah. Belum lagi persoalan ekonomi lainnya.

Sebagai warga yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama, tentu sangat menyadari bahwa musibah diturunkan oleh Allah di antaranya karena human error atau kesalahan manusia (QS. Asy-Syura (42): 30). Kedua, musibah terjadi karena sudah ada catatannya di Lauhil Mahfudh (QS. Al-Hadid (57): 23); dan ketiga, musibah itu terjadi atas ijin Allah (QS. At-Taghabun (64): 11). Allah menguji atau menurunkan bala’ kepada hamba-Nya, termasuk bangsa Indonesia, untuk menguji kesabaran dan penyadaran, apakah masih memiliki kesadaran bahwa mereka ini adalah milik Allah, dan pasti akan kembali kepada-Nya (QS. Al-Baqarah (2): 155-156).

Karena itu, seharusnya para Umara’ yang diamanati rakyat, seharusnya fokus pada penanganan warga yang terpapar covid-19. Hal-hal yang terkait “kegamangan” pemerintah untuk menghimpun pajak dari rakyatnya, tidak terpenuhi, tentu masih banyak cara yang bisa dilakukan, tanpa harus memberatkan rakyat kecil. Di satu sisi, korupsi masih cenderung terus berkembang di berbagai lini, dampak covid-19 ini, harus diarahkan pada mereka rakyat kecil dapat bekerja dalam berbagai sektor, agar mereka tetap berpenghasilan, sehingga dapat berbelanja untuk menutupi kebutuhan mereka. Selain itu, juga menjadikan momentum ini sebagai saat yang sangat tepat untuk melakukan muhasabah secara nasional.

Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. Al-A’raf (7): 96). Kiranya kita semua perlu membuka hati dan fikiran kita untuk merenung, bertanya pada diri kita, sudahkah berbuat adil dan menjalankan hukum dengan keadilan, ataukah kita merasa lebih nyaman, dalam menjalankan amanat yang kita emban, untuk memenuhi keinginan dan nafsu pribadi, kelompok tertentu, dan mengabaikan keadilan untuk semua rakyat Indonesia ini.

Marilah kita bermuhasabah dan bertaubat kepada Allah dengan taubatan nashuha. Mari kita memohon kepada Allah, supaya ‘Arsy bertasbih memuji Tuhan mereka, mereka beriman, dan memohonkan ampunan kepada orang-orang yang beriman seraya mengucapkan: “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nya”. (QS. Ghafir (40): 7). Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menghentikan berbagai bencana, pandemi, dan segala macam penyakit yang menimpa bangsa ini, khususnya saudara-saudara kita yang terdampak kurban bencana. Hasbuna Allah wa ni’ma l-wakil ni’ma l-maula wa ni’man n-nashir. Laa haula walaa quwwata illaa biLlaahi l-‘aliyyi l-‘adhim.

Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarajat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua DPS Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung (SA) Semarang. Jatengdaily.com-st