SEMARANG (Jatengdaily.com)- Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika (FSM), Universitas Diponegoro (UNDIP) menggelar Diskusi Ilmiah Online berjudul “Strategi Riset dan Publikasi Berbasis Data Sekunder di Masa Pandemi Covid-19: Kajian Peraturan, Validitas Keilmiahan, dan Implikasinya“, Rabu (14/7/2021).
Ketua Departemen Biologi, Prof Drs Sapto Purnomo Putro MSi PhD mengatakan, tidak dipungkiri masa pandemi Covid-19 saat ini, memang tidaklah mudah bagi kalangan akademisi untuk melakukan penelitian. Termasuk mahasiswa dalam melakukan skripsi.
Di satu sisi, kebutuhan meluluskan mahasiswa menjadi kewajiban program studi dan universitas.
‘’Untuk tidak menghilangkan keilmiahannya, maka dibutuhkan strategi, bagaimana mahasiswa mengambil data sekunder dan mengolahnya dalam menyelesaikan skripsinya. Diskusi ini diharapkan bisa menjawab problematika di lapangan,’’ jelasnya.
Dalam kesempatan ini hadir sejumlah nara sumber. Diantaranya, adalah dosen dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Dr Ir Musthofa Lutfi MP dan Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH), Universitas Gadjah Mada (UGM), drh Agung Budiyanto MP PhD.
Musthofa Lutfi mengatakan, tidak dipungkiri masa pandemi Covid-19 saat ini sangat menguras energi. Termasuk para mahasiswa yang berada di tingkat akhir, terkait dengan pengerjaan skripsi, untuk tugas akhirnya. Pasalnya, untuk menjalankan tugas akhir skripsi, di masa pandemi Covid-19 saat ini tidaklah mudah.
Oleh karena itu butuh kreativitas bagi mahasiswa untuk melakukan penelitiannya di rumah. Sebab, di masa pandemi saat ini, untuk menyiasati penelitian tidak bisa langsung ke tempat penelitian, yakni di industri-industri.
‘’Maka, untuk menyiasatinya, data-data sekunder bisa diambil dari industrinya dan dilakukan pengolahan data sekunder di rumah, sesuai dengan materi penelitiannya. Jadi, bagaimana data-data sekunder itu diarahkan ke arah riset,’’ jelas Mustafa.
Mustafa mengatakan, untuk mendapatkan akurasi sampai 50 persen data sekunder, memang tidaklah mudah. Maka, di sini, dosen pembimbing harus lebih menghargai penelitian mahasiswa. Jadi yang dilihat, adalah bagaimana proses skripisinya, bukan semata-mata pengolahan analisa dari data sekunder.
Data Sekunder Sah
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Gadjah Mada (UGM), drh Agung Budiyanto MP PhD mengatakan, untuk menyiasati bagaimana skripsi tepat waktu di tengah pandemi Covid-19 maka, butuh beberapa strategi.
Ketika penelitian sekalipun dianggap tidak aman, maka jangan dilakukan, solusinya adalah menggunakan data sekunder.
Data sekunder apakah bisa dan sah digunakan? ‘’Bisa, dengan melihat kebutuhan penelitian, maka bisa mengambil dari data sekunder,’’ jelasnya.
Data sekunder bisa diambil dari memanfaatkan sumber data dari publikasi pemerintah, situs, laporan ilmiah dari lembaga penelitian dan instansi lain, sepanjang data-data itu akurat dan bisa dipertanggungjawabkan. Sehingga data sekunder ilmiahnya bisa diterima
‘’Tidak ada perbedaan antara data primer dan sekunder, prosesnya sama, yang beda hanya sumber datanya. Data primer yang membuat peneliti sendiri, sedangkan data sekunder, mengambil yang sudah ada. Penelitian yang menggunakan data sekunder, tetap layak dan sah,’’ jelasnya.
Lebih lanjut menurutnya, jika mau menyusun skripsi, yang diperhatikan adalah bagaimana sumbernya data sekunder dan proses pembuatan skripsi berjalan dengan baik dan bisa mengolahnya dengan baik.
‘’Yang penting, mahasiswa menguasai konsep teoritis dimana data sekundernya sumbernya jelas, valid, bisa menjawab penelitian dan penelitian skripsinya ditulis dan disusun sesuai level sarjana, dengan kaidah yang benar, dan dengan pendampingan dosen pembimbing,’’ jelasnya. She
0



