Dilema Pemulihan Ekonomi Sragen

7 Min Read

Oleh: Indah Nurvitasari, SST
Statistisi Ahli Pertama
BPS Kabupaten Sragen

BADAN Pusat Statistik Kabupaten Sragen mencatat Perekonomian Kabupaten Sragen tahun 2020 terkontraksi sebesar -1,81 persen. Pertumbuhan hanya terjadi pada beberapa sektor, Sedangkan sebagian besar sektor mengalami kontraksi selama pandemi COVID-19.

Jika dibandingkan dengan ekonomi Jawa Tengah, Sragen masih lebih baik pertumbuhannya, di atas angka Jawa Tengah (-2,65 persen)maupun nasional (-2,19 persen). Artinya ekonomi Sragen masih lebih perkasa menahan dampak pandemi COVID-19.

Dari sisi produksi, dampak COVID-19 selama 2020 dirasakan sektor yang mendominasi ekonomi Kabupaten Sragen yaitu sektor industri pengolahan. Sektor superior Kabupaten Sragen ini tidak mampu menahan dampak COVID-19, sehingga terkontraksi sebesar-1,52 persen. Sektor yang memiliki peran 37,70 persen inilah yang menyumbang terbesar bagi penyebab terkontraksinya ekonomi Sragen.

Selama pandemi COVID-19 permintaan barang terus menurun, Sementara biaya produksi tetap, sehingga industri mengurangi produksi dan terjadi banyak PHK di beberapa pabrik yang ada di Sragen. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang paling terdampak selama 2020.

Dari sisi pegeluaran, dampak covid-19 sangat mempengaruhi pengeluaran konsumsi rumah tangga. Komponen konsumsi rumah tangga merupakan komponen yang selalu mendominasi di atas 70 persen ekonomi Sragen selama ini dari sisi pengeluaran.

Namun di 2020, komponen ini hanya mendominasi 69 persen ekonomi sragen. Bahkan selama masa pandemi COVID-19 terkontraksi sebesar -1,13 persen dan menjadi penyumbang terbesar ekonomi sragen terkontraksi. Tidak bisa dipungkiri sejak adanya covid-19, masyarakat mulai mengurangi beberapa konsumsinya terutama pengeluaran untuk transportasi, makan di luar, menginap di hotel, dan berekreasi.

Percepatan Pemulihan Ekonomi
Dengan terpuruknya ekonomi Sragen selama 2020, mendorong semua pihak baik pemerintah, pengusaha, maupun masyarakat Sragen bersama-sama mengupayakan solusi extraordinary untuk segera memulihkan ekonomi Sragen.

Untuk mengembalikan situasi ekonomi Sragen kembali menjadi tumbuh lebih baik salah satunya adalah dengan menjadikan sektor atau komponen penyumbang terbesar ekonomi Sragen untuk tetap mendapat perhatian tanpa mengabaikan pengendalian penyebaran COVID-19.

Dalam musrenbang yang diselenggarakan di aula Setda 31 Maret 2021, Bupati Sragen menerangkan “Ada beberapa skema pembangunan yang akan berdampak dengan adanya Covid-19 saat ini. Selaras dengan hal ini ditahun 2021 kita menyesuaikan tema pembangunan dengan penekanan pemulihan ketahanan ekonomi dan peningkatan SDM kita, pembangunan ekonomi makro kecil dan menengah, penguatan penguatan ekonomi untuk terus kita lakukan.”

Pandemi sudah berlangsung selama setahun ini, Namun belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Sementara itu untuk segera memulihkan ekonomi Sragen, Pemerintah Kabupaten Sragen mulai menetapkan beberapa kebijakan. Diantaranya:

Program penguatan UMKM melalui bantuan pemerintah bagi pelaku UMKM (BPUM) tahun 2021

BPUM merupakan bantuan pemerintah pusat yang diberikan untuk menyubsidi pelaku usaha di masa pandemi. Masyarakat yang memiliki usaha mikro atau kecil bisa memanfaatkan program BUPM. Nominalnya sebesar 1,2 juta atau lebih kecil dari tahun lalu yaitu 2,4 juta. Pendaftaran dibuka sejak 12 April 2021 dan akan ditutup pada 22 April 2021. Ada beberapa perubahan pada mekanisme dan bantuan BPUM kali ini. Jika pada 2020 pendaftaran bisa dilakukan cukup dengan online, sekarang pendaftaran dilakukan offline dengan mengumpulkan berkas langsung ke Disperinkop UMKM.

Membuka Night Market Sukowati pada Sabtu malam atau malam minggu.

Night Market Sukowati merupakan semacam pasar kuliner yang menjajakkan aneka makanan. Buka hanya pada Sabtu malam atau malam Minggu mulai pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Terdapat puluhan pedagang yang menjajakkan aneka kuliner. Baik kuliner tradisional seperti gethuk, gablok, tiwul, plencing hingga kuliner nasi uduk khas Malaysia.

Program cash for work (CFW) atau padat karya tunai (PKT) bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Program CFW atau PKT ini merupakan tindak lanjut mitigasi Covid-19 yang dilakukan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen PUPR). Kemen PUPR melihat banyak kalangan MBR yang terdampak Covid-19. Karenanya Kemen PUPR membantu mereka dengan program PKT lewat Kegiatan Kota Tanpa Kumuh (Kotaku). Penetapan lokasi dan besaran bantuan infrastruktur berbasis masyarakat tahun 2021 itu didasarkan pada Keputusan Menteri PUPR No. 177/KPTS/M/2021

Dilema Pemulihan Ekonomi
Beberapa kebijakan yang diambil Pemkab Sragen sudah mulai diterapkan. Namun dalam prakteknya, menuai beberapa kendala. Salah satunya yaitu Kebijakan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen yang membuka Night Market Sukowati saat terjadi peningkatan kasus COVID-19 cukup signifikan menuai kontroversi.
Membuka Night Market Sukowati sama dengan mengundang kerumunan warga.

Night Market Sukowati dibuka pada Sabtu (17/4/2021). Di hari yang sama, angka kasus kematian pasien terkonfirmasi positif Covid-19 mencapai enam orang. Sehari sebelumnya, Jumat (16/4/2021), kasus kematian akibat Covid-19 mencapai empat orang. Sementara penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 rata-rata mencapai 30 orang per hari. (solopos.com, 19 April 2021)

Kita tidak bisa memastikan ada/tidaknya kaitan pembukaan Night Market Sukowati dengan kenaikan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 yang terjadi April ini. Namun lebih baik rasanya kebijakan-kebijakan yang diambil untuk mempercepat pemulihan ekonomi yang tidak sejalan dengan upaya penanggulangan dan pencegahan Covid-19 bisa ditinjau ulang. Jangan ada yang diperketat, tapi di sisi lain ada yang dilonggarkan. Hal itu justru tidak menyelesaikan masalah.

Atau bisa juga tetap memulihkan ekonomi tetapi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat. Butuh sedikit kerja keras dan kerja sama dari berbagai pihak. Misal dari sisi perjual (UMKM) dan pembeli sama-sama menerapkan prokes seperti menghindari kerumunan, menyediakan handsanitizer atau tempat cuci tangan, dan wajib memakai masker. Dari sisi pemerintah, misal memperbantukan satpol PP untuk menjamin tidak ada kerumunan saat proses jual-beli berlangsung.

Night Market Sukowati hanya salah satu contoh kebijakan yang menuai kontroversi. Dari sisi pemulihan ekonomi, keberadaan Night Market Sukowati dinilai sangat baik. Dibukanya Night Market bisa menjadi sarana ruang gerak UMKM untuk bertransaksi.

Memulai geliatnya ekonomi di Sragen di tengah keterbatasan dan tetap terkendali. Konsumsi rumah tangga pun jadi meningkat, seiring masyarakat berdatangan membeli jajanan di Night Market. Namun dari sisi pengendalian covid-19, jelas Night Market akan mengundang kerumunan.

Masih banyak kebijakan pemulihan ekonomi lain yang menimbulkan kerumunan yang akan lebih disorot oleh masyarakat. Oleh karena itu perlu kematangan dalam menetapkan suatu kebijakan. Tinjau ulang dan terus dikaji hingga kebijakan itu tepat sasaran tanpa mengabaikan penyebaran COVID-19. Jatengdaily.com-yds

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.