Gunung Merapi Sudah Luncurkan Awan Panas Sebanyak 95 Kali

Gunung Merapi kembali meluncurkan awan panas Kamis (28/1/2021). Foto: dok.bpptkg

YOGYAKARTA (Jatengdaily.com) – Gunung Merapi pada Kamis (28/1/2021) masih beraktivitas tinggi. Tercatat terjadi awan panas guguran pukul 10.13 WIB.

BPPTKG dalam akun twitternya menyebutkan, awan panas tercatat di seismogram dengan amplitudo 69 mm & durasi 175 detik, tinggi kolom tak teramati, cuaca berkabut, estimasi jarak luncur 2000 m ke arah barat daya (hulu Kali Krasak & Boyong).

Selain itu, setelah terjadi awan panas, hujan mengguyur puncak Merapi mulai pukul 14.58 hingga 15.28 WIB. Total curah hujan mencapai 17 mm.

Sementara itu Kepala Badan Geologi, Eko Budi Lelono dalam keterangan pers yang diunggah di chanel youtube BPPTKG, Kamis (28/1/2021) menyatakan peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Merapi mulai terjadi sejak Oktober 2020 sehingga BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi meningkatkan statusnya menjadi Siaga pada tanggal 5 November 2020.

Eko Budi Lelono menyampaikan bahwa pada tanggal 4 Januari 2021, Gunung Merapi akhirnya mengalami erupsi yaitu erupsi efusif yang ditandai dengan munculnya api diam di sekitar Lava 1997.

Eko menyebut bahwa tipe erupsi Gunung Merapi merupakan tipe yang istimewa, sehingga diabadikan menjadi salah satu tipe erupsi gunung api. Aktivitas tipe erupsi Merapi berupa pertumbuhan kubah lava yang disertai dengan guguran lava dan awan panas guguran. “Tahun 2021 ini tampaknya Gunung Merapi kembali ke tipe aslinya,” ungkap Eko.

Menurut catatan BPPTKG, awan panas pertama di Gunung Merapi terjadi pada tanggal 7 Januari 2021. “Hingga saat ini tercatat 95 awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal 3 km dari puncak Gunung Merapi.” ujar Eko.

Namun Eko menyampaikan bahwa jarak luncur awan panas ini masih dalam jarak rekomendasi yang ditetapkan oleh BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi.

Eko mengungkapkan bahwa pada hari Rabu (27/1) Gunung Merapi mengeluarkan rentetan awanpanas guguran. “Rabu 27 Januari 2021 terjadi 52 awanpanas guguran di Gunung Merapi dengan jarak luncur maksimal 3 km dari puncak”.

Eko mengabarkan bahwa hujan abu sempat terjadi di beberapa tempat, namun menurutnya hal tersebut wajar karena material halus hasil erupsi dapat terbawa oleh angin.

Paska kejadian awan panas beruntun tersebut, aktivitas Gunung Merapi masih didominasi oleh awan panas guguran dan guguran lava. Data kegempaan masih menunjukkan aktivitas guguran, sedangkan data deformasi dari metode EDM terhitung masih cukup landai.

Eko mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi akibat curah hujan yang masih terjadi di Indonesia, terutama di sungai-sungai yang berhulu di Merapi yang bisa terjadi lahar akibat dipicu oleh curah hujan di puncak.

Terkait aktivitas Merapi yang masih tinggi, Eko mengungkapkan komitmennya dalam mitigasi bahaya Gunung Merapi yaitu melalui PVMBG-BPPTKG yang terus melakukan kegiatan pemantauan, penilaian bahaya, penyebaran informasi, dan sosialisasi aktivitas Gunung Merapi terkini.

“Masyarakat diimbau untuk menjauhi daerah bahaya serta selalu mengikuti informasi aktivitas terkini dan rekomendasi dari BPPTKG, pemerintah daerah, dan BPBD setempat”. pungkasnya. yds

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here