Oleh Ahmad Rofiq
SUDAH menjadi agenda rutin tahunan, sekolah di lingkungan Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, menggelar rapat kerja. SD Isriati 2, Kamis, 1/7/2021 memulai raker, untuk mengevaluasi dan menyusun program ke depan. Visi mencetak generasi khairu ummah ini terpatri sangat kuat, di jajaran civitas akademika SD Isba 2 (SD Isriati Baiturrahman 2).
Meskipun secara geografis dan psiko-ekonomis para orang tua, tidak sama dengan SD Isba 1, namun secara perlahan namun pasti, impian dan obsesi untuk berprestasi secara internasional juga dapat diraihnya. Soal information technology (IT), SD Isba juga tidak kalah. Karena sejak saya diamanati sebagai Ketua II yang mengurus bidang Pendidikan dikondisikan agar sesama Lembaga Pendidikan di bawah naungan YPKPI, ibarat saudara kandung, yang harus sama-sama maju “sak-iyek sak-eko proyo”. Konstestasi itu harus terus dijadikan spirit untuk maju, tetapi dengan cara-cara yang sehat dengan berbagai kekuatan-kelemahan masing-masing, untuk mampu mengubah tantangan menjadi peluang.
SD Isba 2 juga ternyata telah menunjukkan prestasi internasionalnya. Belum lama ini, 6/5/2021 Ixchel Maureen Zhiambodo menyabet medali perak di grade level 2 IKMC Pre Ecolier di ajang International Kangaroo Mathematics Contest 2021 dan medali emas primary 2 Thailand International Mathematical Olympiad (TIMO). Hafiz Al-Rasyid Atha Triyori meraih medal emas di ajang Primary 1 Thailand International Mathematical Olympiade (Timo). SD Isba 1 dan 2 ini beberapa tahun terakhir ini, dipimpin oleh Amir Yusuf, S.Pd., M.Pd., dan Drs. H. Musaddat Masykur, M.Pd. Sama-sama pernah menjadi kepala sekolah di SD Isba 1 dan 2.
SD Isba 2 yang secara geografis beralamat di Kompleks Islamic Center Kota Semarang ini, Jl. Abdurrahman Shaleh No. 285 Manyaran ini, juga banyak prestasi di tingkat nasionalnya.
Ada 19 tingkat nasional, 7 tingkat provinsi, 83 tingkat kota, dan 4 tingkat kecamatan. Yang jelas, SD Isba 2 sudah memiliki Drumband yang pertama kali mengikuti event nasional, mampu menggondol juara II di Yogyakarta. Selain itu, banyak kejuaraan disabet anak-anak SD Isba 2, di antaranya: Medali perunggu Poomsae, Kejuaraan Taekwondo tingkat Jawa Tengah, medali perunggu Prakadet Poomsae Kejuaraan nasional Taekwondo Championship MOK’s Open Kroyugi. Juara 2 Kejuaraan Drumband Ketahanan dan Ketepatan Berbaris 2000 m, Jarak Pendek 400 m, Juara 1 Drumband Drum Concert Competition and Exhibition tingkat Jawa Tengah, Juara 1 Kaligrafi, Juara 1 Pesta Siaga, dan juara 3 lomba Karate-Kumite.
Hidup ini adalah untuk berprestasi, karena Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan mati dan hidup adalah untuk berkontestasi mana di antara kita yang amal perbuatan terbaik. Ini tentu tidak ada kata lain, kecuali disebut dengan prestasi. Jadi kalau ada pejabat yang mengatakan bahwa prestasi, yang disimbolkan dengan angka NEM yang tinggi atau kalau di kampus disebut dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif), tidak ada korelasinya – atau dalam bahasa saya, tidak berbanding lurus dengan – kesuksesan seseorang, maka pejabat tersebut, tidak faham dan naif, apalagi jika dia seharusnya yang sangat bertanggung jawab dalam urusannya. Jika dia dalam kedudukan sebagai pengamat, atau presiden director suatu perusahaan, masih bisa dimaklumi, statemen yang “cenderung meracuni” semangat dan spirit belajar anak-anak didik untuk meraih prestasi terbaiknya.
Belum lagi soal akreditasi sekolah, para pendahulu dan perintis konsep akreditasi sekolah ini, adalah parameter minimal yang sudah diatur di dalam UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan aturan turunan lainnya, tetapi tiba-tiba dimentahkan oleh seorang Menteri yang membidanginya, bahwa akreditasi itu tidak penting. Sungguh aneh bin ajaib, naif, dan ironic. Hendak dibawa ke mana dunia pendidikan di negeri +62 ini brow? Quo vadis Lembaga Pendidikan kita?
Sudah barang tentu, prestasi internasional tersebut, sangat-sangat membanggakan, bukan saja bagi anak-anak tersebut, kedua orang tuanya tentu sangat bangga, kepada sekolah dan dewan guru, khususnya guru yang membidangi lomba-lomba tersebut. Demikian juga YPKPI, khususnya saya yang diamanati menjadi Ketua II yang membidangi Pendidikan. Pasti Walikota Semarang Pak Hendi dan Gubernur Jawa Tengah Pak GP, ikut bangga terhadap SD Isriati 2.
Soal bagaimana penghargaan dari beliau-beliau tentu dalam situasi pandemi Covid-19, anak-anak dan kedua orang tua mereka, juga pengurus Yayasan, sangat memahami. Bagi peserta didik SD Isba 2 juga, selain prestasi akademik, non-akademik, juga pembelajaran agama, hafalan Al-Qur’an, juz ‘amma, dan tambahan surat-surat tertentu di luar juz ‘Amma. Praktik amaliyah, berupa shalat wajib dhuhur dan ashar (jika tidak daring), lulus kelas 6, peserta didik hafal juz ‘Amma, juga kegiatan sosial untuk melatih peserta didik memiliki sifat dan sikap kedermawanan sosial (filantropik).
Selamat berapat-kerja, edar waktu hanya ada 3. Masa lalu, kini, dan esok. Kemarin tidak pernah terulang lagi, tetapi kita bisa belajar dari masa lalu. Kini, kita melaksanakan rencana kita, hasilnya semoga sesuai rencana, dan esok, kita susun rencana, agar ke depan, kita menjadi SD Isba 2 yang makin diminati dan dipercaya masyarakat. Teruslah berprestasi, siapkan anak-anak menjadi putra-putri generasi penerus bangsa ini yang berprestasi, buang jauh-jauh statemen pejabat atau siapapun, bahwa NEM, IPK, dan akreditasi itu tidak penting dan tidak berbanding lurus dengan kesuksesan seseorang. Semoga kesuksesan dan keberkahan menyelimuti Anda semua. Allah a’lam.
Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung JAwa Tengah, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua DPS Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung (SA) Semarang. Jatengdaily.com-st
0



