PTM hari pertama di SMAN 4 Semarang. Foto: adri

SEMARANG (Jatengdaily.com) -Sebanyak 356 siswa SMAN 4 Kota Semarang, mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas, Senin (30/8/2021). Sebagai sekolah penyandang Adiwiyata alias sekolah peduli lingkungan, siswa dilibatkan dalam pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) secara mandiri. Diantaranya, setiap siswa yang mengikuti PTM terbatas diminta membersihkan meja dan kursinya sendiri.

“Kami minta para siswa bawa dua kain lap. Satu untuk lap meja, dan kursinya masing-masing untuk menjaga kebersihan kelas supaya bersih dan enak dipandang,” kata Kepala Sekolah SMAN 4 Semarang, Wiji Eny Ngudi Rahayu, Senin (30/8/2021).

Terkait siswa yang mengikuti PTM terbatas dari 356 orang terbagi dalam 21 kelas. Para siswa yang ikut PTM terbatas, dari kelas XI dan kelas XII.  “Sekitar 16 kelas diisi siswa kelas XI. Sisanya dari kelas XII. Setiap kelas masing-masing ada 18 siswa,” ungkapnya.

Sedangkan pihak sekolah memastikan pelaksanaan protokol kesehatan selama PTM. Tidak hanya di sekolah, tapi juta memastikan protokol kesehatan dilakukan siswa sejak berangkat hingga pulang ke rumah.

“Siswa yang ikut PTM harus mendapat izin orangtua, siswa berangkat bawa motor sendiri, dan dijemput orangtua. Sebagian siswa tetap pembelajaran jarak jauh (PJJ),” jelasnya.

Sedangkan usai selesai PTM, seluruh ruangan sekolah tetap disterilkan dengan penyemprotan disinfektan. “Kegiatan ini berlangsung sampai 10 September 2021. Nanti kita gilir, siswa yang belum mendapatkan kesempatan PTM akan dijadwalkan,” terangnya.

Salah satu siswa Kelas XII IPS 1 SMAN 4 Semarang, Hanif Aldi Fachri mengaku senang sudah mulai berangkat sekolah lagi. Proses belajar tatap muka terbatas yang digelar perdana di sekolahannya berlangsung selama tiga jam. “Di kelas ada empat mata pelajaran. Setiap pelajaran berlangsung kurang lebih 30 menit,” jelasnya.

Bagi dirinya belajar tatap muka di kelas lebih greget ketimbang mengisi waktu dengan belajar online di rumah. Selain kerap gagal fokus dan bosan, ia menganggap materi yang disampaikan dalam belajar online terkadang sulit dipahami.

“Makanya saya kepenginnya mending tetap PTM seterusnya, karena nangkep materi pelajarannya gampang ketimbang belajar online kan banyak disambi-sambi jadinya tidak fokus,” tuturnya. Adri-she