Jateng Bershalawat, Habib Syech Minta Umat Jangan Sebarkan Hoaks

Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf didampingi Kepala Kanwil Kementerian Agama Jateng Mustain Ahmad, Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Kepala Biro Perekonomian Moh Masrofi dan Pengasuh Ponpes Al Quraniy Azzayadiy Solo, KH Abdul Karim (Gus Karim) memimpin Jateng Bershalawat di kediamanya Gedung Bustanul 'Asyiqin Majelis Ahbaabul Musthofa Jalan Kahar Muzakir 12, Semanggi, Pasar Kliwon, Kota Surakarta, Sabtu malam (28/8).

SOLO (Jatengdaily.com) – Jateng Bershalawat, kembali digelar setelah libur hampir 1,5 tahun akibat pandemi Covid-19, Sabtu malam (28/8). Penampilan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf mengobati kerinduan para Syechermania dari berbagai daerah. ‘’Akibat pandemi Covid-19 kegiatan Jateng Bershalawat yang rutin diselenggarakan di berbagai daerah hampir 1,5 tahun libur,’’ kata Habib Syech.

Acara berlangsung secara luring dan daring. Yang hadir secara luring atau langsung di kediaman Habib Syech, Gedung Bustanul ‘Asyiqin Majelis Ahbaabul Musthofa Jalan Kahar Muzakir 12, Semanggi, Pasar Kliwon, Kota Surakarta.

Acara itu juga disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf. Selain itu, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo juga menyiarkan acara tersebut melalui media sosial pribadinya.

Di Kediaman Habib Syech hadir Kepala Kanwil Kementerian Agama Jateng Mustain Ahmad, Ketua Umum MUI Jateng KH Ahmad Darodji, Kepala Biro Perekonomian Moh Masrofi dan Pengasuh Ponpes Al Quraniy Azzayadiy Solo, KH Abdul Karim (Gus Karim).

Gubernur Ganjar Pranowo, Wakil Gubernur TajYasin Maimoen, para bupati/wali kota se-Jateng, forkompimda dan Syechermania mengikuti melalui chanel Youtube dan Zoom. ‘’Alhamdulillah kami terharu hingga menitikkan air mata dengan lantunan shalawat yang merdu,’’ tutur Mustain Ahmad.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo sebenarnya dijadwalkan mengikuti acara itu. Namun karena dinas di Jakarta, dia berhalangan hadir. Meski begitu, saat perjalanan pulang ke Semarang dan acara sedang berlangsung, Ganjar Pranowo menyempatkan berhenti di rest area Palimanan untuk memberikan sambutan secara virtual.

Ganjar Pranowo sendiri meminta maaf kepada Habib Syech dan Syechermania karena tidak bisa hadir secara langsung mengikuti Jateng Bershalawat. “Saya mohon maaf tidak bisa hadir. Saya senang karena Jateng Bershalawat kembali digelar. Mudah-mudahan dengan Jateng Bershalawat menjadikan kita semakin tangguh,” katanya.

Selain itu, Ganjar berharap Jateng Bershalawat bisa meningkatkan kepedulian kepada sesama yang sedang kesulitan dan peduli pada tenaga kesehatan yang kini sedang berjuang. “Alhamdulillah, penanganan Covid-19 di Jateng berjalan baik. Saya terima kasih pada semua pihak, jajaran Forkompimda dan lainnya karena telah bekerja keras menangani ini,” katanya.

Dengan begitu, dia berharap kondisi akan kembali membaik, dan kalau itu sudah terjadi, masyarakat bisa kembali hidup normal termasuk bisa menggelar Jateng Bershalawat lagi seperti dulu.

“Saya sudah kangen. Saya kangen dengan nuansa ini yang setiap saya hadir itu, masyaallah, getarannya luar biasa. Ribuan Syechermania hadir. Mari kita mengetuk langit dengan shalawat. Saya terima kasih pada Habib Syech yang selalu mendoakan kami dan memberikan teladan. Saya doakan panjenengan sehat, dan Syechermania juga sehat serta tangguh,” kata Ganjar.

Secara Daring

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengaku merindukan sosok Ganjar Pranowo. Praktis selama pandemi, Habib Syech memang jarang bertemu orang nomor satu di Jawa Tengah itu.

Padahal biasanya, setiap bulan Habib Syech bertemu Ganjar Pranowo dalam ajang Jateng Bershalawat. Namun karena pandemi, acara rutin itu dihentikan dan beberapa kali digelar secara daring.

“Pak Ganjar, saya super kangen sama pak Ganjar. Kala wau kalih istri kulo, kulo rodo nangis (tadi saya bersama istri, saya agak menangis). Iki piye kok dulurku malah ora teko (ini bagaimana saudara saya malah tidak datang),” kata Habib Syech.

Tetapi Habib Syech memaklumi, apalagi Ganjar Pranowo menyempatkan untuk memberikan sambutan di tengah perjalanannya. “Tapi alhamdulillah, dengan Pak Ganjar sambutan meskipun daring, saya senang sekali. Ningali njenengan (melihat bapak) sehat saya sangat senang. Semoga bapak sehat, sukses selalu dan Insya Allah Jateng lebih baik,” tuturnya. Habib Syech mendoakan semoga dengan shalawat yang dilantunkan, pandemi segera berlalu.

Pengasuh Ponpes Al Quraniy Azzayadiy Solo, KH Abdul Karim (Gus Karim) dalam tausiahnya mengingatkan umat melalui hadist yang disampaikan Sayyidina Ali Karamallahu wajhah. ‘’Barangsiapa yang hidup di dunia tidak punya sunnatullah dan sunnaturrasul dan tidak punya sunnah para kekasih Allah, sesungguhnya orang yang seperti itu tidak memiliki apapun’’. Yang dimaksud sunnatullah atau sunnaturrasul adalah kesukaan (keremenan, Jawa red) Allah dan Rasul.

‘’Wahai Ali, apa yang disukai Allah,’’ tanya Guru Ngaji Presiden Joko Widodo itu. Gus Karim mengatakan, salah satu yang dicintai Allah adalah kitmanus Sirri yaitu menyembunyikan atau menyimpan rahasia pribadi aib orang lain. ‘’Mari kita perhatikan, hari ini banyak orang yang suka mengumbar aib orang lain. Bahkan aib orang lain dikorek-korek supaya muncul. Mari kita hentikan kebiasan seperti ini supaya kita dicintai Allah,’’ katanya.

Gus Karim kemudian menyampaikan kisah yang terjadi di zaman Rasulullah Saw. Usai shalat Maghrib, para sahabat duduk mengelilingi Rasul. Di tengah-tengah Rasulullah berbicara muncul bau menyengat yang tidak sedap. Salah seorang sahabat berteriak, ‘’Siapa yang kentut silakan berdiri!’’. Tetapi tidak ada satu pun sahabat yang berdiri. Sampai waktu shalat Isa datang. Sahabat itu berkata, ‘’kalau ada sahabat yang berwudlu pasti dia yang tadi kentut karena batal wudlunya’’.

Di luar dugaan tak ada satu pun sahabat yang berwudlu. Akhirnya Rasulullah berdiri, ‘’Saya tidak batal wudlu tapi saya ingin berwudlu’’. Melihat Rasulullah berwudlu, akhirnya semua Sahabat Rasul ikut berwudlu. ‘’Ini adalah uswatun khasanah contoh teladan dari Rasulullah tidak ingin membuat malu sahabatnya di depan umum,’’ tegas Gus Karim. Dia mengajak ibda’ binafsih memulai dari diri pribadi masing-masing jangan suka membuka aib orang lain. Sebaliknya kebaikan orang lain sekecil apapun harus kita sampaian kepada publik.

Sahabat Ali ditanya lagi, ‘’apa yang menjadi kesukaan Rasulullah?’’. ‘’Rasulullah suka almudarah bainannas, Rasulullah Saw selalu bersikap ramah kepada semua orang, membuat orang lain senang dan tidak suka membuat orang lain susah,’’ tegas Gus Karim.

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf mengajak umat Islam mengikuti tausiah Gus Karim. ‘’Jangan suka menyebarkan berita bohong alias hoaks. Tidak usah menyimpan dendam dan membenci orang lain. Kalau kita tangguh Insya Allah Indonesia tumbuh,’’ tegas Habib Syech.st