Jawa Tengah Bebas Stunting?

Oleh: Ernie Irawaty Maysarah, SST
Fungsional Statistisi Pertama dan Staf Fungsi Statistik Sosial
pada BPS Kabupaten Kendal

PREVALENSI kejadian stunting atau kerdil di provinsi Jawa Tengah pada tahun 2017 sebesar 28,5 persen. Artinya, sekitar satu dari empat anak di Jawa Tengah mengalami kekerdilan. Menurut KBBI, stunting atau kerdil didefinisikan sebagai tidak dapat menjadi besar karena kekurangan gizi atau karena keturunan.

Stunting sendiri baru dapat dikenali ketika menginjak usia dua tahun, dimana tubuh anak tampak lebih pendek dibandingkan tubuh anak seusianya.

Tidak hanya menghambat pertumbuhan fisik, stunting juga mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, bahkan kemampuan verbal anak. Karena kurangnya imunitas tubuh, stunting juga mempengaruhi kesehatan reproduksi anak ketika dewasa. Jika menelaah lebih lanjut, dari sisi ekonomi pun akan kita temukan dampak jangka pendek maupun jangka panjangnya.

Anak stunting yang rentan sakit akan menambah biaya pengeluaran dalam hal perawatan kesehatan. Belum lagi ketika dewasa, terhambatnya pertumbuhan fisik dan motorik anak stunting akan mengurangi produktivitas kerja. Produktivitas kerja yang rendah akan mempengaruhi lambatnya pertumbuhan ekonomi, bahkan bisa menjadi faktor yang meningkatkan pengangguran serta menghambat penurunan kemiskinan di suatu daerah.

Menurut beberapa studi, stunting dipengaruhi oleh beberapa sebab, seperti pola makan, pola asuh, perbaikan sanitasi dan akses air bersih. Pola makan dinilai yang paling mempengaruhi terjadinya stunting pada anak. Dalam Peraturan Menteri Kesehatan no. 75 tahun 2013 telah ditetapkan Angka Kecukupan Gizi (AKG). AKG merupakan jumlah kecukupan kalori per hari sesuai kelompok usia dan jenis kelamin.

Secara umum, kalori yang dibutuhkan anak usia 1 hingga 6 tahun adalah 1125-1600 kkal per hari. Kebutuhan kalori anak sendiri sangat bervariasi, menyesuaikan usia, jenis kelamin dan tingkat aktivitas fisiknya setiap hari. Kementerian Kesehatan telah merangkum angka kecukupan gizi ini dalam iklan layanan masyarakat “Isi Piringku”.

Iklan berdurasi 30 detik ini menjelaskan, bahwa dalam sepiring makanan setidaknya terdiri dari sepertiga makanan pokok, sepertiga sayuran, seperenam lauk pauk dan seperenam buah-buahan. Jika dikonversikan, dalam sehari minimal seorang balita harus makan 2 porsi nasi, dengan takaran seperempat kilogram ikan bandeng goreng, sayur bayam dan pisang ambon.

Selain pola makan, pola asuh diyakini juga menjadi salah satu penyebab terjadinya stunting. Pola asuh pada seribu hari pertama anak menjadi faktor krusial pertumbuhan tubuhnya. Seribu hari pertama ini dimulai sejak masih dalam kandungan hingga usia 2 tahun. Dengan kata lain, stunting juga dipengaruhi dari asupan ibu sejak masa kehamilan.

Berat Lahir Rendah
Usia ibu hamil yang matang, di mana calon ibu berusia di atas 20 tahun, diyakini akan mengurangi kelahiran bayi dengan berat lahir rendah (BBLR) atau berat lahir bayi dibawah 2,5 kilogram. BBLR sendiri diyakini mempengaruhi sekitar 20 persen terjadinya stunting. Jika dalam 2 tahun terakhir, ada 1 dari 10 perempuan di Jawa Tengah yang melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (Survei Sosial Ekonomi Nasional 2020, BPS), bisa diperkirakan berapa bayi yang kelak akan tumbuh kerdil?

Selain anjuran kawin di usia matang dan menjaga asupan sejak hamil, pemerintah juga mengkampanyekan pemberian asi eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan anak, kemudian dilanjutkan menyusui hingga 2 tahun sebagai bentuk pencegahan stunting.

Perbaikan sanitasi dan perbaikan akses air bersih juga disebut-sebut sebagai salah satu upaya pencegahan stunting. Di Jawa Tengah, masih ada sekitar 1,69 persen rumah tangga memiliki sanitasi yang tidak layak, dan sekitar 19,36 persen yang malah belum memiliki akses terhadap air bersih (Survei Sosial Ekonomi Nasional 2020, BPS). Upaya persuasif berupa peningkatan kesadaran kepada warga perlu terus digiatkan.

Masyarakat perlu disadarkan bahwa sanitasi yang tidak terawat dan kotor akan mempengaruhi tingkat kesehatan. Masyarakat pun harus paham mengenai pengelolaan sampah dan limbah cair rumah tangga yang tepat, begitu pula dengan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun serta kebiasaan tidak buang air besar di sembarang tempat. Semua kebiasaan ini akan membentuk pola hidup sehat yang diharapkan dapat mempercepat pengurangan kejadian stunting.

Hal lain yang masih menjadi PR Pemerintah Daerah dalam mengurangi angka kejadian stunting adalah mengatur usia perkawinan pertama pada wanita. Di Jawa Tengah, pada tahun 2020 sekitar 60,85 persen wanita melangsungkan kawin pertama pada usia 20 tahun ke bawah. Perkawinan di usia belum matang dan tingkat pengetahuan kurang dalam pengasuhan anak secara tidak langsung ikut meningkatkan peluang kejadian stunting.

Pemahaman dan kesadaran masyarakat yang semakin baik ditambah dengan program pemerintah dalam peningkatan gizi baik ibu hamil maupun balita, tentu akan membantu upaya mengurangi angka kejadian stunting. Tentu saja upaya meningkatkan kesadaran untuk hidup sehat ini, bukan hanya menjadi kewajiban pemerintah, tetapi perlu menjadi kesadaran bersama swarga. Mari membangun Jawa Tengah menjadi lebih baik, salah satunya dengan mewujudkan Jawa Tengah tanpa stunting. Jatengdaily.com-yds