Kembangkan Sayap Kebaikan di ‘Keistimewaan’ Ramadan

10 Min Read

Oleh : Youla Afifah Azkarrula
RAMADAN memiliki arti panas yang menyengat, nama ini digunakan untuk menggambarkan musim yang berlangsung pada bulan tersebut sangat panas. Ramadan dimasukkan ke dalam nama bulan kalender arab sebelum agama Islam datang. Di bulan penuh berkah tersebut muslim yang memenuhi syarat diwajibkan untuk berpuasa. Puasa adalah salah satu rukun Islam. Barang siapa yang mengaku Islam, maka harus melaksanakan puasa karena tidak sempurna Islam seseorang bila ia tidak melaksanakan ibadah puasa.

Selain sebagai rukun Islam, tentunya kita harus patuh dan takwa terhadap perintah Allah swt. Puasa ini merupakan perintah-Nya. Perintah taat kepada Allah yang termaktub dalam firman-Nya yaitu pada Surah Muhammad ayat 33 yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul-Nya dan janganlah kamu merusakkan (pahala) amal-amalmu”. Khusus bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadan akan masuk surga melalui pintu surga Ar-Rayan sehingga jangan malas untuk berpuasa.

Puasa memiliki tiga tingkatan dalam menjalankannya yakni puasanya orang awam, puasanya khawaz dan puasanya khawazul khawaz. Puasa orang awam adalah puasa bagi orang yang hanya menahan lapar dan haus. Puasa khawaz adalah puasa bagi orang yang menahan makan dan minum serta menjaga ucapan-ucapan yang sia-sia belaka atau puasa kedua ini menjaga dari perbuatan tercela. Dan tingkatan yang paling tinggi adalah khawazul khawaz. Puasa khawazul khawaz tidak sekedar menjaga haus, lapar dan ucapan, namun juga menjaga hati.

Pada Surah Al-Baqarah ayat 183 dijelaskan bahwa puasa merupakan ibadah yang telah dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Yang mengejutkan adalah pada awal diwajibkannya puasa, kaum muslimin ternyata berpuasa hanya hingga magrib. Setelah berbuka mereka masih diperbolehkan makan, minum dan bersetubuh hingga menunaikan sholat isya dan tidur. Namun setelah isya dan tidur mereka tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lagi. Sehingga banyak yang keberatan dengan hal ini. Maka Allah menurunkan Surah Al-Baqoroh ayat 187 yang membolehkan melakukan hal yang membatalkan puasa seperti makan dan sebagainya hingga terbitnya fajar. Sehingga setelah fajar, umat mulim melanjutkan puasanya hingga tibanya magrib.

Puasa merupakan ibadah rahasia antara hamba dan rabbnya. Jika ibadah-ibadah lain bisa diketahui oleh orang lain berbeda halnya dengan puasa Ramadan yang hanya kita dan Allah yang tahu apakah kita sedang berpuasa atau tidak. Bisa saja orang yang tidak berpuasa mengaku bahwa dirinya sedang berpuasa terhadap orang lain padahal ia tidak berpuasa. Maka tidak mengherankan bahwa puasa Ramadan ini juga dibalas langsung oleh Allah SWT. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi ﷺ, Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.” Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Kecuali amalan puasa.

Amalan puasa tersebut adalah untukku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karenaku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi (HR Bukhari dan Muslim).” Jadi puasa adalah ibadah yang hanya kita dan Allah yang tahu, apakah sedang berpuasa atau tidak. Bisa saja orang tidak melihat kita sedang makan dan minum di siang hari tapi allah melihatnya. Puasa juga melatih kejujuran kita.

Bulan Ramadan merupakan bulan pengampunan dosa. Setiap muslim mendapatkan kesempatan untuk menimba banyak pahala karena ramadhan merupakan janji dari Allah SWT sebagai bulan pengampunan dosa dan bebas dari api neraka bagi siapa saja yang berpuasa di bulan suci Ramadan. Pengampunan dosa ini dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda, “barang siapa yang berpuasa Ramadan karena keimanan dan hanya mengharap pahala, dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni (HR.Al Bukhari).”

Selain diampuni dosa-dosanya, dilipatgandakan pula pahala hamba-Nya. Umat muslim yang melakukan kebajikan akan dilipatgandakan pahalanya hingga tujuh puluh kali lipat. Hal ini sesuai dengan sabda rasulullah ﷺ, “Dan barangsiapa yang melakukan kewajiban di bulan itu nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadan (HR Bukhari dan Muslim).” Besar sekali pahala yang didapatkan pada bulan ini sehingga harus banyak beramal.

Selain dengan adanya kedua nikmat yang diberikan oleh Allah, puasa membuat tubuh lebih sehat, mempengaruhi kontrol dari gula darah, memperlambat penuaan, dan mencegah resiko kanker. Jika kita makan terus menerus maka tubuh akan meningkatkan insulin dan mengakibatkan diabetes. Dengan berpuasalah kadar insulin terkontrol. Selain itu, puasa juga berkaitan dengan autophagy cell yang berguna untuk memakan dan menghancurkan sel tertentu dalam tubuh. Sehingga kita terbebas dari resiko kanker.

Terdapat keistimewaan pada bulan ini yaitu adanya lailatul qadr. Lailatul qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Hal ini dijelaskan pada surahAl-Qadr ayat 1 sampai 5. Pada malam ini dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan itikaf di masjid. Malam ini ada pada sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan. Selain itu, penuh perjuangan dan kemenangan pada bulan ini. Di dalam bulan Ramadan terdapat banyak peristiwa yang terjadi seperti perang badar, pembebasan Yerusalem, pembebasan Mekah dan banyak peristiwa lainnya. Perang badar menjadi salah satu peristiwa yang paling bersejarah dikenal.

Perang ini terjadi pada hari ke 17 Ramadan tahun ke 2 Hijriyah atau 13 Maret 624 masehi. Perang ini terkenal dengan perperangan antara umat muslim dan nonmuslim yang memiliki pasukan tidak seimbang. Yang mana umat muslim berpasukan 313 orang dan nonmuslim 1300 orang. Namun dengan pertolongan Allah SWT, umat muslim pun memenangkan perperangan. Sehingga kita tidak boleh malas pada bulan Ramadan karena umat islam terdahulu saja bisa menang dalam perang padahal lagi berpuasa waktu itu. Pada bulan Ramadan, Allah menurunkan wahyu pertama Alquran kepada Nabi Muhammad ﷺ pada malam 17 Ramadan saat Rasulullah ﷺ sedang bertafakur di Gua Hiro. Pada malam itu pula, Rasulullah dikukuhkan menjadi Nabi dan Rasul Allah SWT.

Sebelum Islam puasa dengan berbagai variasinya telah dilakukan oleh masyarakat dari berbagai kebudayaan. Al Jibouri dan Maliki Tabrizi dalam bukunya yang berjudul “Rahasia Puasa Ramadan” mengungkap fakta bahwa bangsa Yunani terbiasa berpuasa sebelum terjun kedalam medan perang. Sedangkan bangsa Romawi menanggap puasa dapat memberikan kekuatan fisik serta mengajarkan kesabaran dan ketabahan. Ternyata ini merupakan syarat yang dibutuhkan untuk memenangkan pertempuran. Puasa Ramadan diwajibkan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan umatnya pada Bulan Sya’ban tahun kedua hijriyah. Kala itu rasulullah ﷺ sedang membangun pemerintahan yang berwibawa di Madinah. Saat itu puasa dianggap penting karena bisa menumbuhkan rasa tanggung jawab manusia dalam menjalankan tugas besar dan suci.

Pada bulan Ramadan kita dianjurkan untuk makan sahur. Makan sahur memanglah bukan sesuatu yang wajib tapi sunnah yang dianjurkan pada bulan Ramadhan bahkan Rasulullah ﷺ memerintahkan makan sahur dengan perintah yang ditekankan. Rasulullah ﷺ juga tidak menganjurkan untuk meninggalkan sunnah ini dalam keadan apapun. Sebagian Ulama menyatakan bahwa makan sahur tidak harus dengan makanan yang berat. Berapapun takarannya asal diniatkan untuk sahur sudah termasuk ibadah yang dijanjikan keberkahannya. Keberkahan sahur terdapat dalam hadist Rasulullah ﷺ, dalam hadist muttafaqun alaih, dari Anas bin Malik, Nabi ﷺ bersabda, “Makan sahurlah kalian karena dalam sahur terdapat keberkahan (HR Bukhari dan Muslim). “Selain terdapat keberkahan dalam sahur, sahur pulalah yang membedakan puasa kita dengan puasa yahudi dan Nasrani.

Selain sahur, Rasulullah juga menganjurkan untuk berbuka dengan yang manis yaitu kurma. Kurma sebagai sajian berbuka puasa. Kurma menjadi pilihan nomor satu dalam berbuka puasa. Karena kurma mengandung gizi yang tinggi untuk menjaga stamina tubuh. Kurma juga merupakan makanan yang dianjurkan Rasulullah ﷺ dalam berbuka. Sesuai dengan hadist beliau dari Anas bin Malik, beliau bersabda, “Rasulullah ﷺ berbuka dengan kurma basah (ruthab), jika tidak ada kurma basah (ruthab) maka berbuka dengan kurma kering (tamr), jika tidak ada kurma kering (tamr) maka minum dengan satu tegukan air (HR. Ahmad, Abu Dawud, sanadnya shahih).”

Setelah berbuka pun ada ibadah sunnah yang hanya ada di bulan Ramadan yaitu salat sunah tarawih. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa yang berdiri melaksanakan salat malam di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan keikhlasan (karena Allah) maka diampuni segala dosa-dosanya yang telah lalu (HR. Bukhari)”.

Youla Afifah Azkarrula, Mahasiswa Ilmu Falak FSH UIN Walisongo dan Santri Life Skill Daarun Najaah. Jatengdaily.com–st

0
Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Privacy Preferences
When you visit our website, it may store information through your browser from specific services, usually in form of cookies. Here you can change your privacy preferences. Please note that blocking some types of cookies may impact your experience on our website and the services we offer.