Kemerdekaan RI dan Generasi Milenial

Oleh Ahmad Rofiq
PADA peringatan HUT ke-76 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa 17/8/2021 mendatang, merupakan momentum strategis bagi bangsa Indonesia, sebagai bangsa besar untuk melakukan introspeksi atau muhasabah. Mengevaluasi seberapa besar apa yang kita kerjakan untuk bangsa dan negara ini, dan apa ke depan yang harus kita torehkan, demi merawat Rumah Besar Indonesia ini.

Bangsa ini sudah merencanakan bagaimana bonus demografi benar-benar menjadi rahmat bukan menjadi laknat. Namun sejak pandemi Covid-19, rencana tersebut terseok-seok dan tertatih-tatih, untuk mengatasi skala prioritas dan menyelamatkan bangs aini dari hantaman Covid-19. Hingga tulisan ini ditulis pun, upaya itu masih terus berlangsung, baik penanganan saudara-saudara kita yang terkena Covid-19 secara lansung, maupun mereka yang terdampak secara ekonomi dan sosial.

Badan Pusat Statistik (BPS), yang mengklasifikasikan bahwa baby boomer adalah generasi yang lahir pada rentang waktu 1946-1964; gen-X 1965-1980; milenial lahir antara tahun 1981-1997; gen-Z rentang 1998-2009 dan gen Alpha lahir dalam rentang waktu 2010-ke atas. Kegelisahan Mas Robbah, untuk memotret generasi santri ini menarik, tetapi tentu masih menyisakan generasi millennial yang tidak sempat atau memang tidak tersentuh oleh pendidikan pesantren.

Sebagai bangsa besar yang menempatkan Pancasila sebagai falsafah dan dasar negara, generasi millennial ini membutuhkan komitmen yang sungguh-sungguh. Bagi mereka yang memilih pesantren, relatif diuntungkan karena basik ilmu agama yang lebih memadai, dibanding mereka yang hanya tersentuh oleh Lembaga Pendidikan formal keagamaan, apalagi Lembaga Pendidikan umum, yang hanya mendapat alokasi waktu dua jam pelajaran perminggu.

Tentu akan lebih berat dalam proses pencaharian identitas diri. Sekedar membayangkan saja, mereka benar-benar dalam posisi “Dihliz” – meminjam Bahasa Robbah Munjiddin Ahmada, yang berada di persimpangan jalan antara gerbang dan pintu masuk penjelajahan pembentukan identitas ke-Islaman, Ke-beragaman, dan ke-Indonesiaan.

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai bangsa berpenduduk terbesar keempat dunia, dan berpenduduk Muslim terbesar dunia, dalam mengelola “bonus-demografi” perlu lebih memfokuskan pada sentuhan Pendidikan pesantren. Karena QS. An-Nisâ’ (4): 9 mengamanatkan, agar bangsa besar yang terdiri dari satuan unit sosial terkecil yakni keluarga, berkewajiban menyiapkan generasi muda yang kuat dalam semua aspeknya, keimanan, ketaqwaan, akhlaqul karimah, juga ekonomi, budaya, politik, etika dan estetika.

Dengan generasi yang kuat, mereka tidak mudah terombang-ambing oleh disrupsi budaya dan peradaban serta teknologi, akan tetapi secara perlahan namun pasti, mereka akan mengalami progress dan penemuan identitas diri, menjadi generasi santri, yang memiliki keunggulan kompetitif, siap memasuki tantangan global, dan siap menjadi leader dan organiser untuk mengawal dan mengarahkan jalannya peradaban di masa-masa yang akan datang, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, peradaban dunia, yang penuh kedamaian dan ketenteraman.

Islam sebagai risalah dakwah, dengan panduan kitab suci Al-Qur’an, dihadirkan untuk membawa rahmat bagi seluruh penduduk alam raya (QS. Al-Anbiyâ’ (21): 107). Sudah barang tentu, diperlukan basik ajaran iman, islam, dan ihsan, atau aqidah, syariah, dan akhlak, yang dalam terminology santri memerlukan model dan metode kajian ke-Islaman, yang mengajarkan sikap keberagamaan yang moderat (tawasuth), berimbang (tawazun), adil (ta’adul), persaudaraan (ukhuwwah), dan toleran (tasâmuh) dan kolaborasi nilai-nilai ajaran Islam dengan kearifan local (local wisdom) yang memadukan antara keber-Islaman, keberagaman, dan ke-Indonesiaan.

Adagium yang diformulasikan para Ulama, bahwa Al-Islâm shâlihun li kulli zamân wa makân artinya “Islam itu cocok, serasi, dan sejalan dengan semua waktu dan ruang”, meniscayakan perlunya mengawal generasi milenial yang meliputi generasi baby boomer adalah generasi yang lahir pada rentang waktu 1946-1964; gen-X 1965-1980; milenial lahir antara tahun 1981-1997; gen-Z rentang 1998-2009 dan gen Alpha lahir dalam rentang waktu 2010-ke atas, memerlukan kepedulian, kesungguhan, dan kesinambungan yang sungguh-sungguh, agar mereka yang berada dalam posisi syabâbunâ l-yaūm atau generasi muda hari ini, berubah secara bertahap dan pasti menjadi rijâlunâ l-ghad atau generasi pemimpin atau tokoh di masa mendatang.

Sudah barang tentu pendidikan dan pembelajaran santri, yang diakui sebagai Pendidikan tertua dan berhasil membentuk generasi muda yang berkarakter moderat, berke-Islaman, hidup dalam kemajemukan/keragaman, mereka juga memiliki karakteristik ke-Indonesiaan, yang bangga menjadi Muslim, santri, dan merasa kebanggan dan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap bangsanya dan NKRI, sebagai hasil dakwah, perjuangan, dan terutama mengisi kemerdekaan dan merasa memiliki kebanggan terhadap NKRI.

Apakah mereka para generasi millennial nantinya akan memiliki kesanggupan untuk sedikit menggeser dari posisi “Dihliz” ke arah yang seperti diinginkan oleh Imam Abū Hâmid Al-Ghazâlî, apalagi sampai ke arah ma’rifat ila Allah, tentu kita hanya bisa berharap akan inayah, anugerah, dan keutamaan dari Allah ‘Azza wa Jalla.

Di tengah masih adanya sebagian kecil kelompok yang “cenderung literalistic” dan seakan mereka memiliki “kesanggupan” untuk memahami Al-Qur’an dan al-Hadits/As-Sunnah secara langsung, tanpa merujuk pendapat dan hasil telaahan para Ulama, maka ini sedikit atau banyak berpotensi melahirkan generasi yang berwawasan sempit, bak “berkaca-mata kuda” dan cenderung menyalahkan dan kadang “menyesatkan” pihak lain yang tidak semodel dalam berkeyakinan dan beragama. Sementara, makin jauh generasi umat Muhammad, berkecenderungan makin tidak toleran di dalam sikap keberagamaan dan berkebangsaan.

Selamat Menyambut HUT ke-76 Republik Indonesia, selamat menorehkan tinta mas di tahun 1443 H, dan menyiapkan generasi millennial, agar mereka tetap menjadi generasi muda yang tangguh, memiliki keunggulan kompetitif, dan memiliki karakteristik ke-Islaman dan ke-Indonesiaan yang layak dibanggakan, demi merawat Rumah Besar Indonesia kebanggan kita. Ilaika tawakkalnâ wa ilaika l-mashîr. Waffaqanâ Allah ila aqwam ath-tharîq.

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Guru Besar Fakultas Syariah dan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Wakil Ketua Umum MUI Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat. Jatengdaily.com-st