Kinerja Ekspor Impor dan Harapan Ekonomi Jawa Tengah

Oleh : Tri Karjono
ASN BPS Provinsi Jawa Tengah

DUA dari tujuh pembentuk Gross Domestic Product (GDP) atau biasa kita sebut PDB untuk wilayah nasional atau PDRB pada wilayah provinsi, atau kabupaten/kota sebagai indikator kondisi ekonomi suatu wilayah, berasal dari international trade yaitu komponen ekspor dan impor.

Dan jika berbicara perdagangan luar negeri Jawa Tengah akan lebih tepat ketika fokus pada komponen komoditas non migas. Karena kebijakan perdagangan migas Jawa Tengah tidak berdiri sendiri dan akan sangat dipengaruhi oleh kebijakan level nasional. Di samping itu porsi perdagangan non migas selama ini lebih dominan dibanding migas.

Dalam rilis terbarunya (Senin, 3/05/2021), BPS Provinsi Jawa Tengah mencatat nilai ekspor non migas bulan Maret 2021 sebesar US$ 883,73 juta, tertinggi paling tidak sejak 2019. Atau mengalami kenaikan sebesar 19,78 persen dibanding dengan bulan sebelumnya. Alhasil selama tiga bulan atau kuartal pertama tahun 2021 ini situasi ekspor non migas Jawa Tengah mengalami tren positif.

Jika dibandingkan dengan kuartal keempat tahun 2020 (qtoq) maka terjadi peningkatan 13,81 persen. Pun demikian jika dibandingkan dengan kuartal pertama tahun 2020 (yoy), di mana saat itu selama lima bulan pertama nilai ekspor non migas Jawa Tengah mengalami tren penurunan akibat dampak pandemi COVID-19, menunjukkan bahwa kinerja ekspor Jawa Tengah kuartal pertama tahun ini lebih tinggi 12,31 persen.

Berbanding terbalik pada sisi impor yang sedikit mengalami penurunan. Pada bulan Maret 2021, nilai impor non migas Jawa Tengah mengalami penurunan sebesar 8,58 persen dibanding bulan Februari 2021. Tetapi secara kumulatif nilai impor tahun ini mengalami peningkatan sebesar 4,92 persen dibanding kuartal keempat 2020.

Situasi ini menunjukkan bahwa di tengah ekonomi global yang semakin membaik walau dibayangi oleh ancaman meningkatnya kembali kasus wabah COVID-19, ada sedikit harapan membaiknya pula situasi ekonomi di Jawa Tengah. Utamanya adalah sektor industri yang berorientasi ekspor dan atau berbahan baku/penolong dari komoditas impor. Dari hasil rilis tersebut kita ketahui bahwa 86,25 persen dari komoditas impor selama tahun 2021 yang masuk ke Jawa Tengah merupakan bahan baku dan penolong serta barang modal mesin-mesin yang digunakan untuk menggerakkan proses produksi bagi industri yang ada.

Artinya impor yang terjadi benar-benar dibutuhkan dunia usaha Jawa Tengah yang sementara ini belum mampu disubstitusi ketersediaannya di dalam negeri. Oleh adanya bahan baku dan penolong yang tersedia pada akhirnya mampu mengembalikan denyut industri yang sebelumnya sempat seakan mati suri.

Ekspor yang meningkat juga memberi petunjuk bahwa proses produksi yang terjadi di Jawa Tengah mulai mengalami peningkatan. Nilai ekspor non migas pada kuartal I/2021 mengalami peningkatan dibanding kuartal yang sama tahun 2020. Peningkatan proses produksi ini jelas akan berangsur mampu mengembalikan keterlibatan masyarakat di sektor ekonomi. Meningkatnya keterlibatan masyarakat jelas akan semakin banyak warga Jawa Tengah secara perlahan mampu mengembalikan derajat kesejahteraannya yang sempat terpuruk akibat pandemi.

Indikator Ekonomi
Nilai ekspor dan impor Jawa Tengah pada tahun lalu nyata terlihat bahwa terjadi penurunan yang sangat signifikan. Total nilai ekspor selama setahun mengalami penurunan 4,97 persen, bahkan pada ekspor non migas turun sebesar US$ 508,69 juta atau 6,19 persen dibanding nilai ekspor non migas Januari-Desember 2019.

Penurunan ekspor ini terjadi akibat beberapa penurunan komoditas ekspor andalan Jawa Tengah yang di antaranya pakaian jadi yang turun hingga 292,82 persen, serat stafel turun 253,01 persen hingga produk kayu yang turun 40,07 persen.

Sementara pada nilai impor mengalami penurunan hingga 24,21 persen. Kita tahu bahwa mayoritas impor nonmigas didominasi oleh bahan baku dan penolong serta mesin yang memang sangat dibutuhkan bagi proses ekonomi yang ada. Bahan baku dan penolong tercatat mendominasi dengan lebih dari 81 persendari total impor, diikuti barang modal sekitar 10 persen dan komoditas konsumsi yang hanya sekitar 8 persen.

Kondisi perdagangan luar negeri tahun 2020 yang lalu tersebut secara nyata pula telah ikut berperan dalam memberi tekanan terhadap perekonomian Jawa Tengah. Hal ini dapat dilihat dari indikator yang ada. Ketika kinerja ekspor impor mengalami penurunan PDRB Jawa Tengah pun mengalami penurunan. Kita tahu bahwa ekspor impor menjadi dua komponen penyusun yang saling berlawanan pada struktur pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi dengan masing-masing 36,91 persen dan 38,30 persen.

Dengan kontraksi sebesar 2,65 persen, PDRB Jawa Tengah pada tahun 2020 berada pada titik terendah setelah krisis ekonomi 1998. Bahkan angka tersebut pula lebih rendah dibanding penurunan yang terjadi pada level nasional yang hanya terkontraksi sebesar 2,07 persen.

Ini artinya bukan hanya ekspor yang perlu diusahakan semakin tinggi yang dibutuhkan Jawa Tengah saat ini. Namun imporpun walau menjadi faktor pengurang dalam struktur perekonomian pada sisi pengeluaran, namun struktur impor yang ada cukup memberi efek yang nyata terhadap kelangsungan aktivitas industri pengolahan sebagai komponen terbesar pembangun struktur ekonomi Jawa Tengah dari sisi lapangan usaha masih sangat diperlukan.

Hal ini menjadi penting ketika bahan baku dan penolong belum mampu disuplai penuh dari ketersediaan dalam negeri. Kita tahu bahwa sepertiga lebih tumbuhnya ekonomi Jawa Tengah dibangun oleh sektor industri pengolahan.

Akselerasi
Oleh karenanya perlu selalu diupayakan untuk menjadikan ekspor tumbuh lebih cepat serta gap neraca perdagangan dalam kondisi positif dan semakin besar. Salah satunya dengan terus meningkatkan ekspor, utamanya non migas dari produk sektor industri pengolahan. Seperti pada bulan Maret 2020 saja 98,38 persen dari total ekspor non migas Jawa Tengah merupakan komoditas hasil industri pengolahan.

Bahkan menurunnya nilai ekspor yang terjadi tahun lalupun yang lebih dari 100 persen disebabkan akibat turunnya nilai ekspor sektor ini. Jika saat itu tidak sedikit ditolong oleh naiknya nilai ekspor sektor primer yaitu produk pertanian dan pertambangan/lainnya, maka dipastikan angka penurunannya lebih tajam.

Neraca perdagangan yang positif dan semakin tinggi yang didukung oleh narasi diatas dapat diartikan sebagai akan semakin banyak produk dengan bahan baku dalam negeri mampu bersaing dan diterima dengan baik oleh pasar internasional.

Tentunya ini tergantung pada upaya dan keberhasilan diversifikasi produk, peningkatan kualitas produk, hilirisasi produksi untuk meningkatkan nilai tambah dan mencari peluang pasar internasional diluar mitra dagang selama ini. Tentu dengan tetap mempertahankan mitra tradisional yang telah ada.

Peluang
Oleh karenanya momentum membaiknya situasi ekonomi global dan kembali pulihnya perekonomian mitra dagang utama Jawa Tengah seperti Tiongkok, Amerika, Jepang, Jerman dan Korea Selatan yang ditunjukkan oleh berangsur kembali normalnya perdagangan bilateral ke berbagai negara tersebut pada kuartal pertama tahun ini, perlu dipertahankan dan menjadi modal semangat bagi kembalinya geliat ekonomi Jawa Tengah menjadi lebih baik.

Kebijakan pemerintah melalui berbagai stimulan yang di antaranya bantuan dalam rangka meningkatkan kemampuan daya beli masyarakat menengah kebawah sebagai bagian masyarakat yang lebih besar terdampak akan pandemi, belum begitu menampakkan hasil yang signifikan. Daya beli sebagai pendorong konsumsi rumah tangga yang menjadi pembangun utama ekonomi Jawa Tengah pada sisi pengeluaran dengan lebih dari 60 persen belum begitu nampak oleh faktor bantuan langsung tersebut.

Terbukti hingga bulan april ini laju inflasi kalender 2021 masih tertahan di 0,51 persen. Oleh karenanya perkembangan membaiknya ekspor impor pada kuartal pertama ini menjadi salah satu angin segar. Harapannya baik secara individu maupun efek domino dari perkembangan ekspor impor kuartal pertama ini mampu memacu tumbuh positifnya sektor lain, sehingga akan berdampak positif pula bagi tumbuhnya ekonomi secara umum.

Tentunya ini semua harus didukung dengan penanganan kesehatan yang tepat untuk memberi keyakinan bersama bahwa ekonomi akan berjalan semakin baik tanpa ancaman second pandemic wave seperti yang terjadi di India menghantui. Kenyataan masih tertahannya berbagai kebijakan terhadap progres daya beli, membaiknya perdagangan luar negeri serta belajar dari kasus di India tersebut menjadi salah satu keyakinan akan kebijakan pelarangan mudik tahun ini. Jatengdaily.com-yds