Minat Baca-Tulis Masyarakat Sangat Rendah

Ketua DKJT Gunoto Saparie berdiskusi dengan Didik Supardi. Foto:dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Upaya menumbuhkan kebiasaan membaca buku tidak mudah. Hal ini karena minat membaca, apalagi menulis, di kalangan masyarakat Indonesia sangat rendah. Selain itu, kondisi perbukuan kita pun memprihatinkan.

Demikian rangkuman pendapat Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah Gunoto Saparie dan Ketua Komunitas Kumandang Sastra Semarang Didik Supardi ketika diwawancarai wartawan RRI Semarang Cossy Sekunanda, Minggu malam, 2 Mei 2021. Kegiatan itu dalam rangka acara Dunia Sastra pada Program Lintas Semarang Malam RRI Semarang Pro 1.

Didik Supardi mengatakan, Indonesia memiliki Hari Buku Nasional yang jatuh pada 17 Mei dan Hari Literasi Nasional pada 8 September. Menteri Pendidikan Abdul Malik Fajar adalah orang pertama yang mencetuskan Hari Buku Nasional pada tahun 2002. Tanggal 17 Mei dipilih karena bertepatan dengan momentum hari berdrinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yaitu 17 Mei 1980.

“Sedangkan Hari Literasi Nasional mengacu pada peringatan Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Sedunia yang diperingati setiap 8 September. Tanggal itu diumumkan oleh Unesco pada 17 November 1965 sebagai peringatan untuk menjaga pentingnya melek huruf bagi setiap manusia, komunitas, dan masyarakat,” katanya.

Menurut Didik, Hari Buku Nasional memiliki beberapa tujuan, antara lain agar mampu membawa perubahan budaya literasi masyarakat Indonesia. Tujuan utamanya dapat menumbuhkan atau meningkatkan minat membaca dan menulis atau budaya literasi di kalangan masyarakat.

Gunoto Saparie menambahkan, minat baca masyarakat Indonesia masih tergolong rendah. Hal ini dapat dilihat dari berbagai penelitian yang dilakukan sejumlah lembaga riset. Terkait pemeringkatan literasi internasional, Indonesia menempati urutan kedua terbawah dari total 61 negara yang diteliti.

“Karena itu, upaya peningkatan minat baca dan tulis masyarakat sangat berat. Apalagi kini kita memasuki era media sosial. Kita telah melompat ke era pospustaka dari prapustaka, sementara era pustakanya belum beres kita lalui,” ujarnya.

Menyingung masalah kontroversi Hari Puisi Nasional, baik Didik maupun Gunoto tidak begitu mempersoalkan. Mereka yang menggunakan versi hari kelahiran penyair Chairil Anwar, 26 April, sebagai patokan Hari Puisi Nasional sah-sah saja. Begitu juga yang memakai versi hari kematian Chairil Anwar, 28 April. Mereka dalam konteksnya masing-masing memiliki kebenaran sendiri-sendiri.

“Kecuali kalau Hari Puisi Nasional telah ditetapkan oleh pemerintah, maka kita wajib mengikuti. Namun, karena masih menjadi bola liar di kalangan masyarakat sastra, kita biarkan keragaman pendapat tersebut,” tandas Gunoto. st