Penanganan Banjir Rob Sayung Demak Butuh Mitigasi Vegetasi

Rob di Sayung, Demak. Foto: dok

SEMARANG (Jatengdaily.com) – Banjir rob di daerah Sayung Demak, hingga kini menjadi persoalan berdampak terhadap masyarakat setempat. Permukiman warga pun hampir setiap hari tergenang akibat banjir rob tersebut.

Banjir rob setidkanya berdampak pada 14 desa di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Provinsi Jawa Tengah, dan sejumlah desa lain di beberapa kecamatan, seperti Kecamatan Karang Tengah, Bonang, dan Wedung.

Plt Kepala Pusat Data , Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Ahmad Muhari Ph menyatakan, langkah mitigasi berbasis ekosistem dan vegetasi dapat menjadi solusi berkelanjutan. Upaya mitigasi sangat dibutuhkan untuk penanganan banjir rob sehingga kondisi ini tidak terus meluas di wilayah Demak. Penurunan permukaan tanah menjadi salah satu penyebab Ketika pasang surut air laut terjadi.

Menurutnya, kondisi ini memerlukan solusi berkelanjutan agar bencana dapat diatasi atau dicegah dalam jangka panjang. Upaya penanganan banjir rob dengan vegetasi telah dilakukan dengan penanaman mangrove. Di samping itu, solusi jangka panjang melalui upaya mitigasi berbasis ekosistem dan vegetasi tetap dilanjutkan. Cara ini bukan hanya akan membantu mengatasi bencana rob, namun sekaligus bisa difungsikan untuk mengembangkan perikanan budidaya.

Apabila mangrove ini bisa tumbuh dengan baik, harapannya dalam jangka 10 – 20 tahun kawasan ini dapat tersedimentasi lagi. Kondisi ini juga harus dibarengi dengan pengambilan air tanah yang dikurangi dari sisi hulu.

Berbagai Faktor
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyampaikan, bencana yang terjadi di Demak bukan hanya persoalan pada kabupaten tersebut. Berbagai faktor dan lintas wilayah sangat berkaitan dengan banjir rob di wilayah Demak, misalnya di wilayah Sayung yang sebagian dampaknya juga masuk wilayah Kota Semarang. Berdasarkan karakter wilayah itu, banjir rob terjadi dipicu oleh permukaan air laut, penurunan muka tanah dan pemanasan suhu muka bumi.

Menurutnya, rob terjadi Ketika faktor penurunan muka tanah yang cepat bertemu dengan faktor kenaikan muka air laut, ditambah faktor air banjir akibat pengelolaan kanal yang tidak baik. Ganjar mengatakan bahwa mempercepat perbaikan masalah rob tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah Kabupaten Demak. Ia menekankan, Demak tidak bisa bekerja sendiri, tapi dukungan berbagai pemangku kepentingan dari pemerintah provinsi, pemerintah pusat dan kolaborasi unsur pentaheliks lainnya.

“Faktor yang menekan ternyata kompleks sekali, di hulunya ada deforestasi, kemudian turun di tengahnya biasanya terjadi banjir karena kita tidak terlalu bagus mengelola kanal-kanal yang ada, Alhamdulillah Semarang enam tahun telah mengelola,” jelas Ganjar saat berdiskusi dengan BNPB (8/9) di Semarang, Jawa Tengah.

Gubernur Jawa Tengah menambahkan bahwa edukasi terhadap masyarakat juga terus dilakukan. Langkah ini diharapkan dapat membangun kepedulian dan kesadaran masyarakat Demak terhadap kondisi kebencanaan di wilayahnya.

“Ketika literasi kebencanaannya cukup dimengerti, maka pencegahan bencana bisa dilakukan. Dalam hal ini Jawa Tengah telah membuat program untuk seluruh Provinsi. Tentu saja Demak menjadi salah satu bagiannya,” tambah Ganjar.

Sementara itu, Bupati Demak Eisti’anah mencontohkan edukasi bencana yang dilakukan melalui ritual Apitan dan Ruwatan, yaitu tradisi untuk keselamatan dari bencana dan penyakit atau pagebluk.

“Kalau Apitan dilakukan oleh desa bersama warga masyarakat. Kalau ruwatan dilakukan secara pribadi agar diberikan keselamatan lahir dan batin,” ujar Estianah.

Menurut Bupati, kesenian tradisional dan spiritual bisa menjadi media untuk sosialisasi dan edukasi tentang budaya sadar bencana. “Karena itu sudah menjadi budaya yang turun temurun, yang merupakan media spiritual dan ritual untuk mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa Allah SWT,” ujarnya.

Sementara itu, anggota Komisi VIII DPR H. Abdul Wachid meminta perhatian semua tingkatan wilayah administrasi pemerintah, dari pusat hingga kabupaten, untuk segera mengatasi rob di Demak. Ia berharap, upaya sosialisasi kebencanaan dapat dilakukan secara kontinyu kepada masyarakat, contohnya manfaat mangrove untuk mencegah abrasi.

“Menyadarkan masyarakat tentang bagaimana mengatasi abrasi, tidak lain adalah menanam mangrove di sepanjang pantai utara,” jelasnya.

Wachid mengatakan, belum semua masyarakat menyadari hal tersebut. “Kadang-kadang malah mangrove ini dibabat, dihabisi, sehingga air laut masuk,” ujarnya.

Edukasi kebencaaan ini tengah disosialisasikan kepada masyarakat setempat dengan menggunakan pendekatan budaya sadar bencana yang didukung Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB. Setiap tahun BNPB menyelenggarakan program edukasi budaya sadar bencana dengan target seluruh wilayah di Indonesia. Program ini merupakan pendekatan yang dilakukan sesuai dengan kearifan lokal, yaitu seni tradisional dan tradisi setempat. yds