Pertanian Berbasis Pasar

Oleh: Moh Fatichuddin
ASN di BPS Provinsi Bengkulu

SEJAK awal 2020 COVID-19 telah menjadi perbincangan jagat raya, karena COVID-19 tatanan kehidupan manusia di permukaan bumi berubah. Ketakutan akan tertular COVID-19 menimpa seluruh manusia, sehingga mereka berusaha untuk menghindari COVID-19 dengan berbagai strategi. Sampai tanggal 1 Agustus 2021, jumlah terkonfirmasi COVID-19 di Indonesia mencapai 3.440.396 jiwa, dengan tingkat kesembuhan 2.809.538 jiwa serta meninggal 95.723 jiwa. Sedang secara global ada 196.556.009 jiwa terkonfirmasi covid-19 dan meninggal 4.200.412 jiwa, yang tersebar di 223 negara (https://covid19.go.id/).

Kebijakan Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) bahkan sampai level 4 diterapkan. para pegawai dan karyawan bekerja dari rumah (WFH), para pelajar/mahasiswa, guru dan dosen melaksanakan proses belajar mengajar dengan online. Kegiatan akomodasi/restoran dan rumah makan serta pariwisata ditutup atau dibatasi jam operasionalnya serta dengan protokol kesehatan yang ketat, serta kebijakan-kebijakan lain yang disesuaikan dengan kondisi terkini.

Namun demikian dari sudut pandang pangan, kondisi di atas semakin menambah kebutuhan bahan pangan. Semakin lama masyarakat berdiam diri di dalam rumah, biasanya kebutuhan makanan meningkat. Penggunaan waktu selama ini untuk aktivitas bekerja, berubah dengan aktivitas dengan anggota rumah tangga, dan biasanya membutuhkan lebih banyak makanan. Artinya dalam era COVID-19 saat ini sektor pertanian dituntut untuk tetap berkinerja dengan baik, demi terpenuhinya kebutuhan bahan makanan masyarakat.

Keberlanjutan kinerja sektor pertanian sangat dipengaruhi oleh kondisi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) pertanian. Kelestarian SDA harus terjaga agar dapat termanfaatkan tidak hanya untuk saat sekarang, namun juga untuk masa yang akan datang. SDM pertanian yang berkualitas, mandiri dan berdaya saing akan sangat mendukung tercapainya kinerja pertanian yang tinggi.

Namun demikian, sektor pertanian tidak hanya memerlukan perhatian dari sisi teknis produksi untuk mendapatkan hasil yang tinggi, tapi perlu juga memperhatikan kondisi masyarakat yang membutuhkannya, jenis bahan makanan yang diperlukan, kondisi sektor lain seperti transportasi, perdagangan atau jasa serta sektor lain.

Dengan kata lain, dalam era COVID-19 dan waktu mendatang sektor pertanian memerlukan SDM pertanian yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi pertanian, tapi juga berorientasi pada terserapnya/terdistribusinya hasil pertanian tersebut sampai ke masyarakat (pasar), tidak hanya pada saat adanya program bantuan pemerintah saja. Jangan sampai petani sudah mampu menghasilkan produk dengan volume tinggi, tapi membusuk ataupun harga jual yang rendah sebagai akibat tidak diperlukan oleh masyarakat/pasar.

Karakter Pertanian
Indonesia telah dikaruniai sang pencipta letak geografis yang menguntungkan, berada di daerah tropis sehingga menerima hujan lebat dan sinar matahari hampir sepanjang tahun. Kondisi yang sangat menguntungkan bagi kegiatan pertanian, berbagai jenis tanaman pertanian global dapat hidup dengan baik di kondisi ini.

Ketersediaan lahan pertanian di Indonesia sangat tinggi, hampir 30 persen lahan digunakan untuk pertanian. Kementerian Agraria dan Tata Ruang/ Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) mengumumkan hasil verifikasi luas lahan baku sawah. Berdasarkan hasil perhitungan ulang pada 2019 tercatat terdapat 7.463.948 hektar lahan baku sawah. Lebih tinggi 358 ribu hektar dari hasil penghitungan data tahun 2018 yang hanya 7,105 juta hektar. Penambahan lahan tersebut merupakan hasil verifikasi dari lahan yang belum terdata sebelumnya.

Penambahan lahan tersebar di Lampung, Sulawesi Selatan, DIY dan Bangka Belitung. Lahan di empat wilayah tersebut sempat tak terdata karena banyak sawah yang belum terhilirisasi sebelumnya.Sementara itu beberapa wilayah juga mengalami penurunan jumlah lahan baku sawah pada 2019 jika dibandingkan dengan tahun 2018, Kalimantan Selatan, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Kalimantan Utara, Aceh, Kalimantan Barat, Jambi dan Riau.

Namun demikian permasalahan dalam penggunaan lahan adalah belum optimalnya pemanfaatan lahan yang berbasis keberlanjutan lingkungan. Banyak lahan rusak sebagai akibat pemanfaatan lahan yang semena-mena, lahan hanya dituntut untuk menghasilkan komoditas pertanian, baik tanaman pangan maupun hortikultura. Tanaman tegakan yang ada di lahan tersebut tidak dilakukan peremajaan, sehingga tidak dapat menahan air saat hujan turun dan terjadilah banjir bandang atau longsor.

Peran pertanian dalam perekonomian Indonesia sampai saat ini sangat signifikan, tahun 2020 berdasar rillis BPS tanggal 5 Februari 2021 yang lalu, sektor pertanian memberi peranan 13,70 persen mengikuti peranan sektor industri yang mencapai 19,88 persen. Sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang mengalami pertumbuhan positif di tahun 2020 hingga 1,75 persen.

Sementara sektor lain mengalami konstraksi sebagai akibat dampak COVID-19, terutama sektor yang tergantung atau bersinggungan langsung dengan sektor transportasi/angkutan. Kekuatan sektor pertanian terhadap pengaruh COVID-19, menjadikan sektor ini lebih menarik untuk diperhatikan.

Suvei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS) BPS bulan Februari 2021 menyebutkan 29,59 persen dari penduduk yang bekerja, ada di sektor pertanian. Angka ini mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan posisi Februri tahun 2020 penduduk yang bekerja di pertanian 29,23 persen. Sakernas Februari 2021 juga menyebutkan bahwa pekerja bebas di sektor pertanian mengalami kenaikan dari 3,74 persen di Februari tahun 2019 menjadi 4,61 persen saat Februari 2021.

Survei Pertanian Antar Sensus (SUTAS) BPS tahun 2018 menuliskan bahwa ada 27,68 juta rumah tangga yang melakukan usaha pertanian, kalau dihitung dengan anggota rumah tangganya maka ada sekitar 98 juta jiwa penduduk Indonesia yang tergantung hidupnya pada pertanian, atau sekitar lebih dari 30 persen dari penduduk Indonesia.

Jika dilihat dari komoditas yang diusahakan, maka padi merupakan komoditas yang paling banyak diusahakan yaitu sekitar 13,15 juta rumah tangga atau 47,5 persen. Sedangkan hortikultura digeluti oleh 10,1 juta rumah tangga atau 36,48 persen.

Selanjutnya pertanian juga tidak lepas dari pengaruh sosial budaya masyarakat setempat. Berbagai karakter lokal mewarnai proses bisnis kegiatan pertanian. Karakter-karakter tersebut tumbuh sebagai akibat kondisi lahan, geografis, keyakinan agama ataupun kondisi alam lainnya. Karakteristik di Jawa berbeda dengan di Sumatera, dengan letak geografis relatif lebih terjangkau di Pulau Jawa, maka kegiatan pertanian dapat dilaksanakan secara teratur dan terpola.

Sementara di luar Jawa akan sangat mungkin tidak bisa terpola dengan baik. Seperti di Pulau Sumatera (Riau, Jambi, Sumatera Barat, Sumatera Selatan dan sekitarnya) dan Kalimantan, pola kegiatan relatif tergantung dengan kondisi produksi kelapa sawit. Karakter-karakter lokal tersbut juga mempengaruhi pada sikap para petani terhadap prinsip usahanya, mereka cenderung menjadi petani subsisten.

Karakter pertanian juga akan dipengaruhi oleh kondisi “tentative” pada suatu waktu, seperti sekarang ini semua berkiblat pada covid-19. Pertanianpun demikian, dengan tuntutan berbagai keterbatasan, maka pertanian harus juga mengikuti aturan tersebut. Kondisi tentative lainnya adalah adanya tuntutan kenaikan produksi di suatu wilayah untuk menutupi kekurangan wilayah lain, food estate merupakan bagian dari alternative solusi menjawab kondisi ini.

Dari sisi regulasi, sudah banyak regulasi yang dilahirkan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian. Program-program guna peningkatan produktivitas pertanian diluncurkan ke daerah, namun efek dominonya belum dapat dinikmati. Salah satunya mungkin karena petani akan berhenti menanam suatu komoditas pada saat program komoditas tersebut selesai.

Pertanian juga mendapat bantuan dari para akademisi sehingga produksi pertanian dapat ditingkatkan. Akademisi dengan lembaga penelitiannya berlomba untuk membantu lembaga pertanian, namun dengan kondisi yang kurang relevan, seperti Kampus Universitas Bengkulu (UNIB) menghasilkan varietas kedelai unggulan Devatra 1 dan 2, namun kurang signifikan mengingat petani kedelai Bengkulu relatif rendah.

Pertanian Berbasis Pasar
Agar pewaris negeri ini masih dpat menikmati pertanian, maka perlu kiranya dilakukan pemanfaatan SDA pertanian secara bijak. Petani perlu memperhatikan kondisi lahan “garapannya”, tanaman tegakan yang ada jangan dirobohkan. Jadikan tanaman tegakan menjadi pengokoh kekuatan tanah dalam menahan laju derasnya air saat musim hujan, sehingga terhindar dari banjir ataupun longsor.

Sektor pertanian diharapkan dapat menjadi penopang pertumbuhan secara positif. Kenaikan kebutuhan bahan makanan dapat dimanfaatkan untuk peningkatan pertumbuhan ekonomi. Konsep pertanian modern dan cerdas (smart farming) sangat diharapkan peranannya dalam peningkatan pertumbuhan pertanian. Harga produk pertanian memihak pada petani sehingga menjadikan peningkatan pendapatan petani. Para pelaku usaha pertanian akan menerima dampak positif dari perkembangan di sektor pertanian.

Kondisi-kondisi lokal suatu wilayah dapat menjadi pendorong terwujudnya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Memicu terjadinya peningkatan pendapatan petani yang pada akhirnya peningkatan kesejahteraan petani akan nyata. Diharapkan jumlah rumah tangga petani gurem dapat dikurangi secara signifikan. Tahun 2018 jumlah rumah tangga petani gurem mengalami kenaikan sangat berarti jika dibanding kondisi 2013, yaitu dari 14,24 juta di 2013 dan 15,81 juta naik 10,95 persen.

Kegiatan pertanian berupa budi daya suatu komoditas tidak hanya bergantung pada program pemerintah. Semangat petani dalam menanam komiditas tertentu pasca bantuan tetap terjaga.

Dengan memperhatikan karakter serta perkembangan lingkungan yang terjadi, baik fisik, sosial, politik, ekonomi dan budaya, maka petani dapat memperhatikan situasi “pasar” yang menguntungkan bagi mereka. Petani berorientasi pasar akan sangat mungkin menjadi pengantar atau stimulus terjadinya peningkatan kesejahteraan petani. Jatengdaily.com-yds