DEMAK (Jatengdaily.com) – Aksi penusukan di Jalan Raya Blerong Guntur, Demak yang menelan satu korban jiwa pada Senin (13/12/2021) dini hari hingga kini masih menyisakan misteri. Menyusul belum terungkapnya identitas para tersangka, yang gagal membawa kabur kendaraan korban.
Polisi di Demak pun terus berupaya memburu pelaku pembegalan sadis ini. “Mohon doa restu, semoga kasus percobaan pencurian dengan kekerasan ini segera terungkap,” ujar Kapolres Demak AKBP Budi Adhy Buono melalui Kasat Reskrim AKP Agil Widiyas Sampurna, Selasa (14/12/2021).
Baca Juga: Pelaku Begal di Demak yang Bunuh Korbannya Ditangkap, Ternyata Pelajar SMK
Seperti dikisahkan warga sekitar lokasi kejadian, Adi Purwoko, sekitar pukul 00.30 didengarnya suara gaduh dekat rumah. “Saat saya keluar terlihat beberapa orang mengeroyok seorang laki-laki. Seperti ada yang berusaha merebut dan mempertahankan sepeda motor,” ujarnya.
Tak lama setelah itu, laki-laki yang dikeroyok tadi disebutkan jatuh tersungkur bersimbah darah. Karenanya saksi berteriak begal, hingga warga berdatangan dan membuat para pelaku gagal membawa kabur kendaraan yang mereka rampas.
Naas, korban tak tertolong jiwanya. Dengan luka tusuk di bagian dada dan perut, korban yang belakangan diketahui bernama Saifudin (30) warga Desa Gaji Kecamatan Guntur itu menghembuskan nyawa setelah dibawa petugas Polsek Guntur di rumah sakit.
Anak Berbakti
Sementara itu suasana duka masih tampak di kediaman Saifudin (25), warga Desa Gaji Kecamatan Guntur, korban begal di jalur Guntur – Sayung. Terlebih karena korban yang tercatat sebagai mantan aktivis PMII Wonosobo itu terkenal ramah dan bakti pada orang tua.
Sebagaimana di sampaikan paman korban, Abdul Qolik (68), almarhum adalah bungsu pasutri Khumaidillah dan Salamah. “Dulu pernah nyatri di pondok pesantren (ponpes), setelah itu melanjutkan kuliah di Wonosobo,” ujarnya.
Empat bulan lalu ibunya kecelakaan, jatuh dari sepeda dan mengalami patah tulang. Sebagai baktinya ada orang tua, dia memilih merawat sendiri wanita yang melahirkannya. Pun saat ayahnya sakit-sakitan sebulan terakhir, Saifudin tak ada lelahnya merawat mereka secara bergantian.
“Malam sebelum kejadian sekitar pukul 22.00 almarhum pamit mengantar keponakannya ke Ponpes Futuhiyyah Mranggen. Kiranya itu terakhir kami melihat Saifudin, sebab sekitar pukul 02.00 datang kabar almarhum meninggal karena dibegal,” terang Budiyono, seorang kerabat korban. rie-yds


