Loading ...

Sastra Indonesia di Era Digital

0
Foto Gunoto Saparie-19102020

Gunoto Saparie

leh Gunoto Saparie

AKSES internet merupakan kebutuhan bagi masyarakat Indonesia, termasuk mereka yang bergerak di bidang bahasa dan sastra. Bahkan seseorang bukan tidak mungkin dianggap ketinggalan zaman kalau tidak mampu mengoperasikan komputer atau gawai dan menggunakan serta mengenal internet dengan baik. Dunia digital atau siber memang telah mengubah dunia sastra secara dramatis.

Istilah sastra digital sesungguhnya tak bisa dilepaskan dari munculnya sastra siber pada awal tahun 2000-an. Kita ingat ketika itu di Indonesia hadir  komunitas-komunitas  (milis) di dunia maya. Milis penyair adalah salah satu milis yang merupakan  tonggak lahirnya sastra siber.

Memang, sejak awal tahun 2000-an budaya internet mulai merasuk di kalangan sastrawan kita, terutama generasi muda. Muncullah apa yang dinamakan “cybersastra” dan mulai menembus tembok-tembok sastra yang selama ini terasa asing bagi para insan sastra pemula. Mereka tidak perlu gelisah lagi ketika karya mereka tidak bisa dimuat di koran atau majalah, karena perkembangan teknologi informasi memungkinkan mengunggah sendiri karya-karya mereka di akun media sosial yang mereka miliki. Baik melalui facebook, twitter, whatsapp, steller, maupun instagram. “Keangkuhan” para redaktur kebudayaan media cetak tidak ada artinya bagi mereka.

Demikianlah sastra siber sesungguhnya merupakan alternatif baru bagi para sastrawan pemula yang kurang mendapatkan tempat di media cetak. Kriteria-kriteria yang ditetapkan pada redaktur sastra tak selalu bisa mereka penuhi, sehingga sastra siber menjadi wadah penyalur bagi aktivitas dan kreativitas mereka. Ia merupakan tonggak baru kehadiran  dunia sastra  yang tak  mengenal  ruang,  waktu,  bahasa,  bahkan melintasi batas-batas negara.

Penggunaan teknologi digital dalam karya sastra merupakan keniscayaan yang tidak dapat dielakkan. Dengan teknologi digital para sastrawan dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas mereka. Teknologi digital dapat meningkatkan kompetensi para sastrawan dalam mengembangkan kreativitas mereka dengan secara lebih leluasa. Dalam sastra digital memungkinkan para sastrawan membagikan foto dan video yang ditata bersama kutipan puisi atau nukilan prosa, diperkaya dengan audio dan visual yang lebih mendukung.

Dalam Hitungan Detik

Sebelumnya memang tak terbayangkan, bagaimana sebuah karya sastra, baik puisi, cerita pendek, novel, naskah drama, atau esai, hanya dalam hitungan detik tersebar ke seluruh dunia. Tak berlebihan kiranya, kalau hari-hari ini orang mengatakan bahwa hal tersebut merupakan era baru, karena sastra cetak mengalami senjakala. Sebuah era di mana sastra digital harus diterima para sastrawan kita sebagai suatu realitas tak terbantahkan.

Sastra digital memiliki kelebihan dibandingkan dengan sastra cetak karena lebih fleksibel, karena para sastrawan tidak lagi perlu melewati seleksi ketat para redaktur atau editor kebudayaan. Mereka tidak lagi harus melalui “baptis” para redaktur tersebut untuk disebut sebagai sastrawan. Mereka tidak lagi perlu “bermain mata” dengan para redaktur. Karya dan nama mereka dengan mudah segera tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka cepat populer, meskipun harus diakui karya-karya mereka mungkin belum sepenuhnya teruji secara artistik.

Akan tetapi, relatifnya kriteria dan ukuran sebuah karya sastra berkualitas atau tidak membuat para sastrawan yang menggeluti “dunia maya” merasa di atas angin. Memang, secara elementer dikatakan bahwa karya sastra dianggap berhasil kalau memiliki kesatuan antara bentuk dan isi. Namun, ternyata menilai sebuah karya itu berkualitas atau tidak, bukan perkara gampang.

Oleh karena itu, perdebatan mengenai mutu sastra digital wajar terjadi. Sejumlah pengamat sastra bahkan menyebut teks-teks sastra digital itu sebagai karya “sampah” belaka. Selain sifatnya yang instan, terpublikasikan dengan mudah tanpa melalui seleksi redaktur, karya-karya para sastrawan digital dianggap tidak patut disebut sebagai karya sastra.

Kita ingat Faruk H.T. pernah memaparkan kecenderungan para pengunjung situs Cybersastra sebagai mencerminkan suatu sikap baru, yakni nonformal ekspresif saat berhadapan dengan kaya sastra. Mereka memandang sastra dengan cara lebih santai, akrab, tidak berjarak, bahkan sastra merupakan kelanjutan dari dunia chatting atau dengan kata lain aktivitas kelisanan kedua. Berbeda halnya dengan sastra media cetak, baik koran, majalah, atau buku. Karena untuk bisa  menembus sebuah media  cetak,  paling tidak harus lolos  dari  kriteria ketat yang telah ditetapkan oleh redaktur.

Perkembangan sastra siber di Indonesia dimulai dengan peluncuran buku antologi puisi dengan judul Graffiti Gratitude yang terbit atas kerja sama Yayasan Multimedia Sastra (YMS) dengan penerbit Angkasa Bandung. Buku ini memuat puisi-puisi yang dimuat di situs Cybersastra. Buku ini ternyata menimbulkan perdebatan antara para sastrawan siber dengan mereka atau yang karya sastranya banyak dipublikasikan melalui media cetak. Mereka berpendapat bahwa puisi yang ditulis melalui media siber tidak bermutu karena terlalu bebas menggunakan bahasa Indonesia.

Akan tetapi, Saut Situmorang justru berpendapat bahwa bahwa sastra siber melahirkan sastrawan yang diciptakan dunia digital. Semua orang akan lebih kreatif apabila punya kesempatan menuangkan ide, perasaan-perasaan, dan pikiran-pikiran yang erat hubungannya dengan peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman sehari-hari dengan budaya, di mana budaya akan berkembang juga sesuai zaman yang sudah berubah.

Sesungguhnya perbedaan antara sastra cetak dan sastra digital itu hanya pada penggunaan medianya  saja.  Ukuran atau kriteria yang ditetapkan sebagai barometer sastra itu sama.  Masalahnya, sastra digital tidak mengenal penjaga gawang bernama redaktur atau editor yang berhak meloloskan karyanya atau tidak.  Berbeda dengan sastra cetak yang harus berhadapan dengan otoritas redaktur, bahkan bukan tidak mungkin harus sesuai dengan misi penerbit media massa atau buku. Akan tetapi, bukan tidak mungkin kita menemukan teks-teks yang berkualitas dalam sastra digital, bahkan melebihi karya-karya yang dimuat di media cetak.

Memang, berbeda dengan sastra cetak, pada sastra digital para pembacanya bisa langsung memberikan penilaian dan komentar terhadap teks atau karya yang diunggah. Tentu saja hal ini merupakan fenomena menarik, meskipun harus diakui, di tengah konsumen sastra yang beragam itu tidak semua komentar mereka bermutu, bahkan banyak juga yang dangkal tanpa perenungan. Selain itu, dalam sastra digital memungkinkan para sastrawan mengunggah karya dalam bentuk audio-visual, misalnya video pembacaan puisi atau cerpen, ceramah sastra, dan sebagainya.

Ada satu hal yang patut dicatat kalau kita berbicara tentang sastra digital, yaitu soal penggunaan bahasa Indonesia. Karena sering kita temukan teks-teks yang mereka unggah tidak memakai kaidah baku dalam bahasa Indonesia. Hal itu terjadi mungkin karena penulisannya dilakukan tergesa-gesa karena ingin segera diunggah secara daring. Penggunaan bahasa Indonesia dalam sastra digital sering memuat akronim, simbol emosikon dengan kalimat singkat. Penggunaan simbol emosikon barangkali dianggap lebih efektif untuk mengungkapkan perasaan, baik kegembiraan, kesedihan, dan lain sebagainya. Tentu saja hal ini harus mendapatkan perhatian serius para sastrawan, terutama berkaitan dengan upaya pengembangan dan pembinaan bahasa Indonesia.

Perkembangan teknologi informasi di era digital merupakan kenyataan yang niscaya dan tak dapat dielakkan kehadirannya oleh para sastrawan. Sastra siber atau sastra digital memungkinkan para sastrawan untuk mengolah kreativitasnya secara lebih maksimal, bahkan dengan secara auditif dan visual. Meskipun ada ada kalangan yang pro dan kontra terhadap hasil karya sastra digital ini, hal ini harus kita anggap sebagai sesuatu yang wajar.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa karya sastra digital tidak berkualitas dibanding karya sastra cetak (koran, majalah maupun buku). Namun ada pula yang berpendapat bahwa karya sastra digital harus diperlakukan dengan adil, karena ini adalah dunia baru sebagai alternative bagi para sastrawan untuk mengungkapkan ide-ide, perasaan-perasaan, pemikiran-pemikiran, dan tanggapan-tanggapan mereka. Berbagai pendapat tersebut justru merupakan tantangan bagi para pegiat sastra siber untuk lebih meningkatkan kualitas karya-karya mereka.

*Gunoto Saparie adalah Ketua Umum Dewan Kesenian Jawa Tengah (DKJT. Jatengdaily.com–st

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *